5 Kasus Penipuan dengan Hipnotis, Ada yang Nyamar Jadi WNA

Tim Okezone, Okezone · Selasa 13 Juli 2021 07:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 13 337 2439706 5-kasus-penipuan-dengan-hipnotis-ada-yang-nyamar-jadi-wna-9aHsEVK9bi.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

BANYAK kasus kejahatan dilakukan dengan beragam modus. Salah satunya adalah hipnotis atau sirep. Bahkan, kejahatan ini cukup sering terjadi dan merugikan korbannya hingga jutaan rupiah.

Berikut daftar kejadiann yang berhasil dirangkum tim Litbang MNC Portal:

1. Modus Hipnotis di Rumah Sakit

Pelaku hipnotis yang merupakan ibu dan anak, dengan inisial AI dan DS tega melakukan tindak kejahatan itu di rumah sakit di wilayah Jakarta Selatan pada 4 Mei 2021. Adapun peran AI adalah sebagai eksekutor dan DS sebagai penadah.

Ketika itu, korban berinisial IW ingin menuju ke rumah sakit. Kemudian, tersangka AI mendatanginya dan mengaku kenal dengan almarhum suami IW. Tersangka lantas ikut bersama korban ke rumah sakit.

Melansir berbagai sumber korban menuruti segala keinginan tersangka, termasuk solat dzuhur di musola rumah sakit. Saat itulah, korban meninggalkan tas nya dan digasak pelaku. Akibatnya, korban kehilangan telepon genggam dan uang tunai senilai Rp 6 juta. Setelah 2 bulan buron, para tersangka berhasil diringku dan terkena hukuman 363 KUHP dengan ancaman penjara 7 tahun.

2. Kejadian Hipnotis di Koja

Pelaku kejahatan hipnotis atau sirep diringkus kepolisian sektor Koja, Jakarta Utara pada Mei 2021. Polisi berhasil mengamankan 2 pelaku, sementara 2 pelaku lainnya masih buron. Salah satu pelaku, RP mengaku jika ia mempelajari ilmu hipnotis dari seorang tukang obat di Semarang, Jawa Tengah.

Setelah mempelajari ilmu itu selama beberapa bulan, tersangka bisa melakukan kejahatan hipnotis kepada korbannya.

Tersangka ditahan setelah melakukan hipnotis kepada seorang pengendara sepeda motor di keluarahan Tugu Selatan, kecamatan Koja. Setelah berhasil memepet korban, tersangka berpura-pura menanyakan alamat dan memberikan sebuah batu kepada korban dan dipercaaa bisa membuat kebal. Kemudian, tersangka menyuruh korban untuk berjalan sejauh 7 langkah. Ketika itu, korban baru sadar dan melihat sepeda motornya sudah raib.

Baca Juga : 4 Peristiwa "Bang Jago" Tantang Prajurit TNI

3. Menyamar Jadi WNA

AS, pria asal Koja, Jakarta Utara ditangkap Resmob Satreskrim Polrestabes Bandung karena melakukan penipuan dengan modus hipnotis kepada korbannya, AN di Bandung. Dilansir dari iNews.id, kejadian tersebut terjadi pada 14 November 2020 pukul stengah 8 pagi. Ketika itu, AS dan 4 tersangka lain berpura-pura menanyakan alamat sebuah mal di kota itu dan mengaku sebagai warga negara Brunei Darussalam. Tujuannya, mereka ingin menjual 200 unit telepon genggam yang dibawa dari Brunei, dengan harga miring Rp1 juta per unit.

Sesampainya di sana, para tersangka mengaku tidak bisa bertransaksi karena rekening yang dimilikinya adalah milik bank di Brunei. Jadi, mereka meminjam rekening korban untuk bertransaksi. Korban diiming-imingi imbalan sebesar 20% dari total pembayaran. Setelah mengajak korban ke ATM, tersangka menukar kartu ATM korban dan meminta pinnya.

Korban lalu ditinggalkan begitu saja. Korban pun sama sekali tak menaruh curiga kepada para tersangka dan menuruti segala perintahnya. Jika ditotal, korban menderita kerugian hingga Rp 58,7 juta. Sementara itu, 3 tersangka lain masih buron.

4. Kejadian Hipnotis di Banjarmasin

Kasus kejahatan dengan hipnotis selanjutnya terjadi di Banjarmasin, sekitar bulan November 2020 lalu dan menggasak perhiasan emas milik seorang wanita dengan inisial RS. Ketika itu, tersangka, MG, menghampiri kediaman korban dengan berpura-pura menanyakan kontrakan.

Selain itu, tersangka juga menawarkan jasa pijat kepada korban. Tanpa disadari, korban menyerahkan perhiasan emas yang ia punya senilai Rp 26 juta.

5. Kasus Penipuan dengan Hipnotis di Lubang Buaya

Beragam modus yang digunakan dalam kejahatan hipnotis memang ada. Salah satunya menyasar S, seorang pedagang sayur di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Ia menjadi korban hipnotis dengan modus mendapat bantuan UMKM pada November 2020.

Ketika itu, S didatangi seorang wanita berpakaian rapi dan mengaku sebagai anak ketua RW yang akan mendata penerima bantuan. S yang awalnya tidak percaya, lantas berhasil membaur dalam obrolan bersama tersangka dan mengikuti perkataan tersangka. Demi mendapatkan bantuan itu, S harus memberikan dana sebesar Rp3 juta untuk petugas kelurahan, agar bantuannya cepat cair.

Setelah uang itu diberikan, pelaku memerintahkan S untuk masuk ke rumahnya dan berganti pakaian. Nahas, saat S kembali ke luar, pelaku sudah pergi dan membawa kabur uangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini