Masa-Masa Sulit Soeharto Sebelum Masuk Militer

Tim Okezone, Okezone · Selasa 06 Juli 2021 06:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 05 337 2436000 masa-masa-sulit-soeharto-sebelum-masuk-militer-BAsIRX8ZEM.jpeg Soeharto (Foto : Istimewa)

JAKARTA - Presiden Kedua Indonesia, Soeharto pernah melalui masa-masa sulit dalam hidupnya. Bahkan, sebelum masuk militer, bisa dibilang hidupnya luntang-lantung.

Setelah menamatkan sekolah schakel Muhammadiyah sebenarnya Soeharto masih ingin melanjutkannya. Tetapi baik ayahnya maupun keluarga lainnya tidak ada yang sanggup membiayai sekolahnya.

Keadaan ekonomi keluarga rendah sekali. Seharto masih ingat saja akan apa yang dikatakan sang ayah waktu itu. “Nak,” katanya, “tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Dari sekarang kamu sebaiknya mencari pekerjaan saja. Dan kalau sudah dapat, insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri.”

Sulit mendapatkan pekerjaan tanpa bantuan orang yang berkedudukan atau yang berpengaruh, tanpa uluran tangan orang kaya ataupun pengusaha besar waktu itu.

"Saya berusaha kian kemari mencoba mendapatkan sumber nafkah. Tetapi tidak juga berhasil. Akhirnya saya kembali ke Wuryantoro, tempat banyak kenalan yang saya harapkan akan bisa membuka jalan," demikian penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

Benar juga. Setelah sekian banyak jalan yang Soeharto tempuh, akhirnya dia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Walaupun dia tidak begitu senang dengan pekerjaan ini, Soeharto anggap lebih baik melakukannya daripada nganggur di tengah suasana yang muram.

Soeharto mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, dengan mengenakan pakaian Jawa lengkap, dengan kain blangkon dan baju beskap. Di kantor-kantor lurah kami menampung permintaan para petani, pedagang kecil dan pemilik warung yang menginginkan pinjaman.

Sebenarnya Soeharto sudah mengetahui cukup banyak mengenai kebutuhan orang-orang kecil itu sewaktu dia bersama Pak Prawirowihardjo tempo hari dan sewaktu membantu Pak Hardjowijono dan Pak Darjatmo. Tetapi Soeharto tidak banyak bicara. Dia merasa pada tempatnya kalau lebih banyak mendengarkan lagi.

Baca Juga : Cerita Presiden Soekarno Nyaris Tewas Dibom Granat

Boleh dibilang setiap malam dirinya mengajak Kamin, seorang teman waktu itu, untuk belajar pembukuan. Mantri Bank Desa itu mengakui, bahwa otak Soeharto encer. Tidak sampai dua bulan Soeharto sudah menguasai seluruh pembukuan. Waktu itu saya memakai sepeda hitam. Kamin memakai sepeda hijau. Soeharto selalu disuruh Kamin mendayung sepeda di muka. “Ayo Mas Harto yang di depan, saya di belakang”, kata Kamin.

Sekali waktu Soeharto meminjam kain pada bibi karena kainnya sendiri sudah usang, tak patut lagi dipakai mendampingi klerek Bank Desa. Pada suatu hari Soeharto bernasib jelek. Waktu turun dari sepeda yang sudah reot, kain yang dia pakai tersangkut pada per sadel yang menonjol ke luar dan sobek.

Soeharto dicela oleh klerek yang saya dampingi. Padahal dia tidak bersalah, cuma jalan hidup Soeharto saja yang demikian. Tetapi Bibi juga memarahi dia.

Soeharto dibentaknya, dengan mengatakan, kain itu adalah satu-satunya kain yang baik. Tak ada lagi yang lainnya yang bisa diberikan, sekalipun mungkin saja sebenarnya ia masih mau menolong Soeharto.

"Dan kejadian ini merupakan perpisahan dengan tempat saya bekerja. Tidak begitu menyesal, sebab memang saya tidak mendapat kesenangan bekerja di sana. Cuma waktu berjabatan tangan dengan Kamin, saya mesti menundukkan muka. Terharu meninggalkannya," jelas dia.

"Saya menganggur lagi, tetapi saya tidak putus asa. Saya cari kesempatan yang lebih baik. Saya pikir, kali ini saya akan mencoba mengadu nasib di Solo. Saya benar-benar mendambakan pekerjaan. Apa saja, asal halal," ungkap dia.

Ada seorang temaan yang menganjurkan untuk melamar ke Angkatan Laut Belanda. Tetapi lowongan yang ada di sana ialah sebagai juru masak. Soeharto pikir, biarlah itu nanti saya jadikan sebagai cadangan yang paling akhir.

Di Solo pun ternyata tidak ada pekerjaan. Maka Soeharto kembali ke Wuryantoro. Waktu itu, dia isi dengan pekerjaan gotong royong, membangun sebuah langgar, menggali parit, dan membereskan lumbung. Tetapi setelah itu, hari depan Soeharto gelap lagi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini