Saat Soeharto Mengetahui Bung Karno Memproklamasikan Kemerdekaan RI

Tim Okezone, Okezone · Kamis 01 Juli 2021 07:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 01 337 2434033 saat-soeharto-mengetahui-bung-karno-memproklamasikan-kemerdekaan-ri-CDnZbfKQoQ.jpg Soekarno dan Soeharto (Foto: Ist)

JAKARTA - Pada 17 Agustus 1945, Hari Jumat Legi, Bulan Puasa, pukul 10.00, Bung Karno dan Bung Hatta atas nama rakyat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Saat itu, Soeharto masih di Brebeg, sedang melatih para prajurit. Pada tanggal 18 Agustus, begitu dirinya selesai melatih prajurit-prajurit PETA tersebut, mereka diperintahkan bubar. Mereka disuruh menyerahkan kembali senjata-senjatanya. Mobil pun dirampas oleh Jepang. Tanpa mengetahui apa yang telah terjadi di Jakarta, Soeharto pergi dari Brebeg ke Madiun, lalu ke Yogyakarta.

Mula-mula Soeharto tidak tahu apa-apa tentang kemerdekaan kita itu. Setelah tiba di Yogya, barulah Soeharto tahu samar-samar, dan kemudian menjadi lebih jelas lagi. Dia paham akan hal itu dari teman-teman, dari orang-orang di jalan dan di rumah. Demikian dikutip dari buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Otobiografi yang diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda.

Baca Juga:  Arwah Serdadu Jepang di Kali Bekasi

Mendengar berita seperti itu Soeharto pikir, “Wah, ini artinya panggilan.” Perasaan dan perhitungannya sewaktu berada di asrama-asrama PETA itu terbukti benar. Dia sudah merasakan, bahwa bangsa Indonesia sungguh-sungguh menginginkan kemerdekaan. Dan sekarang kemerdekaan itu sudah diproklamasikan. ltu berarti panggilan bagi kita untuk membelanya.

Soeharto pun membaca surat kabar “Matahari” yang terbit di Yogya tanggal 19 Agustus, yang memberitakan kabar besar mengenai proklamasi dan Undang-Undang Dasar serta terpilihnya Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden negara kita yang baru lahir.

Rupanya hari itu pula Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII mengirimkan kawat ucapan selamat kepada Presiden dan Wakil Presiden RI serta menyatakan ikut bergembira atas terbentuknya Negara Republik Indonesia. Kata sambutan Sultan Hamengku Buwono IX dimuat pula dalam harian “Matahari” yang menyebutkan bahwa semua, tidak ada yang terkecuali, harus bersedia dan sanggup mengorbankan kepentingan masing-masing untuk kepentingan kita bersama, ialah menjaga, memelihara, dan membela kemerdekaan nusa dan bangsa.

Baca Juga:  Kisah Romusha di Balik Pembangunan Terowongan Niyama

Jepang masih ada di Yogya dan kelihatan masih tetap ingin berkuasa, sementara pemuda-pemuda menunjukkan hasratnya yang meluap-luap untuk mendapatkan senjata guna mempertahankan kemerdekaan kita. Dalam pada itu, tentara Jepang rupanya mulai menyadari bahwa rakyat Yogya sudah tahu akan kekalahan mereka dalam peperangan. Tetapi mereka bertahan di asramanya masing-masing.

Kemudian timbul inisiatif Soeharto untuk mengumpulkan teman-teman bekas PETA. Secara kebetulan semua teman itu tinggalnya tidak berjauhan. Dia menemui Oni Sastroatmodjo, Komandan Kompi Polisi Istimewa, dan bersama dengannya Soeharto mengumpulkan bekas-bekas Chudancho dan Shodancho.

Bekas-bekas PETA dan sejumlah pemuda lainnya berkumpul. Mereka berhasil membentuk satu kelompok yang kemudian jadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang pembentukannya sudah diumumkan oleh Pemerintah RI. Presiden Soekarno menyerukan, agar bekas PETA, bekas Heiho, bekas Kaigun, bekas KNIL dan para pemuda lainnya segera berduyun-duyun bergabung dan mendirikan BKR-BKR di tempatnya masing-masing. Seruan Bung Karno itu bukan sesuatu yang baru buat Mereka. Mereka sudah bergerak sejalan dengan seruan itu. Di dalam kelompok kami ada unsur polisi yang buat Soeharto tidak asing, karena dia pun pernah jadi polisi.

Umar Slamet, teman dekat Soeharto, terpilih jadi ketua BKR. Dan Soeharto terpilih jadi wakilnya. Kelompok kecil ini yang adanya di Sentul, di Jalan Kusuma Negara sekarang, adalah tangga pertama dalam zaman baru yang menaikkan Soeharto ke tangga-tangga berikutnya. Anggota-anggotanya terdiri atas bekas-bekas PETA, Heiho dan pemuda-pemuda lainnya.

Soeharto memimpin kelompok ini dalam melucuti Jepang yang di luar asrama. Beberapa kendaraan militer juga direbut untuk keperluan pasukan. Kompi ini segera menjadi kuat dan banyak yang menyegani, sementara sejumlah pasukan Jepang masih tinggal di tangsinya, antara lain di Kotabaru, dengan utuh dan lengkap persenjataannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini