Kisah Ulama Menunaikan Ibadah Haji, Bermukim dan Mengajar di Masjidil Haram

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 18 Juli 2021 07:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 18 337 2442356 kisah-ulama-menunaikan-ibadah-haji-bermukim-dan-mengajar-di-masjidil-haram-jMuVc7JIKK.jpg Syekh Nawawi Al Bantani.

Selama di Makkah dia belajar pada Syekh Abdurahman al-Misri, seorang ulama Mesir yang mengajar di Jakarta. Al-Misri mengawini salah satu putera Syekh Djunaid al-Betawi. Dia meninggal di Jakarta dan dimakamkan di Petamburan, Jakarta Barat.

Tokoh lainnya, Syekh Ahmad Ripangi (1786-1859), lahir di Kendal, Jawa Tengah, dan bermukim di Makkah selama delapan tahun. Setelah kembali ke Indonesia dia tidak mau tunduk pada pemerintah kolonial Belanda yang dianggapnya sering merugikan umat Islam.

Akibatnya, gubernur jenderal Hindia Belanda, tanggal 9 Mei 1859, mengasingkan dam memenjarakannya di Ambon. Dia dianggap membakar semangat nasional dengan azas Islam yang membahayakan pemerintah kolonial.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (1860-1916) juga seorang mukimin terkenal di Negeri Hijaz. Dia bermukim di Makkah selama 10 tahun dan merangkap sebagai guru besar di Masjidil Haram.

Dia menulis banyak buku. Di antara muridnya adalah KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Haji Abdul Karim Amarullah (ayah Buya Hamka), dan H Mahmud Ismail Djambek.

Di buku Biografi Ulama Nusantara: Syeikh Abdul Samad Al-Falimbani yang ditulis oleh Hidayah al-Salikin, dikisahkan Syekh Abdul Somad al-Falimbangi di Makkah berguru pada Syekh Mohammad Saman. Ia memiliki keahlian dalam bidang tauhid dan tasawuf. Di antara banyak tulisan hasil karyanya adalah Hidayat al Salihin.

Dalam salah satu bukunya ia menganjurkan agar kaum Muslim Indonesia berjihad di jalan Allah melawan penjajah Belanda. Anjuran itu tertuang dalam dua suratnya, masing-masing untuk Hamengkubuwono I dan Pangeran Singasari.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini