Prasasti Batu Tulis Pajajaran, Ada Bekas Tapak Kaki Prabu Surawisesa dan "Harta Karun"

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 25 Juni 2021 07:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 25 337 2430641 prasasti-batu-tulis-pajajaran-ada-bekas-tapak-kaki-prabu-surawisesa-dan-harta-karun-fGkIePm1pd.jpg Foto: Istimewa

BOGOR - Situs Prasasti Batu Tulis terletak di desa Batu Tulis, Sukasari Bogor. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran. Prasasti dibuat pada tahun 1533M (1455 Saka) oleh Raja Surawisesa (1521-1535M) yang merupakan penerus Kerajaan Padjajaran.

Tujuan pembuatan prasasti ini adalah untuk mengenang kebesaran ayahandanya, yaitu Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi yang memerintah Kerajaan Padjajaran tahun 1482-1521M atau 1404-1443 Saka. Kisah tentang Batutulis dikupas Saléh Danasasmita di tulisannya, Nyukcruk sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Bandung Kiblat Buku Utama dan Wikipedia.

Di komplek Prasasti dijumpai antara lain Batu Tapak (bekas telapak kaki Prabu Surawisesa), meja batu bekas tempat sesajen pada setiap perayaan, batu bekas sandaran tahta bagi raja yang dilantik, batu lingga dan lima buah tonggak batu yang merupakan punakawan (pengiring-penjaga-emban) dari batu lingga.

Batu lingga ini adalah bekas tongkat pusaka kera­jaan Pajajaran yang melambangkan kesuburan dan kekuatan. Sekitar 200 meter dari komplek Prasasti, yaitu di daerah Panaisan yang merupakan bekas alun-alun kerajaan Pa­jajaran juga dapat ditemui 4 buah area batu.

Keempat area tersebut adalah patung Purwakali, Gelak Nyawang, Kidang Pinanjung dan Layung Jambul yang kanan masing-masing adalah Mahaguru, pengawal, dan pengasuh Prabu Siliwangi.

“Sayangnya sekarang patung batu ini sudah tiada kepalanya. Dicuri orang ,”ungkap juru kunci situs, Maemunah.

Kekuatan dan keagungan Prabu Siliwangi dipercaya bersemayam di dalam Batu Tulis sehingga memberikan perlindungan pada negara dari serangan musuh dan memberi kekuatan pada Raja yang memerintah.

Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan batin Prabu Siliwangi bersama para raja-raja terdahulu yang terus menaungi dan melindungi kerajaan dengan energi cinta dan kasih.

Makna tersirat dari prasasti Batu tulis yang sebenarnya adalah merupakan ‘harta karun’ peninggalan Kerajaan Padjajaran yaitu sebuah ‘pengajaran luhur’ dari Prabu Siliwangi tentang sifat dan karakter : Silih Asih – Asah – Asuh. Saling mengasihi atau mencintai, saling mengasah dengan aktif berdiskusi bertukar pikir, dan saling mengasuh mengisi dalam kehidupan.

“Inilah yang seharusnya dipahami dan dilakukan sebagai anak bangsa yang sesungguhnya,”katanya.

Batu tulis merupakan tempat penobatan raja-raja Pajajaran termasuk Prabu Siliwangi (1482-1521). Siliwangi dari kata Asilih Wewangi atau berganti nama.

Prabu Siliwangi bergelar Prabu Guru Dewata Prana. Kemudian dinobatkan lagi untuk kedua kali dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaransri Sang Ratu Dewata.

Saat berkuasa, Prabu Siliwangi membangun parit dan benteng Pajajaran (sekarang bekasnya dapat dilihat di belakang asrama Pusdikzi Lawang Gintung.

Peninggalannya lainnya adalah membuat peringatan berupa gegunungan, hutan Samida, telaga Rena Naha Wijaya yang terkenal dengan Lubuk Sipatahunan (bekasnya di dalam Kebun Raya Bogor).

Batu Tulis dibuat semasa Suwawisesa, putra Prabu Siliwangi (1521-1535) ketika berkuasa. Prasasti ini dipersembahkan untuk mendiang ayahnya untuk membanggakan silsilah serta kebesaran karya ayahnya.

Ketika itu, kawasan Batu Tulis dipergunakan untuk upacara agama, agar Sri Baduga Maharaja yang dianggap bersemayam dalam lingga (lambang kesuburan) tanda kekuasaanya mampu melindungi negara yang diancam musuh.

Di kawasan Batu Tulis terdapat 15 buah peninggalan berbentuk batu dari jenis batu terasit yang terdapat di sepanjang aliran Cisadane. Enam batu di dalam cungkup, satu batu di teras dan delapan batu di bagian luar.

Satu batu, Batu Gigilang telah diambil tentara Banten ketika menyerang Pajajaran. Batu ini sebagai tempat duduk untuk upacara penobatan raja.

Diambilnya Batu Gigilang ini bermakna politis. Setelah diambilnya batu tempat penobatan raja Pajajaran, maka tidak akan ada lagi penobatan Raja di Pajajaran.

Komplek Prasasti Batu tulis memiliki luas 17X15 m. Batu Prasasti berupa sebuah batu berwar­na hitam, berbentuk kerucut dengan puncak terpancung dan kakinya berlekuk-Iekuk.

Ukuran tinggi 151 cm, lebar bagian dasar 145 cm, dan tebalnya antara 12 – 14 cm. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dengan huruf Sun­da kawi. Besar aksara itu sendiri kurang lebih 3 x 3 cm, berwarna keputihan.

Kalimat prasasti berbunyi, “Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu hajj di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang, ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyanl sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi .

Artinya , “Semoga selamat, ini tanda peringatan (untuk) Prabu Ratu almarhum Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (Iagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.

Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kencana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam Saka 1455.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini