Membongkar Pesan Terakhir Bung Karno pada Guntur

Doddy Handoko , Okezone · Senin 05 Juli 2021 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 05 337 2435457 membongkar-pesan-terakhir-bung-karno-pada-guntur-bcsZyv3Jyp.jpeg Soekarno dan Guntur di Disneyland. (Foto: Wikimedia Commons/Istimewa)

ROSO Daras dalam buku “Total Bung Karno" menuliskan bahwa Guntur Soekarnoputra harus memikul tanggung jawab besar, ketika bapaknya, Sekarno meninggal. Ia tidak saja harus menjadi ‘pengganti’ peran ayah bagi adik-adiknya, tetapi juga siap menjalankan peran sebagai anak Bung Karno tertua.

Selama menjadi putra Bung Karno, banyak pesan yang telah dibenamkan Bung Karno di otak dan hati Guntur.

Baca juga: Rachmawati saat Bung Karno Sakit: Mengapa Penyakit Bapak Dibiarkan?

Di buku yang ditulis Guntur yaitu “Bung Karno, Bapakku Kawanku dan Guruku” diceritakan tentang pesan terakhir Bung Karno. Setelah itu tidak ada pesan lagi hingga ayahnya meninggal dunia, 21 Juni 1970.

Berikut pesan terakhir Bung Karno kepada Guntur: 

Tok, engkau adalah anak sulung Putra Sang Fajar. Sebab, bapakmu dilahirkan pada waktu fajar menyingsing. Fajar 6 Juni yang sedang merekah di ujung timur. Dan engkau yang lahir di tahun keberanian, juga menjelang fajar tanggal 3 November pada saat mana hegemoni kekuasaan Jepang semakin suram sinarnya. 

Nah , seperti halnya bapakmu, engkau pun pantas menyambut terbitnya matahari. Jadilah manusia yang pantas menyambut terbitnya matahari. Ingat, yang pantas meyambut terbitnya matahari itu hanya manusia-manusia abdi Tuhan, manusia-manusia yang manfaat. Karena itu jangan cengeng! Buktikan kepada setiap orang yang menatapmu bahwa engkau memang pantas menjadi anak sulung Sukarno.”

Baca juga: Kisah Bung Karno-Fidel Castro Bertukar Topi dan Kopiah

Ekspresi sikap Guntur pasca meninggalnya Bung Karno, baginya adalah sikap terbaik. Termasuk jika akhirnya ia memilih untuk tidak terjun ke gelanggang politik.

Akan tetapi, dengan sikapnya itulah kemudian ia dan adik-adiknya, relatif bisa bertahan hidup di rezim Soeharto, sebuah rezim yang telah menggulingkan bapaknya, tidak hanya dilengser dari jabatan, tetapi juga dikungkung di Wisma Yaso, tanpa bacaan, tanpa teman, tanpa keluarga.

Cerita sejarah Indonesia tentu akan berbeda, seandanya Guntur mengambil jalan politik dan melakukan perlawanan balik terhadap rezim Soeharto. Jalannya sejarah bisa menjadi, Guntur kembali mengibarkan bendera Bung Karno dengan pendukung yang sangat besar. Atau, sejarah bisa pula menjadi, Guntur dan adik-adiknya tersingkir, bahkan dalam arti harfiah. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini