Kisah Ratu Belanda Juliana Bersahabat dengan Sultan Hamengkubuwono IX, Satu Kampus di Leiden

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 16 Juli 2021 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 337 2441428 kisah-ratu-belanda-juliana-bersahabat-dengan-sultan-hamengkubuwono-ix-satu-kampus-di-leiden-sEvir7Sh23.jpg Sultan HB IX. (Foto: kratonjogja.id)

DALAM website resmi Kerajaan Belanda, https://www.koninklijkhuis.nl/english yang dikutip wikipedia, diceritakan Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau (lahir di Den Haag, 30 April 1909 – meninggal di Baarn, 20 Maret 2004 pada umur 94 tahun) adalah Ratu Kerajaan Belanda dari 6 September 1948, sampai tanggal 30 April 1980, ulang tahunnya ke-71, ketika putrinya, Beatrix naik tahta.

Juliana menikah dengan Bernhard dari Lippe Biesterfeld, seorang bangsawan Jerman, pada tanggal 7 Januari 1937 dan mendapatkan empat anak, Beatrix (1938), Irene (1939), Putri Margriet (1943), dan Marijke (1947) yang namanya kemudian diganti menjadi Christina.

Ratu Juliana naik takhta menggantikan ibunya, Ratu Wilhelmina, antara tahun 1947 – 1948. Pada 27 Desember 1949, ialah yang secara resmi menyerahkan kedaulatan Hindia Belanda kepada ketua delegasi Indonesia, Mohammad Hatta, dalam pertemuan di Istana Dam, Amsterdam.

Ratu Juliana pernah ke Indonesia pada tahun 1971 sambil membawa "oleh-oleh", antara lain naskah manuskrip Kakawin Nagarakretagama. Naskah lontar ini berasal dari Lombok dan sampai ke Belanda karena dijarah oleh KNIL pada tahun 1894, sewaktu tentara Belanda menaklukkan Lombok.

Baca jgua: Kisah Penemuan Kembali Candi Borobudur yang Tersembunyi di Hutan Belantara

Pada 30 April 1927, Putri Juliana merayakan ulangtahunnya yang ke delapan belas. Pada tahun yang sama, sang Putri masuk sebagai murid di Universitas Leiden. 

Pada tahun pertamanya masuk universitas, dia menghadiri kuliah di sosiologi, jurisprudensi, ekonomi, sejarah agama, sejarah parlementer dan hukum konstitusional. Di tengah masa pendidikannya dia juga masuk kelas tentang budaya Suriname dan Antillen Belanda, Piagam Kerajaan Belanda, hukum internasional, bidang internasional, sejarah, dan hukum Eropa.

Dia juga diajar privat oleh C. Snouck Hurgronje dalam agama Islam yang diamalkan oleh kebanyakan orang di Koloni Belanda.

Sementara itu kisah Sri Sultan Hamengku Buwono IX diceritakan di website https://www.kratonjogja.id/raja-raja/10/sri-sultan-hamengku-buwono-ix.

Baca juga: Kisah Bung Karno Pinjam Uang untuk Beli Rambutan dan Menikahkan Anak

Gusti Raden Mas Dorojatun, demikian nama yang disandang beliau ketika kecil. Dilahirkan pada tanggal 12 April 1912, beliau adalah anak kesembilan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dari istri kelimanya, Raden Ajeng Kustilah atau Kanjeng Ratu Alit.

Masa muda GRM. Dorojatun dihabiskan di luar lingkungan keraton. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menitipkan beliau ke pasangan Belanda. Semenjak berusia 4 (empat) tahun, beliau dititipkan di rumah keluarga Mulder, seorang kepala sekolah NHJJS (Neutrale Hollands Javanesche Jongen School).

Pihak keluarga Mulder diberi pesan supaya mendidik GRM Dorojatun layaknya rakyat biasa. GRM Dorojatun diharuskan hidup mandiri, tanpa didampingi pengasuh. Nama keseharian beliaupun jauh dari kesan bangsawan keraton. Di keluarga ini, beliau dipanggil sebagai Henkie (henk kecil).

Masa-masa sekolah beliau jalani di Yogyakarta, mulai dari Frobel School (taman kanak-kanak), lanjut ke Eerste Europe Lagere School B yang kemudian pindah ke Neutrale Europese Lagere School. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, beliau melanjutkan pendidikan ke Hogere Burgerschool di Semarang dan Bandung.

Jenjang pendidikan HBS belum tuntas ditempuh ketika ayahanda memutuskan mengirim beliau bersama beberapa saudaranya, ke Belanda. Setelah menyelesaikan Gymnasium beliau melanjutkan pendidikan di Rijkuniversitet di Leiden. 

Di sini Beliau mendalami ilmu hukum tata negara, sambil aktif mengikuti klub debat yang dipimpin Profesor Schrieke. Pada masa pendidikan di Belanda ini pula Beliau berkenalan dan kemudian menjadi sahabat karib Putri Juliana yang kelak akan menjadi Ratu Belanda.

Dalam buku ‘Djocjakarta: Mereka (Pernah) di Sini Des 1948-Juni 1949’ karya Wawan Kurniawan Joehanda yang mengutip tulisan George T Kahin , Sultan HB IX menanggapi dingin kedatangan Belanda. 

Awalnya setelah Yogya dikuasai Belanda, Sultan HB IX sempat memasang perintang di depan gerbang keraton. Sultan menolak ditemui Jenderal Meyer, komandan militer Belanda setempat dan para pejabat sipil Belanda lainnya.

Lalu Jenderal Spoor sebagai Legercommandant pasukan Belanda datang dengan mengendarai Tank (ringan) Stuart menuju pintu gerbang keraton dan mengancam akan menerobos masuk.

Melihat ancaman Spoor di atas tank membuat Sultan HB IX sedikit melunak. Tapi meminta Spoor turun dari tank untuk jalan kaki dari depan gerbang masuk ke keraton, agar bisa bicara baik-baik. 

Spoor menawarkan “kerjasama” dengan menjanjikan banyak hal buat Sultan HB IX. Namun ditolak oleh Sultan HB IX .

Jenderal Belanda itu segan dengan Sri Sultan. HB IX memang dekat dengan keluarga Kerajaan Belanda, Sri Sultan selama ini dikenal pernah punya tanda kehormatan Ordo Oranje-Nassau. 

Sri Sultan juga tercatat dan terdokumentasi foto tahun 1940, di mana beliau memiliki seragam militer Commandeur in de Orde van Oranje-Nassau dengan pangkat (tituler) Mayor Jenderal. 

Selain itu Ratu Juliana berpesan, tentara Belanda jangan sampai menyentuh Sultan Jogja Hamengkubuwono IX dan istananya. Kerajaan Belanda berpendapat bahwa keraton Yogyakarta dianggap terpisah dari RI yang merupakan “negara merdeka”.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini