Kisah Bung Karno-Fidel Castro Bertukar Topi dan Kopiah

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 01 Juli 2021 06:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 01 337 2433560 kisah-bung-karno-fidel-castro-bertukar-topi-dan-kopiah-H72JDNcwXi.jpg Fidel Castro dan Soekarno. (Foto: Istimewa/Koleksi AA Gafur)

DALAM buku ‘Total Bung Karno’ karya Roso Daras diceritakan Soekarno dan Fidel Castro tertawa saat bertukar penutup kepala.

Soekarno menukar kopiahnya dengan topi ala komandan militer yang menjadi ciri khas Castro. Castro mengenakan kopiah Soekarno.

Pada tahun 1960, Presiden Soekarno melawat ke Kuba. Pemimpin Kuba Fidel Castro menyambutnya di Bandara Havana. Soekarno disambut meriah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan ‘Viva President Soekarno’. 

Rombongan kepresidenan sempat berhenti hanya karena petugas polisi yang memimpin konvoi ingin menghisap cerutu.

Baca juga: Kisah Bung Karno Menangis Menyaksikan Romusha seperti Tengkorak di Banten

Cerita itu dituturkan ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam buku ‘Sewindu Dekat Bung Karno’ terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.

Saat itu dalam konvoi Soekarno ada tiga polisi yang memimpin iring-iringan kepresidenan sekaligus membuka jalan. Tiba-tiba polisi pemimpin konvoi menghentikan motornya dan menyuruh konvoi berhenti. Tentu saja semua peserta bertanya-tanya kenapa konvoi berhenti. 

Polisi itu lalu mengeluarkan cerutu, dan menghampiri sopir Soekarno. Rupanya dia mau pinjam korek untuk menyalakan cerutu. 

Baca juga: Cerita Presiden Soekarno Nyaris Tewas Dibom Granat

Setelah menyala, polisi itu lalu memberi hormat pada Soekarno. Dia menaiki motornya dan memimpin konvoi kembali dengan gagah. Sambil menghisap cerutu kuba tentu saja.

“Bung Karno tertawa berderai melihat itu. Rupanya dia cukup paham Kuba masih dalam revolusi,” ujar Bambang.

Che Guevara lebih dulu berkunjung ke Indonesia tahun 1959. El Comandante ini berdiskusi panjang lebar soal revolusi di Indonesia. Pada waktu itu, Che juga merupakan wakil resmi pemerintah Kuba untuk membicarakan hubungan dagang antarkedua negara.

Soekarno cocok dengan pribadi Che. Keduanya penuh energi dan bergaya informal. Che sempat berwisata ke Candi Borobudur. Dia yang terkesan dengan Soekarno kemudian mengundang untuk ganti berkunjung ke Kuba.

Lawatan ke Kuba sangat mengesankan untuk Soekarno. Sangat berbeda dengan lawatannya ke Washington beberapa waktu sebelumnya. Kala itu Soekarno tersinggung dengan Presiden Eisenhower yang sombong.

Eisenhower menganggap remeh Soekarno yang dianggapnya datang dari negara dunia ketiga. Dibiarkannya Soekarno menunggu di Gedung Putih hampir setengah jam lamanya. Amarah Soekarno pun meledak.

“Apakah kalian memang bermaksud menghina saya. Sekarang juga saya pergi,” ujar Soekarno dengan marah. Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Soekarno tinggal. Eisenhower pun segera keluar menemui Soekarno.

Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower menjadi lebih ramah. Dia sadar Soekarno tak bisa diremehkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini