Peneliti LIPI Kembangkan Sivenesia, Ventilator 2 Mode Operasi untuk Penanganan Covid-19

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 16 Juli 2021 20:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 337 2441875 peneliti-lipi-kembangkan-sivenesia-ventilator-2-mode-operasi-untuk-penanganan-covid-19-w8zWXZsBkD.jpeg Peneliti LIPI kembangkan ventilator Sivenesia. (LIPI)

JAKARTA – Peneliti Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Joni Pristianto beserta tim tengah mengembangkan Sivenesia (Smart Innovative Ventilator Indonesia) yakni ventilator dengan dua mode operasi, CPAP dan BiPAP.

Mode CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) merupakan ventilator yang menghasilkankan satu level tekanan udara positif yang konstan dan terus-menerus diberikan kepada pasien dengan tujuan supaya saluran pernapasan pasien tetap terbuka.

Sedangkan mode BiPAP (Bi-level Positive Airway Pressure) merupakan ventilator yang dapat menghasilkan dua level tekanan udara positif yang berbeda, yaitu pada saat menarik napas (inspirasi) dan saat mengembuskan napas (ekspirasi), sehingga lebih nyaman digunakan pasien karena akan mengikuti ritme pernapasan dengan tetap terjaga tekanan di akhir napas atau PEEP (Positive end-expiratory pressure) yang diperlukan.

Menurut Eko, ventilator dengan mode CPAP dan BiPAP ini biasanya disarankan oleh dokter untuk pasien penderita sleep apnea (gangguan tidur serius), yaitu gejala di mana sistem pernapasan pasien akan berhenti beberapa saat selama tidur. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan kualitas tidur menjadi buruk. Mode ventilator CPAP atau BiPAP ini merupakan mode pada ventilator yang bekerja berdasarkan tekanan (pressure based), yang bertujuan mencegah tersumbatnya jalan napas seperti gejala yang banyak dialami penderita Covid-19 serta untuk melatih otot-otot pernapasan sebelum pasien bisa bernapas secara normal.

“CPAP dan BiPAP ini tergolong dalam sistem pengobatan non-invasif (tanpa pembedahan) yang paling efektif dan merupakan pilihan pertama serta paling banyak digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan pernapasan,” tutur Eko dalam siaran pers yang diterima, Jumat (16/7/2021).

Eko menjelaskan, tujuan penggunaan ventilator ini adalah menjaga supaya saluran pernapasan pasien tetap terbuka, sementara perbedaan mendasar dari mode CPAP dan BiPAP ini adalah masalah kenyamanan saat pasien bernapas. Pada mode CPAP, ventilator akan bekerja dengan memberikan aliran udara bertekanan positif secara terus-menerus (konstan) melalui selang ke hidung dan atau melalui mulut. Hal ini bisa menyebabkan kelelahan (tidak nyaman) pada pasien terutama saat proses mengembuskan napas, pasien harus menggunakan lebih banyak tenaga atau kekuatan untuk melawan tekanan tersebut.

Baca Juga : WNI dan WNA Karantina Berhak Banding Hasil Tes Usap Covid-19, Begini Caranya

Masalah ini akan sangat terasa menggangu terutama bagi pasien-pasien tertentu yang memiliki penyakit neuromuscular (kelompok gangguan ekstensif yang ditandai dengan adanya perubahan motorik yang dihasilkan oleh cedera atau gangguan syaraf). Sementara untuk mode BiPAP, ventilator jenis ini akan pemberian tekanan yang berbeda pada saat pasien bernapas (inpirasi) dan pada saat pasien menghembuskan napas (expirasi) sehingga pasien akan lebih nyaman dalam bernapas dengan tetap terjaga tekanan PEEP yang diperlukan.

“Karena ventilator ini merupakan peralatan medis yang berfungsi sebagai alat bantu pernapasan, penggunaan ventilator mode ini harus dengan saran, petunjuk dan pantauan dokter,” ucapnya.

Sivenesia telah melalui serangkaian tahapan pengujian di antaranya pengujian skala laboratorium sebagai tahap awal pengujian. Pengujian menitikberatkan kepada masalah teknis dengan mengacu pada standar yang telah ditetapkan.

“Kemudian, uji fungsi telah kami lakukan di Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan RI dan telah lulus uji serta mendapat sertifikasi dengan nomor YK.01.03/XLVIII.2/PK/2021 (025 untuk CPAP & 026 untuk BiPAP) Uji fungsi ini meliputi serangkaian pengujian seperti kinerja sistem (performance), ketahanan sistem (endurance) dan keamanan kelistrikan selama 21 hari tanpa berhenti. Tahap selanjutnya, kami akan melakukan uji klinis Sivenesia sebagai tahapan selanjutnya untuk mendapatkan izin edar sebagai wujud diseminasi hasil penelitian kami,” tutur Eko.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini