Mengenal Emmy Hafild, Pejuang Lingkungan yang Keras Menentang Soeharto

Fahmi Firdaus , Okezone · Sabtu 03 Juli 2021 23:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 03 337 2435096 mengenal-emmy-hafild-pejuang-lingkungan-yang-keras-menentang-soeharto-OVg1S0N0jz.jpg foto: Twitter

JAKARTA – Kabar duka kembali datang. Nurul Almy Hafild, atau akrab disapa Emmy Hafild meninggal dunia, pada Sabtu (3/7/2021) malam.

(Baca juga: Politikus Nasdem Emmy Hafild Meninggal Positif Covid-19)

Ketua Bidang Maritim DPP Partai Nasdem ini meninggal terpapar Covid-19 setelah sebelumnya menderita kanker.

“Dari tadi sore kita semua tegang mendengar kondisi mbak Emmy Hafild semakin memburuk di ICU akibat Covid-19 yg tentunya akan berbahaya dengan comorbid kanker yg dideritanya. Malam ini pkl 21.17 beliau meninggalkan kita semua,” ujar politikus Partai Nasdem Taufik Basari dalam akun Twitternya.

(Baca juga: Covid Mengganas, Rusun Pasar Rumput Akan Beroperasi sebagai Tempat Isolasi Mandiri)

Perempuan asal Pertumbukan, Sumatera Utara ini malang melintang selama 30 tahun dalam gerakan lingkungan. Bahkan majalah Time menganugerahkan gelar “Pahlawan Planet” pada tahun 1999.

Dilansir alumnipbpedia, Emmy Hafild menamatkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1982. Dia memulai karirnya di Sekretariat Kerjasama Konservasi Hutan (Skephi ) Pada tahun 1982.

Emmy menerima beasiswa Fulbright untuk belajar Master of Science dalam Studi Lingkungan di University of Wisconsin pada tahun 1994. Dia adalah Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) serta Forum Lingkungan Hidup Indonesia dari tahun 1996 sampai 2001.

Dia juga merupakan co-founder dan Direktur Eksekutif Transparency International Indonesia (TII), sebuah organisasi anti-korupsi yang berbasis di Jakarta, selama tiga tahun. Emmy juga pernah menjadi Direktur Ekselutif Greenpeace Asia Tenggara. Saat ini, Emmy memegang posisi sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Komodo Kita.

Meski sejak 2015, ia memilih keluar dari Greenpeace meski telah menduduki jabatan penting, namun kepeduliannya terhadap lingkungan tak pernah berhenti. Ia senantiasa mengajak semua pihak untuk peduli akan lingkungan sekitarnya. Jiwa perlawanannya terhadap ketidakadilan yang merugikan alam dan masyarakat rela mengorbankan posisinya di Greenpeace dulu.

Lulusan Agronomi IPB dan Universitas Wisconsin, AS, dalam bidang Ilmu Lingkungan pada tahun 1994 ini memutuskan total di dunia aktivis lingkungan sejak lulus dari IPB, saat umurnya menginjak 24 tahun. Ia masuk di Yaysan Indonesia Hijau selama 2 tahun berkarir. Karirnya di lembaga swadaya masyarakat melesat cepat, ia masuk ke Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Ia menjadi Direktur Walhi selama dua periode.

Pada tahun 1998 saat masih tergabung dalam WALHI, ia juga terlibat dalam pembentukan gabungan LSM antikorupsi. Bahkan dia juga tercatat pernah melawan Presiden Soeharto. Ia juga mendapat perhatian dari AS dan menjadi orang asing pertama yang beraksi di depan Senat urusan dana bantuan luar negeri dan lingkungan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini