Cerita Guntur Soekarnoputra Belajar Nyetir Mobil Diganjal Bantal

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 22 Juni 2021 06:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 22 337 2428831 cerita-guntur-soekarnoputra-belajar-nyetir-mobil-diganjal-bantal-qho709sbw4.jpg Guntur Soekarnoputra (Foto : Antara)

GUNTUR Soekarnoputra, menulis tentang kisah-kisah ringan dan humanis dari Bung Karno yang dituangkan di buku, “Bung Karno : Bapakku, Kawanku, Guruku ". Sebagai anak presiden, sering sekali kalau Guntur "berhak" merasakan fasilitas Bapaknya, tanpa berlebihan.

Misalnya Guntur terus terang mengisahkan betapa dirinya belajar "nyupir" mobil, menggunakan mobil negara dengan guru pengemudi yang digaji negara bernama Pak Sarao'i, asli Betawi.

"Sekiranya aku minta izin pun, aku toh tidak akan diizinkannya, mengingat umurku yangmasihmuda (12 tahun) ... tetapi akibat dorongan Pak Saro'i, akhirnya aku berani-beranikan juga."

+ Mas, kalau Mas kepengen nyetir, hayolah pak Ro'i ajarin!

"Nanti kalau ketahuan, Bapak marah!"

+ Kite belajarnya kalu Bapak lagi ke Bogor, jangan dienye ade di sini ... wah bahaye!

"Kaki saya belon sampe buat injak pedal ... saya masih kependekan buast ngeliat ke depan."

+ Itu mah gampang, ganjel pake bantal ... beres!

Sejak itu, setiap Bung Karno ke Bogor atau ke Istana Cipanas, Guntur bersekolah "nyetir" denganguru istimewanya, Pak Saro'i - pengemudi yang melayani terus hingga Guntur lulus SLA.

Lama kelamaan, Guntur makun jago mengemudi mobil istana. Pak Ro'i pun meningkatkan pelajarannya. Misalnya Guntur harus mengebut mobil Chrysler 1955, 6 silinder, B 5353 warna biru laut dengan kecepatan 50 km per jam, namun tak boleh injak rem, meski di tikungan sekalipun.

Saat Guntur dewasa, menjelang kuliah di ITB. Pemuda ini mendapat mobil VW sport Kharman Ghia. Lama-kelamaan Bung Karno mendapat kabar, kalau Guntur senang ngebut dengan kendaraannya.

Baca Juga : Sejarah Ondel-Ondel, Dulu Iring-iringan Acara Kerajaan Sekarang Ngamen di Jalanan

Sekali waktu, sekitar tahun 1962, Bung Karno menegur Menteri Chaerul Saleh, karena dianggap suka bersama Guntur mengebut mobil keliling Jakarta.

"Heeeh Rul Rul! Dia ini nyetir gila-gilaan lantaran kau! Begrijp je (mengerti kau)! Dikira aku tidak tahu? ... kau dan Guntur suka balap-balapan di daerah Kebayoran ... tukang-tukang becak di daerah Cikini semuanya lari ketakutan diserempet, kalau melihat mobil Kharman Ghia merah kepunyaan kalian! Kau ini memang terlalu Rul! Jij itu menteriku, jadi jangan ngros-boy!"

Begitulah kira-kira sikap Bung Karno, kalau menegur anaknya. Bagi Guntur, Soekarno sebagai bapaknya, memang figur lelaki yang disegani.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini