Kisah Pangeran Diponegoro Bertapa di Gua, Dapat Bisikan dari Sunan Kalijaga

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 10 Juli 2021 06:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 10 337 2438488 kisah-pangeran-diponegoro-bertapa-di-gua-dapat-bisikan-dari-sunan-kalijaga-UdwmMcrCki.jpg Ilustrasi wajah Pangeran Diponegoro (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Joseph Osdar, wartawan Kompas, dalam tulisannya "Memasuki Alam "Gaib" Diponegoro" menceritakan pengalaman Peter Carey menginap di gua Selarong. Sebuah gua yang sering digunakan Pangeran Diponegoro bertapa, bersemedi, meditasi di Selarong, Bantul.

Ketika memasuki gua itu Peter melihat dua ekor ular kecil bersarang di situ. Ketika ia mandi di sumber air di belakang selembar daun melekat di pahanya.

"Ini mengingatkan pada Raja Hastina dalam Mahabharata, ketika masih kecil dimandikan air untuk menguatkan tubuhnya. Tapi selembar daun kecil menempel di pahanya sehingga air ajaib itu tidak membasahi sebagian pahanya, sehingga bagian itu menjadi kelemahannya "kata Peter.

Selarong ini menjadi markas besar Diponegoro dalam perang Jawa 1825-1830. Perang yang menewaskan lebih dari 200.000 orang Jawa, 8.000 serdadu Belanda (Eropa) dan 7.000 serdadu bantuan lokal (dari berbagai wilayah Nusantara).

Untuk memenangkan pemberontakan terbesar dalam sejarah perang melawan kolonial ini, Pemerintah Belanda harus mengeluarkan biaya 25 juta gulden atau sekitar 300 juta dollar Amerika Serikat.

Setelah 30 tahun mengadakan penelitian, Peter Carey menerbitkan banyak buku tentang Diponegoro. Pada 19 Desember 2007, Peter Carey meluncurkan buku riwayat Diponegoro di Universitas Leiden, Belanda.

Tahun 2015 Penerbit Buku Kompas, menerbitkan dalam Bahasa Indonesia, buku Peter Carey berjudul "Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). " Beberapa kali buku ini dicetak ulang.

"Saya mencatat kata-kata Peter Carey dalam buku ini. "Masalah-masalah yang dihadapi Diponegoro pada masa hidupnya : korupsi pejabat, langka negarawan, intrik politisi, kemrosotan nilai budaya, dan keharusan 'revolusi mental' atas dasar budi pekerti dan kesetaraan sosial pada jamannya yang marak kolonialisme dan kapitalisme, masih menjadi tantangan kita pada jaman reformasi ini,"tulis Osdar.

Peter menceritakan, sebelum perang pecah , Pangeran Diponegoro banyak bertapa, bersemedi, bertirakat dan bermeditasi di berbagai tempat di bagian selatan Yogyakarta. Antara lain di Gua Song Kamal, Gua Seluman, Guwa Suracala, Mancingan, Gua Langse, Parangkusuma, dan Gua Secang (di Selarong).

Masalah Pajak dan wabah

Di Parangkusuma, Parang Tritis, menjelang berakhirnya tahun 1805, Diponegoro mendapat bisikan suara yang diduganya dari Sunan Kalijogo, yang meramalkan kehancuran Yogyakarta dan awal runtuhnya Jawa tiga tahun mendatang.

Di sini pula Pangeran mendapat mandat untuk mengobarkan perang Ratu Adil, walau pun tidak lama dan tidak akan berhasil mengusir kolonial. Tapi, kata bisikan itu, perang ini akan merepotkan.

Tiga tahun kemudian, 5 Januari 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendles datang ke Jawa dan memimpin pemerintahan Hindia Belanda sebagai boneka Perancis (sampai 1811).

Disusul pemerintahan Inggris di bawah Letnan Jenderal Thomas Stanford Raffles sampai 1816. Dua pemerintahan kolonial ini memporak porandakan Jawa (wilayah kraton Solo dan Yogya). Jawa terombang-ambing.

Suasana dua pemerintahan ini bagaikan sebuah mesiu yang dipasang bagi meledaknya pemberontakan besar di Jawa yang dipimpin Diponegoro.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini