Kisah Ibu Amsi, Mertua Bung Karno yang Meninggal di Pangkuan Sang Proklamator

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 15 Juli 2021 07:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 15 337 2440860 kisah-ibu-amsi-mertua-bung-karno-yang-meninggal-di-pangkuan-sang-proklamator-rUlCKv4ICx.jpg Bung Karno.(Foto:Dok Okezone)

DALAM buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan, tanggal 12 Oktober adalah hari wafat ibu Amsi. Tepatnya 12 Oktober 1935, ibu dari Inggit Garnasih, ibu mertua proklamator Bung Karno wafat terserang malaria. Lima hari tergolek di tempat tidurnya, di rumah pengasingan Bung Karno di Ambugaga, Ende, Flores.

Hanya sekali ibu Amsi sadarkan diri, setelah itu tergolek tak sadar, hingga ajat menjemput. Ibu Amsi wafat di pangkuan Bung Karno, menantu kesayangan.

Ketika itu, cucu ibu Amsi, anak angkat Bung Karno – Inggit, Ratna Djuami juga terserang malaria. Bedanya, Omi, begitu ia dipanggil, pulih, sedangkan Tuhan menghendaki ibu Amsi wafat di tanah interniran, di tanah buangan, nun jauh dari Bandung.

Pemerintahan kolonial, karesidenan Ende, sama sekali tidak mau mengulurkan tangan untuk memberinya bantuan perawatan. Bahkan, setelah meninggal dunia pun, jenazahnya dilarang dikubur di dalam kota.

Baca Juga: Nama Gedung Sarinah Terinspirasi dari Pengasuh Bung Karno

Bung Karno dan kawan-kawannya, harus menggotong jenazah ibu Amsi jauh naik bukit, masuk ke tengah hutan. Ke tempat yang ditunjuk dan dibolehkan Belanda untuk memakamkan ibu Amsi.

Bung Karno pula yang turun ke dasar lahat, menerima jazad ibunda mertua, meletakkannya di tanah menghadapkannya ke arah kiblat, menutup dan mengurug.

Bukan hanya itu. Tangan Bung Karno sendiri yang memahatkan tulisan Iboe Amsi di dinding nisan sebelah utara. Bersama teman-temannya, Bung Karno naik ke pegunungan, mengambil bongkahan batu karst yang keras, dan memahatnya menjadi seukuran batako, kemudian meletakkannya di sekeliling-pinggir-atas permukaan nisan, jumlahnya 21.

(saz)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini