Isu Tabung Oksigen di RS Langka, Menkes: Kita Punya Stok 3.000 Unit

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 25 Juni 2021 13:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 25 337 2430818 isu-tabung-oksigen-di-rs-langka-menkes-kita-punya-stok-3-000-unit-GUduEyhZPh.jpg Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.(Foto:Dok Okezone)

JAKARTA  -  Lonjakan pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit rujukan Covid-19 membuat sejumlah isu beredar. Salah satunya adalah mengenai isu tabung oksigen yang mengalami kelangkaan. Pasalnya, hal ini pernah terjadi di India akibat tsunami Covid-19 beberapa waktu lalu.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, saat ini pemerintah masih punya stok 3.000 unit tabung oksigen.

“Saya terima kasih juga sudah dibantu oleh Bapak Menperin, jadi Pak Agus itu sudah sampaikan ke saya bahwa sebenarnya jumlah tabung di kita pun ada stok 3.000 unit,” katanya saat konferensi pers secara virtual, Jumat (25/6/2021).

Bahkan, Budi memastikan bahwa produsen tabung oksigen kebanyakan dalam negeri sehingga bisa cepat diproduksi lagi jika sudah menipis. “Dan para produsen-produsen tabung ini umumnya adalah perusahaan dalam negeri, mereka juga bisa dengan cepat memproduksi tabung oksigen,” tegasnya.

Baca Juga: Menkes Budi Siapkan 7 Ribu Tempat Isolasi Pasien Covid-19 di Dua Rusun

Budi pun mengatakan bahwa di rumah sakit-rumah sakit pun masih ada tabung oksigen yang tersedia. “Isu mengenai tabung, karena untuk rumah sakit-rumah sakit besar oksigen itu ditaruhnya di tabung yang besar yang stay di sana. Tapi untuk rumah sakit-rumah sakit yang lebih kecil, itu ada tabung-tabung gas kecil.”

“Nah, ada isu juga tabung ini sebenarnya kalau dilihat bukan masalah jumlahnya yang kurang. Tapi karena ada peningkatan yang tinggi, sehingga perputaran tabungnya itu mesti dijaga,” katanya.

Budi pun kemudian meminta agar penggantian tabung lebih sering agar terjadi perputaran tabung lebih cepat, sehingga tidak menimbulkan kelangkaan.

“Sama seperti kita punya tabung elpiji misalnya, di rumah kita punya 2 tabung. Kalau misalnya sebelumnya sebulan sekali diganti, karena sekarang penggunaannya lebih sering ya mungkin seminggu sekali diganti atau tiga hari sekali diganti.”

“Nah isunya adalah banyak yang kemudian tabung elpiji nya supaya nggak terlalu sering, pengen nambah 4. Nah itu yang kita ajarkan sebenarnya nggak perlu. Sebenarnya logistiknya lebih bagus, tidak perlu walaupun jumlah pemakaiannya lebih banyak, tabung elpiji nggak usah dari 2 dijadi menjadi 4 atau 8, tapi nanti pengisiannya lebih sering yang tadinya 1 bulan sekali, menjadi 2 hari sekali atau juga jadi seminggu sekali,” papar Budi.

“Jadi itu menjelaskan juga masyarakat bahwa kita sudah mengantisipasi adanya kekurangan tabung oksigen,” jelas Budi.

(saz)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini