Kisah Cinta Damarwulan dan Kencono Wungu, Syaratnya Bawa Kepala Minak Jinggo

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 16 Juli 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 337 2441425 kisah-cinta-damarwulan-dan-kencono-wungu-syaratnya-bawa-kepala-minak-jinggo-ALdcEWuRnJ.jpg Ilustrasi wayang Damarwulan (foto : Istimewa/banyuwangi.club)

MASYARAKAT Dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan menyebut sebuah candi dengan nama Candi Minak Jinggo. Dalam cerita tutur, diceritakan Candi Minak Jinggo terkait dengan kisah peperangan Minak Jinggo dengan Damar Wulan.

“Candi ini diduga juga sebagai tempat ditanamnya kepala Minak Jinggo,” ujar Dimas Cokro, seorang spiritualis asal Jombang.

Pada saat itu, pemerintahan Majapahit terbagi menjadi dua yakni Majapahit Brangwetan dan Majapahit Brangkulon. Majapahit Brangwetan dikuasai oleh Bhre Wirabumi atau Minakjinggo yang merupakan adipati Blumbung yang terletak di Blambangan.

Sementara itu, Brangkulon dikuasai oleh Gusti Putri Kencono Wungu yang merupakan putri dari Hayam Wuruk. Dalam menyatukan Majapahit, Minak Jinggo mempuyai keinginan untuk menyunting Kencono Wungu.

Tetapi Gusti Putri Kencono Wungu menolak permintaan Adipati Blambangan untuk menjadi pendamping hidupnya.

Pada suatu malam, Kencono Wungu mendapat wahyu bahwa ada seorang pemuda yang pekerjaannya mencari rumput yang sanggup mengalahkan Minak Jinggo.

Saat itu, Patih Lohgender menerima keponakannya sendiri yang bernama Damarwulan untuk mengabdi di Kepatihan. Maka Patih Lohgender menempatkan Damarwulan sebagai pekerja perawat kuda sekaligus pencari rumput. Patih Lohgender mempunyai seorang Putri Anjasmoro dan dua kakak kembar bernama Layang Seto dan Layang Kumitir.

Sehubungan dengan adanya wahyu yang diterima Kencono Wungu tentang adanya seorang satria pencari rumput untuk memecahkan masalah dengan Bhre Wirabumi, maka Raden Damarwulan diberi tugas untuk menyingkirkan Adipati Blumbang.

Baca Juga : Keraton Majapahit di Desa Kedaton atau Sentonorejo Trowulan?

Atas perintah Kencono wungu maka Damar Wulan menyerang Minak Jinggo di Blambangan dengan sabdo apabila Reden Damarwulan dapat memusnahkan Adipati Blambangan, maka akan menjadi pendamping hidup Kencono Wungu untuk pemerintahan Kerajaan Majapahit di era Brawijaya V.

Akan tetapi, Anjasmoro putri Lohgender juga ingin diperistri Damar Wulan. Maka sebelum Damar Wulan melaksanakan tugas untuk menyerang Blambangan, terlebih dulu dinikahkan dengan Anjasmoro.

Sesampainya di Tlatah Blambangan, Damar Wulan hampir saja kalah dengan Minak Jinggo. Namun, atas pertolongan selir kembar dari Adipati Blumbung yang bernama Waito dan Puyengan hingga akhirnya Minak Jinggo mampu dikalahkan. Hanya saja, selir kembar tersebut meminta syarat kepada Damarwulan untuk menikahinya.

Maka sebagai bukti atas kemenangannya, maka Damarwulan membawa kepala Minak Jinggo sebagai persembahan kepada Putri Kencono Wungu. Maka hingga saat ini di desa Unggahan, kecamatan Trowulan ada petilasan Minak Jinggo.

Seketika itu Raden Damar Wulan jumeneng menjadi raja Majapahit bergelar Brawijaya V didampingi permaisuri Kencono Wungu.

Dalam perjalanannya Raden Damar Wulan mengambil seorang selir dari negara Campa bernama Putri Campa atau Putri Dwara Wati.

Putri Dwara Wati mempunyai keponakan dari negara campa bernama Raden Rahmat yang kemudian dipanggil ke Majapahit dan sekaligus diambil menantu oleh Brawijaya V dan setelah itu diberi tanah perdikah di Ujung Galuh (Surabaya).

Di akhir pemerintahan Damar Wulan juga mempunyai seorang selir dari negara China bernama Putri Kian atau Shio. Pada saat hamil tua diserahkan kepada Adipati Arya Dhamar di Palembang.

Kemudian lahirlah seorang putra bernama Raden Patah. Cikal bakal berdirinya kerajaan kesultanan Islam pertama di Jawa, di Demak Bintoro.

Meski beberapa kali dilakukan penggalian terhadap candi yang memiliki luas lahan sekitar 1,5 hektar ini, tetapi sampai saat ini belum juga dilakukan pemugaran.

Tak seperti candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit lainnya, Candi Minakjinggo memiliki ciri sendiri dalam bahan bangunannya.

Jika kebanyakan candi-candi peninggalan Majapahit terdiri dari satu bahan saja, apakah batu bata atau batu andesit, beda dengan Candi Minakjinggo, bahan bangunan merupakan rangkaian dari batu andesit dan batu bata.

Saat ini kondisinya berserakan. Beberapa benda kuno yang berhasil diangkat dari bangunan utama, juga terkesan terabaikan dan dibiarkan tercecer di luar bangunan utama candi. Benda-benda bersejarah ini, tertumpuk begitu saja seolah tak memiliki nilai apapun.

Kali pertama dilakukan penggalian tahun 1977 silam. Penggalian perdana di era penjajahan Belanda itu, ada beberapa patung raksasa yang berhasil ditemuan. Setelah itu, penggalian tak berlanjut. Bekas galian pun ditutup kembali. Dan tahun 2007 dilanjutkan kembali.

Penggalian kali kedua ini juga belum tuntas. Entah apa sebabnya. Sampai pada tahun 2010 lalu, kembali dilakukan penggalian. Namun, penggalian kali ketiga ini pun tak sampai kelar.

Beberapa benda kuno yang berhasil diangkat dari dalam candi, sebagian disimpan di BP3 Trowulan. Sementara benda-benda lainnya ditaruh tak jauh dari lokasi penggalian.

Meski sudah tiga kali dilakukan penggalian, namun Candi Minakjinggo belum bisa dilihat secara utuh. Bekas penggalian masih tampak berserakan. Sejauh ini, upaya pemugaran belum dilakukan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim yang ada di Trowulan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini