Ritual Usir Flu Spanyol di Jawa, Arak Benda Pusaka, Sembelih Kerbau dan Minum Air Kelapa

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 14 Juli 2021 07:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 14 337 2440294 ritual-usir-flu-spanyol-di-jawa-arak-benda-pusaka-sembelih-kerbau-dan-minum-air-kelapa-j3xJMuA0mk.jpg Panji Kanjeng Kyai Tunggul Wulung yang diarak selama ritual menolak Flu Spanyol di Yogyakarta.

JAKARTA - Historia menuliskan, sejarawan Ravando Lie menyebut bahwa sekitar 1918 wilayah Tanah Air ikut dilanda wabah Flu Spanyol.

Di Hindia (kini Indonesia), pandemi itu terbawa masuk besar kemungkinan melalui jalur laut, entah lewat kapal penumpang ataupun kapal kargo.

Pemerintah Hindia Belanda mencatat, virus ini pertamakali dibawa oleh penumpang kapal dari Malaysia dan Singapura dan menyebar lewat Sumatera Utara.

BACA JUGA: PBNU: Sholat Ied dan Takbiran Idul Adha Boleh Digelar di Zona Hijau Covid-19

Investigasi polisi laut terhadap kapal penumpang Maetsuycker, Singkarah, dan Van Imhoff mendapati beberapa penumpang positif terjangkit virus tersebut. Virus bahkan menjangkiti seluruh penumpang dan awak kapal Toyen Maru yang baru tiba di Makassar dari dari Probolinggo.

Ketika virus itu mulai menyerang kota-kota besar di Jawa pada Juli 1918, pemerintah dan penduduk tidak memperhatikan.

Mereka tidak sadar virus tersebut akan menjalar dengan cepat dan mengamuk dengan sangat ganas. Terlebih, saat itu perhatian pemerintah lebih terfokus pada penanganan penyakit-penyakit menular lain seperti kolera, pes, dan cacar.

BACA JUGA: Mengupas Ritual Minum Darah, Makan Daging Mayat dan Sebar Pageblug Puja Bhairawa

Mayoritas penduduk bumiputra juga memiliki pandangan serupa terkait pandemi Flu Spanyol. Mereka meyakini bahwa penyakit itu disebabkan oleh hadirnya roh halus atau hantu dalam tubuh mereka.

“Langkah penanggulangan yang mereka lakukan otomatis pun difokuskan untuk mengusir hantunya, bukan si influenza-nya,” tulis Ravando dalam bukunya, Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia masa Kolonial 1918-1919.

Di Yogyakarta, pihak kraton memutuskan menggelar ritual arak-arakan melawan Flu Spanyol pada Desember 1918. Dalam ritual itu, berbagai benda pusaka kraton diarak mengelilingi kota.

Satu pusaka yang diperlakukan paling mewah kala itu adalah Panji Kyai Tunggul Wulung. Menurut sejarawan M.C. Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa, Bendera Kyai Tunggul Wulung merupakan salah satu pusaka Kraton Yogyakarta yang dianggap paling suci.

Bendara tersebut, kata Ricklefs, diaykini dibuat dari kain yang digantung di seputar makam Nabi Muhammad SAW. Di ujungnya, terdapat tombak pusaka bernama Kanjeng Kyai Slamet.

“Pusaka Kyai Tunggul Wulung ini sudah digunakan sejak masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1646) dan diwariskan secara turun-temurun ke raja-raja setelahnya. Sedari dulu, Panji Kyai Tunggul Wulung ini memang kerap digunakan dalam upacara atau ritual untuk menolak bala penyakit,” kata Ravando.

Warga Yogyakarta berbondong-bondong mengiringi perarakan pusaka tersebut. Dengan dipimpin rombongan ulama, warga terus memberikan doa dan bersolawat tiada henti sepanjang malam hingga pagi datang.

Siang harinya pihak kraton melakukan penyembelihan kerbau bule. Setelah acara ritual itu, pandemi Flu Spanyol mulai mereda di Yogyakarta. Masyarakat meyakini kondisi itu disebabkan oleh pusaka Kyai Tunggul Wulung yang menebar kesaktiannya.

Di Solo, Kasunanan Surakarta melakukan inisiasi untuk penanggulangan pandemi. Itu dilakukan setelah banyak dokter yang menolak memberi pertolongan.

Para dokter kekurangan personil, sementara tingkat penyebaran virus sudah semakin besar. Menghadapi persoalan itu, pemerintahan Surakarta mengeluarkan intruksi untuk menjalankan sebuah ritual yang diyakini dapat menjadi solusi menghadapi gelombang Flu Spanyol di wilayah tersebut.

Dalam ritual ala Kasunanan Surakarta mula-mula dipersiapkan alat-alat pendukung ritual, seperti bunga, kemenyan, dan kelapa muda yang diberi gula.

Kemudian kemenyan dibakar, sambil berdoa memohon keselamatan dari Sunan Lepen untuk seluruh sanak saudara dan keluarga, terutama kesehatan diri pribadi.

Setelah selesai, minum air kelapa muda. Minuman inilah yang dipercaya sebagai obat karena memberikan efek dingin kepada tubuh.

Namun alih-alih memberi kesembuhan, ritual itu justru menambah jumlah orang yang terpapar virus Flu Spanyol. Malah tidak sedikit orang yang terkena penyakit lain karena keliru dalam melakukan persiapan ritual.

Kondisi serupa juga terjadi kala Kraton Solo melakukan ritual menggunakan pusaka tombak “Kyai Slamet”. Pusaka yang diyakini sakti itu rupanya tidak memberikan perubahan berarti di Solo. Jumlah korban Flu Spanyol tetap tinggi.

Segala cara dicoba masyarakat untuk menghadapi virus itu. Di Parakan, Jawa Tengah, warganya kerap melakukan penyembelihan hewan seperti kambing atau sapi, yang kaki dan kepalanya ditanam di jalan-jalan utama.

Mereka meyakini cara tersebut dapat menghalau masuknya virus ke tempat mereka. Meski nyatanya cara itu tidak memberi hasil apa pun.

Sementara itu, warga Bangkalan yang percaya bahwa turunnya hujan dapat menghilangkan virus dari wilayahnya punya ritual tersendiri.

Ritual dilakukan dengan berkumpul untuk berdoa bersama-sama memohon turunnya hujan. Para pemuka agama dipercaya memimpin ritual pemanggilan hujan tersebut.

Menurut Ravando tidak dijelaskan apakah cara warga Bangkalan berhasil atau tidak, tetapi dari data pemerintah kolonial, angka mortalitas di sana tergolong rendah.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini