Harmoko, Eks Wartawan dan Menteri Orde Baru yang Minta Soeharto Lengser

Fahmi Firdaus , Okezone · Minggu 04 Juli 2021 21:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 04 337 2435385 harmoko-eks-wartawan-dan-menteri-orde-baru-yang-minta-soeharto-lengser-tka9yA5gHr.jpg Foto: MNC Portal

JAKARTA – Indonesia kembali kehilangan Putra terbaik bangsa. Mantan Menteri Penerangan Harmoko meninggal dunia, pada Minggu (4/7/2021) pukul 20.22 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

(Baca juga: Kabar Duka, Mantan Menteri Penerangan Harmoko Meninggal Dunia)

"Innalillahi wa innailaihi rojiun telah meninggal dunia Bpk. H. Harmoko bin Asmoprawiro pada hari Minggu 4 Juli pada jm 20:22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto. Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau dan mohon doanya insya Allah beliau husnul khotimah. Aamiin YRA," demikian bunyi pesan tersebut.

Kabar meninggalnya orang dekat Soeharto, pada masa rezim orde baru tersebut dibenarkan Politikus Golkar Sarmuji. " Ya. Saya dapat kabar dari grup FPG (Fraksi Partai Golkar) DPR RI," ujarnya saat dikonfirmasi Okezone.

 Bahkan dirinya mengaku sudah mengonfirmasi ulang informasi tersebut kepada anak almarhum, dan dibenarkan. Namun, dirinya belum bisa menjelaskan mengenai penyebab Mantan Ketua MPR RI itu meninggal dunia. "Benar. Ini saya barusan telp Mas Dimas (Azisoko) putra beliau," singkatnya.

Dihimpun dari beragam sumber, Harmoko mengawali kariernya setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, ia bekerja sebagai wartawan dan juga kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka. Pada tahun 1964 ia bekerja juga sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata, dan kemudian Harian API pada 1965.

Pada saat yang sama, ia menjabat pula sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko (1965). Pada tahun berikutnya (1966-1968), ia menjabat sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kita. Pada tahun 1970, bersama beberapa temannya, ia menerbitkan harian Pos Kota.

Sebagai menteri Penerangan, Harmoko mencetuskan gerakan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pirsawan) yang dimaksudkan sebagai alat untuk menyebarkan informasi dari pemerintah. Kala itu, Harmoko dinilai berhasil memengaruhi hasil pemilihan umum (Pemilu) melalui apa yang disebut sebagai "Safari Ramadhan".

Sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko dikenal pula sebagai pencetus istilah "Temu Kader". Terakhir, ia menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999 yang mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke-7. Namun dua bulan kemudian Harmoko pula memintanya turun ketika gerakan rakyat dan mahasiswa yang menuntut reformasi tampaknya tidak lagi dapat dikendalikan. Soeharto pun lengser dari tampuk kekuasaan setelah 32 tahun menjabat presiden.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini