Kisah Daendels Hancurkan Keraton Surosowan Banten, Sultan Dibuang ke Ambon dan Patihnya Dipancung

Doddy Handoko , Okezone · Senin 21 Juni 2021 06:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 21 337 2428239 kisah-daendels-hancurkan-keraton-surosowan-banten-sultan-dibuang-ke-ambon-dan-patihnya-dipancung-KaZvGqTTh7.jpg Benteng di Keraton Surosowan, Banten. (Foto: Erika Kurnia/Okezone)

JAKARTA - Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Daendels datang di Batavia pada tahun 1808 dengan tugas utama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan tentara Inggris yang berpangkalan di India.

Untuk tugas tersebut Daendels membangun sarana-sarana pertahanan: jalan-jalan pos, personil, barak militer, benteng, pelabuhan, rumah sakit tentara dan pabrik mesiu.

BACA JUGA: Kisah Raden Wijaya Pendiri Majapahit yang Dikejar Pasukan Jayakatwang

Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin, karena memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. Untuk itulah dilakukan rodi atau kerja paksa, yaitu para pekerja tanpa upah.

Pekerjaan pertama adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. Untuk itu Deandels memerintahkan kepada Sultan Banten mengirimkan pekerja rodi sebanyak-banyaknya. Tapi karena daerahnya berawa-rawa maka banyak pekerja yang mati, terkena hawa beracun atau penyakit malaria, atau melarikan diri.

Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu.

Melalui utusan Sultan yang dipanggil datang ke Batavia, Daendels memerintahkan supaya Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyat setiap hari untuk dipekerjakan di Ujung Kulon.

Menyerahkan Patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia. Sultan diminta supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer, karena Surosowan akan dijadikan benteng Belanda.

BACA JUGA: Kisah Kerajaan Lasem: Situsnya Hancur dan Hilang Jadi Permukiman

"Sudah tentu tuntutan ini ditolak oleh Banten Sultan Aliudin," ujar (alm) Ismetullah Al Abbas, Sultan Banten.

Mengetahui sikap Sultan yang demikian, dengan segera dan sembunyi-sembunyi, dikirimnya pasukan dalam jumlah besar yang dipimpin Daendels sendiri ke Banten. Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota.

Kemudian diutuslah Komondeur Philip Pieter du Puy dengan beberapa orang pengawalnya ke istana Surosowan untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan, tanpa memberitahukan bahwa pasukan Belanda sudah disiapkan di luar kota.

Namun karena kebencian yang sudah memuncak kepada Belanda, Du Puy dan seluruh pengawalnya dibunuh oleh pasukan pengawal kraton di depan pintu gerbang benteng Surosowan.

Mengetahui keadaan utusannya itu Daendels segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang istana Surosowan pada hari itu juga, yakni tanggal 21 November 1808 (Chijs, 1881:43).

Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang di luar dugaan, sehingga Sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya.

"Prajurit-prajurit Banten dengan keberanian yang mengagumkan mempertahankan setiap jengkal tanah airnya,"ucap Ismet.

Tapi akhirnya Deandels dapat menumpas semua itu. Surosowan dapat direbutnya, dibakar dan dihancurkan rata dengan tanah. Sultan Aliudin ditangkap dan diasingkan ke Ambon.

Sedangkan Patih Mangkubumi dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke laut.

Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda. Tangerang, Jasinga, dan Sadang dimasukkan ke dalam teritorial Batavia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini