Tak Percaya Covid-19, Dokter Lois Ternyata Sudah Tak Aktif di IDI dan STR Habis 2017

Ari Sandita Murti, Sindonews · Senin 12 Juli 2021 21:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 12 337 2439627 tak-percaya-covid-19-dokter-lois-ternyata-sudah-tak-aktif-di-idi-dan-str-habis-2017-IQTpPxB5oW.jpg Dr Lois Owien. (Foto: Ari Sandita)

JAKARTA - Dr Lois Owien membuat heboh masyarakat karena mengaku tidak percaya akan Covid-19. Ia juga melontarkan pernyataan bahwa korban yang meninggal dunia bukan karena virus corona, melainkan interaksi obat-obatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.

Akibatnya, Minggu 11 Juli 2021, dr Lois ditangkap penyidik Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya. Kini, kasus itu dilimpahkan atau ditangani oleh Bareskrim Polri.

Baca juga: Usai Diperiksa di Polda Metro, Dokter Lois Dibawa ke Mabes Polri

Terkait hal ini, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bereaksi. Ketua Umum PB IDI, dr Daeng M Faqih mengungkapkan bahwa keanggotaan dr Lois di IDI sudah kadaluwarsa.

Selain itu, Surat Tanda Registrasi (STR) dr Lois juga sudah berakhir sejak 8 Januari 2017 dan tidak aktif sampai saat ini. “Hal ini berarti sejak saat itu tidak memiliki hak untuk praktek kedokteran lagi,” ujar dr Daeng dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Senin (12/7/2021).

Dr Daeng mengatakan, seorang dokter dalam negara demokratis bisa memiliki pandangan tentang ilmu kedokteran. Namun seharusnya hanya menyampaikan pandangan-pandangan keilmuan dan pandangan tentang praktik kedokteran pada forum-forum yang sesuai dan pantas. 

Baca juga: Zona Merah di Jateng Berkurang, Kota Semarang Masih Tertinggi Kasus Covid-19

“Yaitu forum kedokteran dan kesehatan, bukan di forum publik secara tidak bertanggung jawab yang dapat mengganggu keseimbangan pandangan umum, stabiliasasi negara, kebijakan pemerintah dan kebijakan publik untuk kepentingan umum,” ujar dr Daeng.

Dia menegaskan bahwa dr Lois telah menyampaikan pandangan-pandangan kedokteran yang tidak berdasarkan mainstream keilmuan. Selain itu, pendapat itu disampaikan lewat saluran komunikasi publik yang tidak tepat dan dapat memancing keonaran pendapat di masyarkaat. 

“Mengingat kepentingan publik saat pandemi ini menjadi sangat utama, maka disarankan kepada pihak-pihak yang berwenang atau berkepintangan termasuk keluarga, kawan dan kerabat untuk melakukan pencegahan, mengingat apa yang dilakukan dr. Lois dapat merugikan kepentingan umum sehingga potensial berdimensi pelanggaran hukum,” ucapnya. 

Atas dasar itulah, ujar dr Daeng, PB IDI menyarankan dokter yang memiliki pandangan berbeda dengan kebijakan umum, baik global maupun nasional, untuk menyampaikannya lewat forum keilmuan di organisasi profesi. 

“IDI mengimbau seluruh dokter dalam aktivitasnya untuk selalu menjunjung tinggi sumpah dokter Indonesia dan Kode Edit Kedokteran Indonesia,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini