Kisah Kelam Pembantaian Massal di Bumi Borneo oleh Serdadu Kaigun

Fahmi Firdaus , Okezone · Senin 28 Juni 2021 14:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 28 337 2432039 kisah-kelam-pembantaian-massal-di-bumi-borneo-oleh-serdadu-kaigun-rt87dtwJwe.jpg Foto: kemendikbud.go.id

SALAH satu tragedi kemanusiaan terburuk di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat terjadi pada 28 Juni 1944 atau tepat 77 tahun silam.

(Baca juga: Kisah 90 Tentara Jepang Dieksekusi Sampai Kali Bekasi Memerah)

Kala itu, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun) membantai ribuan masyarakat di daerah Mandor, Kabupaten Landak Kalimantan Barat tanpa batas etnis. Tragedi kemanusian itu dikenal sebagai Peristiwa Mandor atau yang dikenal juga dengan istilah Oto Sungkup (Mobil Penutup Kepala).

(Baca juga: Aksi Heroik Pasukan Kopassus Rebut Irian Barat dari Tangan Belanda)

Pihak Jepang saat itu mencurigai bahwa di Kalimantan Barat dan Selatan terdapat komplotan-komplotan yang terdiri atas feodal lokal, cendikiawan, ambtenar, politisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga rakyat jelata, dari berbagai etnik, suku maupun agama.

Peristiwa Mandor terjadi akibat ketidaksukaan pihak Jepang waktu itu terhadap para pemberontak yang ada di Kalimantan Barat dikarena ketika itu Jepang ingin menguasai sumber daya alam yang ada di bumi Kalimantan Barat.

Sebelum terjadi peristiwa Mandor, juga terdapat peristiwa Cap Kapak dimana kala itu tentara - tentara Jepang secara paksa mendobrak pintu - pintu rumah masyarakat dikarenakan mereka ingin menakut-nakuti masyarakat agar tidak berani untuk melakukan pemberontakan.

Jepang telah menyusun rencana untuk memberangus semangat perlawanan rakyat Kalimantan Barat kala itu. Di sebuah koran harian Jepang mengungkapkan rencana tentara Negeri Matahari Terbit tersebut untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang yang ada di Kalimantan Barat.

Sejumlah tokoh penting ikut menjadi korban kebiadaban tentara Jepang tersebut, seperti Sultan Pontianak Syarif Mohammad Alkadrie dan Putra Sultan Pontianak Pangeran Adipati.

Pembantaian terhadap masyarakat tak berhenti di situ. Dari 1941 hingga 1945, tercatat puluhan rakyat Kalimantan Barat meregang nyawa. Mereka yang meninggal karena pembantaian tersebut adalah bangsawan, tokoh-tokoh politik, kaum terpelajar dan lain sebagainya dari lintas etnis dan agama.

Diperkirakan, jumlah korban dari peristiwa Mandor tersebut adalah sebanyak 21.037 orang. Namun pihak dari Jepang menolak pernyataan tersebut dan menganggap hanya ada 1.000 korban saja.

Pemerintah setempat telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat melalui rapat paripurna DPRD Kalimantan Barat. Hal ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus apresiasi dari DPRD terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor.

 *) Dihimpun dari beragam sumber

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini