Pandemi Covid-19 Bisa Berubah Jadi Endemi, Begini Penjelasannya!

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 10 Juli 2021 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 10 337 2438698 pandemi-covid-19-bisa-berubah-jadi-endemi-begini-penjelasannya-lImkcW4gYM.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pandemi Covid-19 tidak menutup kemungkinan berubah menjadi endemi. Hal tersebut terungkap dari hasil survei serologi di Ibu Kota.

Untuk itu diperlukan strategi penanganan pandemi secara cepat dan signifikan untuk jangka pendek. Tidak hanya itu, antisipasi jangka menengah dan panjang juga perlu disiapkan degan matang.

“Vaksinasi memang dapat menekan risiko perawatan di rumah sakit dan risiko kematian walaupun tidak bisa sepenuhnya menghentikan penularan,” ujar pakar epidemiologi dari Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono dalam keterangan tertulis Separuh Penduduk Jakarta Terdeteksi memiliki antibodi Covid-19, Hasil Survei Serelogi Kolaborasi Dinkes DKI Jakarta dan Lembaga Kesehatan, Sabtu (10/7/2021).

Baca juga: Diusap Ardi Bakrie, Nia Ramadhani Terisak Minta Maaf


Baca juga: Update Corona 10 Juli 2021: Positif 2.491.006 Orang, Sembuh 2.052.109, Meninggal 65.457

Langkah 3T (Testing, Tracing, Treatment) harus diperkuat pemerintah agar dapat mengendalikan pandemi ini, selain terus melakukan percepatan vaksinasi untuk semua warga. Namun, masyarakat juga harus terbiasa untuk mampu menilai risiko dan menjaga pola hidup sehat dengan kebiasaan 5M agar siap berkegiatan secara produktif di tengah ancaman jangka panjang endemi Covid-19 dan tentu segera vaksinasi.

Ironisnya, dari hasil survei menunjukkan bahwa hampir separuh penduduk Jakarta pernah terinfeksi Covid-19, terbanyak pada usia 30-49 tahun. Infeksi pada kelompok perempuan lebih tinggi (47,9%) dan kelompok yang belum kawin lebih rendah risiko terinfeksi (39,8%).

“Penduduk di wilayah padat penduduk lebih rentan terinfeksi Covid-19 (48,4%). Semakin meningkat indeks massa tubuh, semakin banyak juga yang terinfeksi, dalam hal ini kelebihan berat badan (52,9%) dan obesitas (51,6%). Orang dengan kadar gula darah tinggi juga lebih berisiko,” paparnya.

Menurutnya, prevalensi penduduk yang pernah terinfeksi adalah sebesar 44,5% dengan estimasi warga yang pernah terinfeksi adalah 4.717.000 dari total penduduk Jakarta sebanyak 10.600.000 orang.

“Kekebalan komunal di Jakarta akan lebih sulit tercapai karena Jakarta adalah kota terbuka dengan mobilitas intra dan antarwilayah yang tinggi. Konsekuensinya, semua penduduk yang beraktivitas di Jakarta, baik warga Jakarta maupun pendatang, harus memiliki kekebalan (telah tervaksinasi) yang dapat mengatasi semua varian virus,” tuturnya.

Dari survei tersebut terlihat, dari jumlah estimasi warga yang pernah terinfeksi, hanya 8,1% yang terkonfirmasi. Sebagian besar yang pernah terinfeksi, tidak terdeteksi. Selain itu, sebagian besar yang pernah terinfeksi, baik terdeteksi maupun tidak terdeteksi, tidak pernah merasakan gejala.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini