Presiden Soeharto Belajar Agama dan Filsafat Hidup dari Kiai Darjatmo, Siapa Dia?

Tim Okezone, Okezone · Kamis 01 Juli 2021 06:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 30 337 2433294 presiden-soeharto-belajar-agama-dan-filsafat-hidup-dari-kiai-darjatmo-siapa-dia-mgmrlSVn0K.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Perjalanan hidup Presiden Kedua Indonesia Soeharto memang tidak mudah. Terlahir di keluarga petani yang sederhana, bahkan dirinya sering "dititipkan" di rumah orang.

Pada sebuah babak kehidupannya, Soeharto mesti pindah ke Wonogiri dan tinggal pada keluarga teman ayahnya, seorang pensiunan pegawai kereta api, Pak Hardjowijono.

Keluarga Pak Hardjowijono tidak punya anak. Soeharto jadi tangan kanan mereka dalam membantu ini dan itu di rumahnya. Soeharto membersihkan rumah sebelum pergi ke sekolah. Soeharto disuruh belanja ke pasar dan menjual hasil kerajinan tangan Ibu Hardjo. Dan bahkan Soeharto suka-suka harus memasak pada sore hari atau kalau sedang tidak bersekolah. Tetapi mengenai hal itu Soeharto tidak mengeluh. Saya mendapat didikan yang bermanfaat, sangat bermanfaat di rumah Pak Hardjowijono.

Dia jadi pekerja, jadi tukang yang akan bisa berdiri sendiri jika keadaan memaksa. Dan rasa-rasanya dirinya bisa belajar dengan cepat melakukan hal-hal itu.

Pada suatu waktu, Soeharto mendapat perhatian dari seorang pemilik warung yang biasa menerima hasil kerajinan tangan Ibu Hardjo untuk dijualkan. Pemilik warung itu mengajak Soeharto untuk tinggal di rumahnya dan membantunya. Tetapi dia tahu diri. Dirinya merasa tidak patut meninggalkan keluarga Pak Hardjowijono begitu saja, walaupun ada harapan yang lebih cerah jika ikut dengan pemilik warung itu. Dan Soeharto ingat kepada ayahnya, yang menitipkan saya kepada Pak Hardjo. Dia tidak bisa melangkahi ayahnya.

Di samping itu, Soeharto mendapat kesenangan khusus bersama Pak Hardjo. Ia adalah seorang pengikut Kiai Darjatmo yang setia. Kiai Darjatmo itu mubalig terkenal di Wonogiri waktu itu. Malahan ia suka mengobati orang sakit dan dipercaya orang banyak dalam hal meramal.

"Saya masih bisa membayangkan keramahan Kiai Darjatmo yang juga opzichter irigasi. Apabila Pak Hardjo berkunjung kepada Kiai Darjatmo itu, saya suka dibawanya dan diizinkan mendengarkan tanya jawab, mengenai agama antara kedua orang tua itu," ungkap Soeharto, dikutip dari buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Otobiografi yang diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda.

"Saya jadi bisa meresapkan ajaran filsafat hidup Pak Kiai Darjatmo itu. Saya mendengarkan penjelasannya mengenai isi kitab suci Al-Qur’an. Saya mendapatkan pengertian mengenai apa itu samadi dan apa itu kebatinan. Banyak orang terpikat oleh Pak Kiai Darjatmo yang alim, jujur, dan tidak suka melihat kecurangan berlaku di sekitarnya itu," jelas dia.

Tidak berapa lama sesudah kemerdekaan, Pak Darjatmo terpilih menjadi anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) di Wonogiri dan dipercaya untuk memimpin di bidang kerohanian dalam perjuangan menghadapi Belanda di waktu-waktu sesudah itu. Orang inilah pula yang sering Soeharto kunjungi waktu dirinya menjadi komandan resimen di Salatiga.

"Saya merasa tertarik oleh cara Kiai Darjatmo itu dalam menjelaskan dan mengajar orang. Minat saya besar untuk sering mendengarkan Pak Kiai itu bicara mengenai filsafat hidup. Rasa- rasanya Pak Kiai Darjatmo itu pun tertarik kepada saya. Maka kemudian, dengan seizin Pak Hardjo, saya diizinkan kadang-kadang datang sendiri ke rumah Kiai Darjatmo yang letaknya tidak berjauhan dengan tempat tinggal Pak Hardjo," beber dia.

"Di langgar Kiai Darjatmo inilah saya banyak belajar mengenai agama dan kepercayaan. Saya mendengarkan secara langsung nasihat-nasihat yang diberikan oleh Kiai Darjatmo pada mereka yang memerlukan, orang-orang terpelajar, pedagang, pegawai, maupun petani sampai bakul-bakul," ungkap Soeharto.

Satu hal lagi yang Soeharto kenang mengenai hidup di rumah Pak Kiai Darjatmo ialah sewaktu dirinya diizinkan membantunya dalam membuat catatan (resep) obat-obatan tradisional yang diberikan sewaktu mengobati orang sakit. Nama obat-obatan yang ganjil, ramuan yang aneh, tanaman-tanaman yang langka dan yang banyak terdapat di tengah kampung serta peringatan-peringatan saya tuliskan untuk orang yang sakit, yang kadang-kadang dia kerjakan hingga larut malam.

Maka dirinya mengenal pelbagai macam daun-daunan, akar-akaran, pohon-pohonan, rerumputan. Memang Pak Darjatmo itu suka memberikan petunjuk apa yang mesti dimakan atau dioleskan dan apa larangan-larangannya.

Bermacam orang datang minta tolong kepada Pak Darjatmo, dari mulai yang sakit kulit, sakit panas sampai kepada yang mempersoalkan perkawinan dan perceraian, yang mendambakan anak, kesulitan dalam berdagang, urusan dengan penguasa, yang merasa kemasukan setan, yang tertimpa oleh pemerasan orang ketiga, dan macam-macam lagi. Dan dia tahu dari dekat bahwa memang banyak di antara mereka yang meminta tolong itu, kemudian sembuh setelah mengikuti petunjuk Pak Darjatmo.

Pada suatu waktu, berakhir juga hubungan Soeharto dengan Pak Darjatmo. Soeharto kembali ke kampung asal, ke Kemusuk. Dan dari sana Soeharto pergi setiap hari ke Yogya, naik sepeda, untuk menyelesaikan pelajaran di sekolah Muhammadiyah.

Soeharto terpaksa meninggalkan Wonogiri dan langgar Kiai Darjatmo gara-gara peraturan sekolah yang mengharuskan murid pakai celana pendek dan bersepatu, sedang orang tuanya tak mampu membelikan.

Di Yogya, walaupun di kota, Soeharto bersekolah pakai sarung atau kain, dan tidak bersepatu. Namun dirinya tidak merasa kikuk, karena saya tidak seorang diri yang demikian. Masih ada sejumlah murid lagi yang datang ke sekolah dengan kondisi seperti dirinya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini