Kisah Penemuan Keraton Surosowan dan Masjid Banten Usai Dihancurkan Daendels

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 25 Juni 2021 07:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 25 337 2430647 kisah-penemuan-keraton-surosowan-dan-masjid-banten-usai-dihancurkan-daendels-eAE4oME6XN.jpg Ilustrasi (Foto: istimewa)

JAKARTA - Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten mengirimkan pekerja rodi sebanyak-banyaknya untuk membangun pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. Tapi karena daerahnya berawa-rawa maka banyak pekerja yang mati, terkena hawa beracun atau penyakit malaria, atau melarikan diri.

Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu.

Melalui utusan Sultan yang dipanggil datang ke Batavia, Daendels memerintahkan supaya Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyat setiap hari untuk dipekerjakan di Ujung Kulon.

Menyerahkan Patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia sehingga Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer, karena Surosowan akan dijadikan benteng Belanda.

"Sudah tentu tuntutan ini ditolak oleh Banten Sultan Aliudin," ujar (alm) Ismetullah Al Abbas, Sultan Banten.

Baca juga: Apakah Masih Terpendam Harta Kesultanan Banten Setelah Diangkut Daendels?

Mengetahui sikap Sultan yang demikian, dengan segera dan sembunyi-sembunyi, dikirimnya pasukan dalam jumlah besar yang dipimpin Daendels sendiri ke Banten.

Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. Kemudian diutuslah Komondeur Philip Pieter du Puy dengan beberapa orang pengawalnya ke istana Surosowan untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan, tanpa memberitahukan bahwa pasukan Belanda sudah disiapkan di luar kota.

Namun karena kebencian yang sudah memuncak kepada Belanda, Du Puy dan seluruh pengawalnya dibunuh oleh pasukan pengawal kraton di depan pintu gerbang benteng Surosowan.

Baca juga: Kisah Daendels Hancurkan Keraton Surosowan Banten, Sultan Dibuang ke Ambon dan Patihnya Dipancung

Mengetahui keadaan utusannya itu, Daendels segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang istana Surosowan pada hari itu juga, yakni tanggal 21 Nopember 1808 (Chijs, 1881:43).

Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang di luar dugaan, sehingga Sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya.

"Prajurit-prajurit Banten dengan keberanian yang mengagumkan mempertahankan setiap jengkal tanah airnya," ucap Ismet.

Tapi akhirnya Deandels dapat menumpas semua itu. Surosowan dapat direbutnya, dibakar dan dihancurkan rata dengan tanah. Sultan Aliudin ditangkap dan diasingkan ke Ambon.

Baca juga: Peristiwa 23 Juni: Abdul Mufakir Menjadi Sultan Banten hingga Lahirnya Zinedine Zidane

Sedangkan Patih Mangkubumi dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke laut.

Ketika keraton Surosowan dan Masjid Banten ditinggalkan penghuninya menjadi hutan belantara dan semak-belukar.

Dulu ada pohon beringin, pohon sawo juga banyak hewan seperti ular, ayam hutan dan macan kecil sebesar kucing. Bahkan sampai tahun 2000–an masih ditemukan macan kucing tadi.

Kemudian masyarakat melakukan pembersihan tahun 1942-1943. Oleh seorang tokoh dengan memakai ilmu gaib, hewan berbisa seperti ular digiring menuju gunung Pinang. Tanpa dipegang dan disentuh ular itu kabur.

Baca juga: Misteri Arya Dillah, Putra Maulana Hasanuddin dari Jin yang Bisa Merontokkan Daun Beringin

Dalam ensiklopedia Banten, ular tanah berasal dari Banten. Ular tanah sangat berbisa, jika menggigit manusia bisa menimbulkan kematian. Ular tanah ini setelah menggigit manusia akan dicari teman-temannya sesama ular untuk dibunuh. Kecuali jika ular itu telah menemukan air dan meminumnya.

Muncul pula cerita mistis, di sini ada namanya macan gaib bernama Si Kapuk dan Si Kumbang. Macan berwarna putih dan hitam itu ingon-ingon (peliharaan) Sultan pada masa lalu.

"Kita bisa ketemu bisa pas tengah malam, pukul 01.00 Wib atau 02.00 Wib di alun-alun Banten Lama. Kemudian membaca shalawat, macan itu akan muncul. Pernah ada orang yang tidak percaya," ucapnya.

Dia mengatakan, “Masak usia macan berapa tahun?”. Sehabis berkata seperti itu, tiba-tiba kesurupan.

Baca juga: Misteri Sultan Banten yang Punya Istri 200, Menurunkan Ulama Jawa Timur

"Kejadian lain, sepasang suami istri ziarah ke makam Maulana Hasanudin. Sepulang dari ziarah setelah magrib sampai ke rel kereta api sekitar 500 meter dari makam, tiba-tiba istrinya tidak bisa bicara," sambungnya.

"Mereka balik lagi dan minta tolong pada ayah saya di masjid Agung Banten. Ayah saya kemudian masuk ke makam, ziarah sebentar, membawa air wasiat lalu diminumkan ke perempuan itu. Ajaib, seketika langsung bisa bicara," imbuh Ismat.

Peristiwa gaib lain dilihat oleh kakak saya. Suatu malam, kakak saya melihat ada jamaah sholat pakai baju putih-putih di depan keraton Surosowan. Jamaah itu jalan ke sungai Kepandean lalu hilang.

Baca juga: Kerajaan Banten Miliki Kampung Internasional untuk Pedagang Arab, Mesir, hingga Turki

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini