Kisah Penemuan Kembali Candi Borobudur yang Tersembunyi di Hutan Belantara

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 08 Juli 2021 06:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 08 337 2437248 kisah-penemuan-kembali-candi-borobudur-yang-tersembunyi-di-hutan-belantara-EZ1L7rL5Nd.jpg Candi Borobudur (Dok Okezone)

PERTANYAAN yang kini belum terjawab tentang Candi Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur?

Beberapa ahli mengatakan Candi Borobudur yang terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, awalnya berdiri dikelilingi rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi.

Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.

Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur.

Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur.

Borobudur terkubur tanah pada 1006 dalam sebuah letusan dahsyat Gunung Merapi. Borobudur terkubur di bawah tanah, berlapis-lapis abu gunung berapi, situs kuno agama Buddha itu terkubur dan terlelap dalam tidurnya. Sehingga Borobudur waktu itu terbentuk seperti bukit dengan hutan belukar dan disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Redi Borobudur.

Beberapa waktu kemudian, Borobudur menjadi tempat pencurian besar-besaran oleh para penjarah dan kolektor artefak.

Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena mencuri seluruh arca Buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh pencuri agar kepalanya terpenggal. Itulah alasan mengapa banyak arca tanpa kepala ditemukan di Borobudur.

Ada beberapa buku yang mengupas tentang sejarah dan seluk beluk Borobudur seperti Barabudur, De Boro-Boedoer, atau Die –Budha Legende.

Di buku Borobudur diceritakan, pada suatu hari di tahun 1814, Borobudur baru ditemukan kembali dari balik lebatnya hutan belantara tropis.

Kala itu Raffles, wakil gubernur Inggris untuk Jawa yang sedang menduduki Pulau Jawa, mendengar cerita para pemburu dan penduduk tentang sebuah candi besar yang tersembunyi di dalam hutan belantara. Maka ia mengutus insinyur Belanda, HC Cornelius, untuk melakukan survei.

Baca Juga : Misteri Nama Candi Borobudur, Nama Desa, Gunung atau Purba?

Dalam 2 bulan Cornelius beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini.

Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur.

Sehingga Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen ini dan menarik perhatian dunia atas keberadaan monumen yang pernah hilang ini.

Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Karesidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat.

Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Wilsen, tahun 1853, yang mengatakan bahwa Hartman menyuruh bongkar stupa puncak, dan menemukan sebuah arca Buddha yang belum selesai, dan benda-benda lain termasuk sebilah keris. Di samping itu Wilsen mendapat tugas membuat gambar-gambar tentang Candi Borobudur.

Pada 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil. Namun, arkeolog utusan pemerintah waktu itu menyarankan untuk tidak membongkarnya dan dibiarkan dalam keadaan utuh.

JW Ijzerman tahun 1885 membuka dasar candi dan ia menemukan sejumlah relief yang kemudian dikenal sebagai relief Karmawibhangga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini