Kisah Ulama Menunaikan Ibadah Haji, Bermukim dan Mengajar di Masjidil Haram

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 18 Juli 2021 07:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 18 337 2442356 kisah-ulama-menunaikan-ibadah-haji-bermukim-dan-mengajar-di-masjidil-haram-jMuVc7JIKK.jpg Syekh Nawawi Al Bantani.

JAKARTA – Sejak abad ke-18 banyak ulama dari tanah air yang pergi ke kota suci Makkah. Mereka menjalankan ibadah haji. Karena perjalanan yang begitu sulit, setelah menunaikan rukun Islam kelima, banyak yang tidak kembali ke tanah air dan bermukim di Makkah.

Satu di antaranya adalah Syekh Nawawi Al Bantani. Ulama besar, penulis dan pendidik dari Banten, ini masih keturunan Maulana Hasanudin, pendiri Kerajaan Islam Banten.

BACA JUGA: Kisah 3 Santri, Sakit Gigi ke Singapura, dan Fungsi Humor Bagi Gus Dur

Dalam buku Sayyid Ulama Hijaz yang merupakan biografi Syekh Nawawi Al Bantani diceritakan bahwa Syekh Nawawi Al Bantani pergi ke Makkah pada usia 15 tahun dan bermukim di sana selama tiga tahun.

Di Makkah ia belajar pada beberapa orang syekh yang bertempat tinggal di Masjidil Haram. Seperti Syekh Ahmad Nahrawi, dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Di Madinah ia belajar pada Syekh Muhamad Khatib al-Hambali.

Setelah tiga tahun berada di Tanara, Banten, ia kembali ke Tanah Suci dan mengajar di Masjidil Haram.

Begitu banyaknya karya beliau di dunia Islam, hingga pemerintah Arab Saudi, Mesir dan Suriah, memberikan gelar kehormatan kepadanya Sayid Ulama Al-Hedjas, Mufti, dan Fakih.

BACA JUGA: Peristiwa 18 Juli: Nelson Mandela Lahir, Hitler Terbitkan Buku

Kelebihan Syekh Nawawi telah terlihat sejak kecil. Ia hafal Alquran pada usia 18 tahun. Sebagai seorang syekh ia menguasai seluruh cabang ilmu agama, seperti tafsir, ilmu tauhid, fikih, akhlak, tarikh dan bahasa Arab.

Ia menulis sekira 115 buah kitab, sedangkan sumber lain menyebut 99 buah kitab dari berbagai disiplin ilmu.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812) juga seorang mukiman di Arab Saudi yang terkenal, karena menulis buku fiqih Perukunan Melayu yang menjadi pegangan selama 200 tahun. Ia seorang tokoh ilmu fiqih, tasauf dan falak.

Selama di Makkah dia belajar pada Syekh Abdurahman al-Misri, seorang ulama Mesir yang mengajar di Jakarta. Al-Misri mengawini salah satu putera Syekh Djunaid al-Betawi. Dia meninggal di Jakarta dan dimakamkan di Petamburan, Jakarta Barat.

Tokoh lainnya, Syekh Ahmad Ripangi (1786-1859), lahir di Kendal, Jawa Tengah, dan bermukim di Makkah selama delapan tahun. Setelah kembali ke Indonesia dia tidak mau tunduk pada pemerintah kolonial Belanda yang dianggapnya sering merugikan umat Islam.

Akibatnya, gubernur jenderal Hindia Belanda, tanggal 9 Mei 1859, mengasingkan dam memenjarakannya di Ambon. Dia dianggap membakar semangat nasional dengan azas Islam yang membahayakan pemerintah kolonial.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (1860-1916) juga seorang mukimin terkenal di Negeri Hijaz. Dia bermukim di Makkah selama 10 tahun dan merangkap sebagai guru besar di Masjidil Haram.

Dia menulis banyak buku. Di antara muridnya adalah KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Haji Abdul Karim Amarullah (ayah Buya Hamka), dan H Mahmud Ismail Djambek.

Di buku Biografi Ulama Nusantara: Syeikh Abdul Samad Al-Falimbani yang ditulis oleh Hidayah al-Salikin, dikisahkan Syekh Abdul Somad al-Falimbangi di Makkah berguru pada Syekh Mohammad Saman. Ia memiliki keahlian dalam bidang tauhid dan tasawuf. Di antara banyak tulisan hasil karyanya adalah Hidayat al Salihin.

Dalam salah satu bukunya ia menganjurkan agar kaum Muslim Indonesia berjihad di jalan Allah melawan penjajah Belanda. Anjuran itu tertuang dalam dua suratnya, masing-masing untuk Hamengkubuwono I dan Pangeran Singasari.

Budayawan Betawi, Alwi Shahab dalam tulisannya menyebutkan bahwa ulama yang berasal dari Betawi bermukim di sana menggunakan Al Betawi sebagai nama keluarga.

Menjadi kebiasaan para pemukim ketika itu menjadikan nama kota asalnya sebagai nama keluarga. Misalnya, Syech Abdul Somad al Falimbani dari Palembang, Syech Arsyad Albanjari dari Banjarmasin, Syech Basuni Imran al Sambasi dari Sambas, dan Syech Nawawi al Bantani dari Banten.

Pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syech Junaid, seorang ulama Betawi, mulai bermukim di Mekah. Ia pun memakai nama al-Betawi.

Ia amat termashur karena menjadi imam di Masjidil Haram. Syech Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram.

Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syech kelahiran Pekojan, Jakarta Barat ini.

Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini