KPK Perpanjang Penahanan Advokat yang Bantu Eks Penyidik KPK Terima Suap

Antara, · Jum'at 16 Juli 2021 22:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 337 2441938 kpk-perpanjang-penahanan-advokat-yang-bantu-eks-penyidik-kpk-terima-suap-jSiERmTHBI.jpg Maskur Husain. (Foto: Antara)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan advokat Maskur Husain yang merupakan tersangka dalam kasus dugaan suap penanganan perkara di Pemkot Tanjungbalai. 

Plt Jubir KPK, Ipi Maryati menjelaskan, masa penahanan Maskur diperpanjang selama 30 hari ke depan, terhitung sejak 22 Juli 2021.

"Perpanjangan penahanan dilakukan untuk 30 hari ke depan berdasarkan penetapan kedua dari Ketua Pengadilan pada PN Jakarta Pusat, terhitung 22 Juli 2021 sampai dengan 20 Agustus 2021 di Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur," ujar Ipi dalam keterangannya, Jumat (16/7/2021).

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tiga orang tersangka, yakni penyidik nontaktif KPK AKP Stepanus Robin Pattuju (SRP), Wali Kota Tanjung Balai periode 2016-2021 M Syahrial (MS) dan Maskur Husain (MH). 

Baca juga: Edhy Prabowo Divonis 5 Tahun Penjara, Ini Respon KPK

Diduga Robin bersama Maskur sepakat untuk membuat komitmen dengan Syahrial terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai untuk tidak ditindaklanjuti oleh KPK, dengan menyiapkan uang sebesar Rp1,5 miliar. 

"MS menyetujui permintaan SRP dan MH tersebut dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali, melalui rekening bank milik RA (Riefka Amalia), teman dari saudara SRP dan juga MS memberikan uang secara tunai kepada

SRP hingga total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp1,3 miliar," ungkap Ketua KPK Firli Bahuri. 

Setelah uang diterima, kata Firli, Stepanus kembali menegaskan kepada Maskur dengan jaminan kepastian bahwa penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK. 

Baca juga: Hakim Tolak Permohonan Justice Collaborator Rohadi

Atas perbuatan tersebut, SRP dan MH disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 dan Pasal 12B UU No. 31 Tahun 1999 UU No. 20 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan MS disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 UU No. 20 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Selain itu, Dewas KPK memutuskan penyidik KPK AKP Stepanus Robin Pattuju diberhentikan dengan tidak hormat, karena terbukti melakukan pelanggaran kode etik. Robin dianggap telah menerima suap sekitar Rp1,6 miliar.

Suap itu diterima dari Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial untuk menutup pengusutan perkara korupsi dugaan jual beli jabatan di Pemerintah Kota Tanjungbalai. Padahal, kasus jual beli jabatan di lingkungan Pemkot Tanjungbalai itu masih berstatus penyelidikan. 

"Menghukum terperiksa dengan sanksi berat berupa diberhentikan tidak dengan hormat sebagi pegawai KPK," kata Ketua Dewas KPK Tumpak Hatorangan Panggabean. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini