Kisah Soeharto Tendang Dinding SD Inpres hingga Ambruk

Agregasi Solopos, · Selasa 22 Juni 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 21 337 2428729 kisah-soeharto-tendang-dinding-sd-inpres-hingga-ambruk-n3QC3bRAjJ.jpeg Soeharto. (Foto: Dok Pelita Online)

SALAH satu sekolah dasar atau SD inpres di Cilacap, Jawa Tengah, mendapatkan kunjungan istimewa di pertengahan 1970-an. Ketika itu, Presiden Soeharto mengunjungi SD itu.

Kunjungan Soeharto ke SD itu kemudian membuat gempar karena adanya tendangan maut dari Presiden. 

Kala itu Soeharto marah besar karena melihat adanya ketidakberesan dalam pembangunan gedung SD. 

Di laman soeharto.co yang mengutip berita dari Harian Pelita edisi 15 Februari 2013, disebutkan Soeharto menendang dinding sekolah dengan sepatu. Ternyata dinding itu ambruk.

”Siapa anemer (pemborong) bangunan ini?” tanyanya sambil sekali lagi menendang dinding yang keropos. Dia minta agar pihak pemborong bertanggung jawab terhadap bangunan tersebut.

Baca juga: Menguak Rivalitas Soeharto 'The Smiling General' dengan Soekarno

SD di Cilacap yang ditinjau Soeharto kala itu lahir dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung SD.

Salah satu tokoh yang punya peran besar dalam SD inpres adalah Widjojo Nitisastro. Inpres kala itu dikeluarkan untuk memperluas kesempatan belajar, terutama di pedesaan dan bagi daerah perkotaan yang penduduknya berpenghasailan rendah. 

Era Presiden Soeharto, pelaksanan tahap pertama program SD inpres adalah pembangunan 6.000 gedung SD yang masing-masing memiliki tiga ruang kelas.

Ketika itu, Indonesia baru saja mendapat limpahan dana hasil penjualan minyak bumi yang harganya naik sekitar 300 persen dari sebelumnya. Uang itu kemudian digunakan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, salah satunya pendidikan. 

Setelah itu, Presiden Soeharto juga mengeluarkan Instruksi Presiden No. 6/1974 tentang Program Bantuan Pembangunan SD. Program yang merupakan bantuan pembangunan SD tahap kedua ini menjadi kelanjutan program sebelumnya.

Pelaksanaan tahap pertama program itu adalah pembangunan 6.000 gedung SD yang masing-masing memiliki tiga ruang kelas. Pelaksanaan pengajaran di SD itu dimulai pada 1975.

Baca juga: 100 Tahun Kelahiran Soeharto, Anies: Pemimpin yang Mengayomi

Pada akhir tahun ajaran 1980 untuk kali pertama SD inpres meluluskan siswa mereka. Saat awal pelaksananaan program ini ada masalah mendasar yaitu sulitnya mencari guru yang mau ditempatkan di daerah terpencil.

150.000 SD Inpres

Pada dekade 1980-an, pembangunan SD kian gencar. Pembangunan SD paling besar terjadi pada periode 1982/1983 ketika 22.600 gedung SD baru dibuat. Hingga periode 1993/1994 tercatat hampir 150.000 unit SD inpres telah dibangun. 

Total ada sekitar satu juta lebih guru inpres yang ditempatkan di sekolah-sekolah selama beberapa tahun selama program itu berjalan. Gencarnya program itu menjadikan Soeharto memperoleh penghargaan Avicenna Award dari UNESCO. 

Kemudian pada 1993, Soeharto menerima penghargaan medali emas Avicenna Award dalam Pembangunan Bidang Pendidikan untuk Rakyat.

UNESCO menyebutkan Indonesia dalam konsep pembangunan bidang pendidikan sejak 1970-an telah mewujudkan kebijakan wajib belajar 6 tahun dan pembangunan sarana dan prasarana sekolah dasar dengan dibangunnya SD inpres serta perbaikan kualitas guru dan kurikulum SD. 

Cerita SD inpres berlanjut pada 2019 saat tiga warga Amerika Serikat Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer memenangi Nobel di bidang ekonomi. Ketiga warga AS itu, memenangkan penghargaan tertinggi atas penelitian mereka terkait kemiskinan global.

Duflo meneliti mengenai SD inpres di Indonesia. Penelitian ini diterbitkan pada Agustus 2000 dengan judul schooling and labor market consequences of school construction in Indonesia: evidence from an unusual policy experiment (konsekuensi sekolah dan pasar tenaga kerja dari pembangunan sekolah di Indonesia: bukti dari eksperimen kebijakan yang tidak biasa). 

Setelah beberapa dekade berlalu, SD inpres kini menghadapi tantangan lain. Mulai urusan bangunan sekolah yang menua karena dibangun di tahun 1970-1980-an hingga persaingan ketat antar-SD. Ada pula di beberapa tempat yang lahan SD masih bermasalah. 

Beberapa SD inpres mampu menjadi sekolah unggulan, namun tidak sedikit yang kalang kabut karena kekurangan siswa hingga akhirnya sekolah itu digabung dengan SD lain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini