Kasus Harian Covid-19 Indonesia Tertinggi di Dunia, Lampaui Inggris dan India

Fahreza Rizky, Okezone · Jum'at 09 Juli 2021 14:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 09 337 2438170 kasus-harian-covid-19-indonesia-tertinggi-di-dunia-lampaui-inggris-dan-india-EMHSHp7fnx.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat bahwa penambahan kasus positif harian di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia, bahkan disebut telah melampaui Inggris dan India.

Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Covid-19, Hery Trianto mengatakan penambahan kasus positif di Tanah Air telah mencapai 38 ribu per hari, khususnya pada kemarin, Kamis 8 Juli 2021. 

"Penularan harian kita sekarang sudah tertinggi di dunia, positif harian, kemarin sudah 38 ribu. Ini di atas Inggris bahkan di atas India," ucap Hery saat berbincang dengan Stafsus Presiden Bidang Komunikasi Fadjroel Rachman melalui Instagram Live, Jumat (9/7/2021). 

Baca juga: 20 Pasien Covid-19 Meninggal Dunia saat Jalani Isolasi Mandiri di Rumah

Hery berujar, tingginya angka positif harian Indonesia salah satunya disebabkan oleh meningkatnya testing yang dilakukan oleh aparat terkait. Di Juli 2021 saja jumlah testing per hari mencapai 200 ribu.

"Memang kalau dilihat lebih dalam testing kita meningkat pesat. Juni rata-rata testing harian kita 100 ribu, sekarang 200 ribu, jadi semakn banyak testing kemungkinan ditemukan kasus semakin besar. Itu bagus jadi kita bisa mitigasi risiko lebih baik," tuturnya. 

Di samping massif-nya testing, Hery mengungkapkan bahwa angka riil penularan virus corona di Indonesia memang cukup mengkhawatirkan. Karena itulah pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk menekan laju infeksi virus corona.

Baca juga: 63 Ribu Orang Meninggal karena Corona, Menag Ajak Heningkan Cipta Serentak Besok

Hery mengaku sulit meyakinkan masyarakat untuk tetap berada di rumah pada masa PPKM Darurat. Sebab mereka di satu sisi diminta kantornya tetap masuk kendati masuk kategori nonesensial. Lalu banyak pula pekerja informal.

"Penyebabnya macam-macam ada sebagian yang bekerja di sektor informal dan ada juga yanhmg di sektor formal tapi kantornya tetap meminta masuk. Jadi dua solusinya bisa berbeda," tutup Hery.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini