Share

Romantisme di Balik Penolakan Jenderal Hoegeng Dimakamkan di Taman Pahlawan

Agregasi Sindonews.com, · Kamis 01 Juli 2021 06:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 30 337 2433382 romantisme-di-balik-penolakan-jenderal-hoegeng-dimakamkan-di-taman-pahlawan-avQSuFiISk.jpg Jenderal Hoegeng dan Istri (Foto: Ist)

BOGOR - Dari sosok Kapolri ke-5, almarhum Jenderal Polisi (Purn) Drs H Hoegeng Iman Santoso, banyak pelajaran dan kisah menarik untuk digali. Integritas dan kejujurannya adalah teladan bagi semua, sisi humanis dan romantisnya pun menggetarkan hati.

Jenderal Polisi Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 karena sakit setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Dia dikebumikan di Pemakaman Umum Giri Tama, Kelurahan Tonjong, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor , Jawa Barat.

Makam Jenderal Hoegeng tepat berada di Blok D, Taman Dahlia. Cungkup makamnya sederhana berwarna hitam, tepat di bawah pohon yang teduh dan berbunga ungu. Pada salah satu sisi cungkup makam bagian atas terdapat Lambang Polri Sewakottama dan tanda bintang empat (Jenderal).

Dalam buku "Hoegeng. Polisi dan menteri Teladan" terungkap alasan Jenderal Hoegeng dimakamkan di sini. Sebelum meninggal dia berpesan kepada keluarganya agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Meskipun alasannya sederhana, ada romatisme dalam wasiat Jenderal Hoegeng.

“Kalau Hoegeng dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Meri tak bisa dimakamkan disamping saya. Hoegeng ingin Meri selalu mendampingi," begitu katanya. Meri yang dimaksud adalah istri Jenderal Hoengeng, yaitu Meriyati Roeslani.

Wasiat yang sederhana ini sebenarnya lumrah saja, namun dari catatan reputasi Jenderal Hoegeng yang dikenal sebagai pejabat tidak bisa disuap , sederhana, dan jujur, tentu bukan sekadar romantisme sesaat. Meriyati Roeslani yang menikah dengan Hoegeng pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta, pastinya juga bukan perempuan biasa.

Sebagai istri polisi, Meri tak menuntut apa-apa dari sang suami. Dia menunjukkan rasa cintanya dengan tetap mendukung Hoegeng untuk terus bersikap jujur meskipun harus hidup pas-pasan. Kekagumannya terhadap sosok Hoegeng tak pudar karena silau harta, meskipun suaminya menjabat kapolri pada periode 1968-1971.

Sebaliknya, kejujuran dan kesederhanaan Hoegeng menular pada Meri. Meri tetap setia mendampingi Hoegeng hingga pensiun dari dinas kepolisian pada 2 Oktober 1971. Jadi pesan Jenderal Hoegeng yang menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan agar tetap didampingi sang istri selamanya, merupakan wasiat romantis yang menggetarkan hati.

Setelah pensiun pria kelahiran Pekalongan 14 Oktober 1921 itu tidak punya rumah pribadi dan mobil. Hanya ada rumah dinas di Jalan Muhammad Yamin, Jakarta. Rumah dinas itu akhir dialihkan menjadi atas nama Hoegeng, atas inisiatif Kapolri Mohammad Hasan yang menggantikannya. Mobil Holden Kingswood milik Hoegeng pun hasil urunan beberapa kapolda.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Kejujuran dan kesederhanan Jenderal Hoegeng tetap abadi, bahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 5 Maret 2015 memberi penghargaan sebagai Polisi Paling Jujur Sedunia. Pengakuan itu seakan makin menguatkan pesan yang terdapat pada nisan Jenderal Hoegeng. “Alhamdulillah Telah Ku Buktikan Bahwa Iman Ku Benar Benar Sentosa.”

Ada cerita unik tersendiri di balik pesan yang tertera pada nisan Jenderal Hoegeng. Menurut penuturan salah satu anaknya, semasa hidup ayahnya tidak pernah menggunakan nama lengkapnya, Hoegeng Iman Santoso. Sebaliknya, ayahnya hanya menuliskan nama depannya saja, Hoegeng.

Ketika ditanya alasannya, Jenderal Hoegeng menjawab, dirinya harus membuktikan dahulu bahwa Imannya benar-benar Sentosa sampai akhir hayat. Setelah terbukti, dirinya baru pantas menggunakan nama lengkapnya.

Sebenarnya, nama Hoegeng yang selalu digunakan sebenarnya bukan nama asli, itu hanya sapaan saat masih kecil. Ketika itu dia sering dipanggil Bugel (berarti gemuk) dan kelamaan menjadi Bugeng, sampai akhinya jadi Hoegeng. Nama asli yang diberikan sang ayah, Sukario Karyo Hatmodjo, adalah Iman Santoso.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini