Cerita Soeharto soal Bisikan Dukun Sebelum Ambil Keputusan

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 17 Juli 2021 07:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 337 2441544 cerita-soeharto-soal-bisikan-dukun-sebelum-ambil-keputusan-3nQpnPbr5Q.jpg Soeharto. (Foto: Sindonews)

JAKARTA - Presiden kedua Indonesia, Soeharto dikenal sebagai sosok yang unik. Salah satunya adalah terkait gosip cara dirinya mengambil keputusan.

"Ada orang yang bercerita lain daripada yang sebenarnya terjadi mengenai diri saya. Ada orang yang mengatakan, bahwa saya menunggu ‘bagaimana bisikan dukun’ sebelum saya mengambil keputusan mengenai masalah-masalah yang saya hadapi. Biarkan saja orang yang berpikir demikian itu akan kecewa," kata Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

Soeharto menjelaskan, sebenarnya pegangannya adalah ‘cipta, rasa, karsa’. Dia mengaku mempergunakan kelengkapan hidup yang diberikan Tuhan kepada, yakni panca indera kita, untuk mempertajam cipta, rasa, karsa itu.


Baca juga: Pasien Covid-19 di RSDC Wisma Atlet Berkurang Jadi 6.191


Baca juga: Terpapar Covid-19, Sekretaris Dinkes Kabupaten Bogor Meninggal Dunia

Memang tanggapan setiap masing-masing terhadap sesuatu hal berbeda-beda. Pendengaran bisa berbeda, penglihatan pun bisa berbeda pula. Sebab itu, dilihat secara taktik dan strategi perang, keterangan militer saja masih merupakan suatu yang mentah, keterangan tadi perlu diolah lagi menjadi keterangan intelijen. Keterangan intelijen inilah yang merupakan sesuatu yang sudah matang, yang sudah dipercaya, sudah bisa dipakai sebagai ukuran.

"Begitupun mengenai apa-apa yang kita dengar, apa-apa yang kita lihat, apa-apa yang kita raba. Semua itu mesti kita kumpulkan sehingga merupakan bahan untuk diolah, dimasukkan dalam ‘komputer’ kita, dalam ‘cipta’ kita. Lalu endapkan itu semua, rasakan. Kalau kita sudah merasakannya cocok, kalau sudah ‘rasa’ mengatakan cocok, maka dengan sendirinya akan timbul ‘krentek’, niat. Maka setelah itu saya mengemukakan pilihan, dan saya mengambil keputusan," jelas dia.

"Teorinya begitu, semua orang bisa. Tetapi sesungguhnya, latihannya adalah yang utama. Kalau kita menghadapi kesulitan, sebaiknya segala itu kita kembalikan kepada Tuhan. Kita kembalikan kepada-Nya untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Tentu saja dengan sembahyang adalah lebih baik. Tetapi yang penting adalah bahwa setiap saat, di mana pun kita sedang berada, kita harus ingat kepada-Nya, kepada Tuhan Maha Pencipta," lanjut Soeharto. 
Dalam pada itu, Soeharto melanjutkan, manusia patut tetap menggunakan alat kelengkapan hidup yang diberikan Tuhan. Kemudian manusia menyaring semua keterangan dan pendapat-pendapat yang datang dari luar. Lantas tentukan beberapa alternatif sebelum mengambil keputusan.
"Kita pilih yang paling baik di antara alternatif-alternatif yang ada itu. Dengan begitu tidak berarti kita harus bersemedi, atau “ngobong menyan” dan sebagainya. Gunakan rasio kita. Pakai otak kita. Gunakan rasa kita. Gunakan panca indera kita. Kalau dalam perang kita masih mencari dukun, kita bisa. mati ditembak duluan. Tetapi memang dalam hal ini latihan diperlukan," jelas Soeharto. 

"Teorinya begitu, semua orang bisa. Tetapi sesungguhnya, latihannya adalah yang utama. Kalau kita menghadapi kesulitan, sebaiknya segala itu kita kembalikan kepada Tuhan. Kita kembalikan kepada-Nya untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Tentu saja dengan sembahyang adalah lebih baik. Tetapi yang penting adalah bahwa setiap saat, di mana pun kita sedang berada, kita harus ingat kepada-Nya, kepada Tuhan Maha Pencipta," lanjut Soeharto

Dalam pada itu, Soeharto melanjutkan, manusia patut tetap menggunakan alat kelengkapan hidup yang diberikan Tuhan. Kemudian manusia menyaring semua keterangan dan pendapat-pendapat yang datang dari luar. Lantas tentukan beberapa alternatif sebelum mengambil keputusan.

"Kita pilih yang paling baik di antara alternatif-alternatif yang ada itu. Dengan begitu tidak berarti kita harus bersemedi, atau “ngobong menyan” dan sebagainya. Gunakan rasio kita. Pakai otak kita. Gunakan rasa kita. Gunakan panca indera kita. Kalau dalam perang kita masih mencari dukun, kita bisa. mati ditembak duluan. Tetapi memang dalam hal ini latihan diperlukan," jelas Soeharto. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini