Soeharto Pilih Tinggal di Cendana Ketimbang Istana, Ini Alasannya

Tim Okezone, Okezone · Kamis 15 Juli 2021 06:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 14 337 2440497 soeharto-pilih-tinggal-di-cendana-ketimbang-istana-ini-alasannya-5jio0CXDJn.jpg Soeharto. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Presiden kedua Indonesia, Soeharto ternyata tidak tinggal di istana negara saat dirinya menjabat. Dirinya merasa lebih nyaman di rumah pribadinya yang berada di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta

"Saya memilih tinggal di Jalan Cendana No. 8, di daerah Menteng dan tidak pindah ke Istana Merdeka. Saya mengambil keputusan ini bukan karena tidak mau, melainkan demi kepentingan dan kebaikan keluarga," demikian penuturan Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982,

Dia melanjutkan, keputusan tidak tinggal di Istana ini untuk kepentingan anak-anak, agar tidak terpisahkan dari masyarakat.

Baca juga: Marak Konten Mesum, Ini Hukuman bagi Pembuat dan Penyebar Foto dan Video Porno


Baca juga: Cerita Soeharto Soal Taman Mini Indonesia Indah: Ini Cita-Cita Saya dan Istri

"Dalam pada itu saya sadar, sesuai dengan kedudukan saya, meski saya tinggal di rumah ini kebebasan kami tetap terbatas. Tetapi, pergaulan anak­anak saya tentu masih lebih bebas daripada kalau mereka tinggal di Istana," lanjut dia.

Mengenai Istana, Soeharto pikir, Istana Presiden bukan untuk Presiden saja. Gedung itu adalah Istana Negara, Istana Kepala Negara, milik rakyat.

"Saya tidak mengadakan perubahan besar di gedung itu. Tetapi memang saya perintahkan untuk mengatur isinya dan iklimnya sedemikian rupa sehingga benar-benar representatif sebagai Istana. Istri saya sangat teliti dalam mengaturnya," beber dia.

Pihaknya kerap mengadakan acara-acara yang terbuka sifatnya, yang bisa dilihat oleh orang banyak. Dengan begitu dimaksudkan, supaya rakyat merasa dekat. Pembelian cenderamata untuk keperluan Presiden dibeli oleh Rumah Tangga Kepresidenan yang ditunjang oleh anggaran.

Baca juga:  Cerita Soeharto Salat di Dalam Kakbah, Bingung Menghadap Mana

Kalau ada yang diterima dari negara sahabat; maka Soeharto tetapkan itu menjadi milik negara. Dan semuanya itu diinventarisasikan, dicatat, kecuali yang tidak bisa disimpan, seperti makanan, atau minuman.

"Barang-barang berharga, semuanya disimpan di museum khusus di Istana yang jadi tempat menyimpan cenderamata yang kita terima dan menggambarkan keseluruhan dari daerah mana dan negara mana," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini