Kisah Raden Wijaya Pendiri Majapahit yang Dikejar Pasukan Jayakatwang

Doddy Handoko , Okezone · Senin 21 Juni 2021 06:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 21 337 2428236 kisah-raden-wijaya-pendiri-majapahit-yang-dikejar-pasukan-jayakatwang-wYL2dmero6.jpg foto: istimewa

JAKARTA - Dalam kitab Negarakretagama dan buku karya Slamet Muljana 1979, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (Jakarta: Bhratara) diceritakan, Raden Wijaya adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309 M).

Raden Wijaya adalah menantu Raja Singasari yang terakhir yakni Kertanegara (1268-1292). Ia juga senopati atau panglima perang di Kerajaan Singasari.

Baca juga:  Raden Wijaya Hancurkan Tentara Mongol, Dikelabui Akan Diberi Putri Jawa

Nama asli Raden Wijaya adalah Sang Nararya Sanggramawijaya. Ayah Raden Wijaya adalah pangeran dari Kerajaan Sunda Galuh yang bernama Rakyan Jayadarma. Sedangkan ibundanya, Dyah Lembu Tal, adalah cucu Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari.

Rakyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, sehingga Dyah Lembu Tal pulang ke Singhasari membawa serta Wijaya.

Menurut Pustaka" Rajya Rajya Bhumi Nusantara "dan naskah Wangsakerta, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal.

Baca juga:  Gayatri Rajapatni, Kisah Kecantikan Putri Majapahit Bagai Cleopatra

Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasikas, raja kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahesa Campaka dari kerajaan Shinghasari. Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.

Babad Tanah Jawi menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.

Raden Wijaya mewarisi takhta Kerajaan Sunda Galuh, namun memilih mengabdi ke tempat asal ibundanya, yakni Kerajaan Singasari pada era pemerintahan Raja Kertanegara.

Raden Wijaya juga menantu Kertanegara. Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanagara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Tribhuwaneswari dipilih sebagai permasiuri, sedangkan yang lainnya sebagai istri selir.

Selain itu, Raden Wijaya juga memperistri seorang putri Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera bernama Dara Petak. Putri ini dibawa dari Ekspedisi Pamalayu oleh Kerajaan Singasari di tanah Melayu pada 1275 hingga 1286 M.

Menurut prasasti Kudadu pada tahun 1292 M, terjadi pemberontakan terhadap Kerajaan Singasari oleh Bupati Gelang-gelang , Jayakatwang. Pararaton mengisahkan, Jayakatwang mengirim pasukan bernama Jaran Guyang untuk menyerbu Singasari dari arah utara. Raja Kertanegara yang mendengar rencana itu segera memerintahkan menantunya, yakni Raden Wijaya, untuk memimpin pasukan Singasari guna menangkal serangan pasukan Jayakatwang.

Ternyata, pergerakan Jaran Guyang hanya taktik Jayakatwang. Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Jaran Guyang. Namun, Jaran Guyang ternyata hanya pasukan kecil yang dikirim sebagai pengalihan agar pertahanan di ibu kota Singasari kosong.

Jayakatwang mengirimkan pasukan yang jauh lebih besar ke Singasari. Sementara itu, sebagian besar kekuatan militer Singasari yang dipimpin Raden Wijaya belum kembali, pasukan Jayakatwang berhasil menduduki istana, bahkan Raja Kertanegara terbunuh.

Pasukan pimpinan Raden Wijaya tercerai-belai setelah mengetahui Singasari jatuh dan Kertanegara tewas. Bersama pengikut setia yang masih tersisa, Raden Wijaya melarikan diri ke dalam hutan rimba di sekitar aliran Sungai Brantas. Ia dibantu pengawalnya seperti Nambi, Kebo (Mahisa) Anabrang, Lembu Sora, dan Dharmaputra seperti Ra Kuti Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng,dll.

Raden Wijaya melarikan diri hendak berlindung ke Terung di sebelah utara Singhasari. Namun karena terus dikejar-kejar pasukan Kedori, lalu ia memilih pergi ke arah timur. Dengan bantuan kepala desa Kudadu, ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja penguasa Songeneb (nama lama Sumenep).

Bersama Arya Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Wijaya berjanji, jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja.

Awalnya Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Wijaya menyatakan menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu kerajaan Kadiri menerimanya . Ia mengirim utusan untuk menjemput Wijaya di pelabuhan Jungbiru.

Raden Wijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Wijaya mengaku ingin bermukim di sana. Jayakatwang yang gemar berburu segera mengabulkannya tanpa curiga.

Wiraraja mengirim orang-orang Songeneb untuk membantu Wijaya membuka hutan tersebut. Di Kidung Panji Wijayakrama, salah seorang Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit. Oleh karena itu, desa pemukiman yang didirikan Wijaya tersebut diberi nama Majapahit.

Catatan dinasti Yuan mengisahkan, pada tahun 1293 pasukan Mingol sebanyak 20.000 orang dipimpin ike Mase mendarat di pulau Jawa untuk menghukum Kertanegara, karena pada tahun 1289 Kertanagara telah melukai utusan yang dikirim Kubhilai Khan, raja Mongol.

Raden Wijaya memanfaatkan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang. Ia mengajak Ike Mese untuk bekerjasama. Wijaya meminta bantuan untuk merebut kembali kekuasaan Pulau Jawa dari tangan Jayakatwang, dan setelah itu baru ia bersedia menyatakan tunduk kepada bangsa Mongol.

Jayakatwang yang mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan oleh pihak Mongol.

Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit serta Madura bergerak menyerang Daha, ibu kota Kerajaan Kadiri. Jayakatwang akhirnya menyerah dan ditawan dalam kapal Mongol. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Wijaya meminta izin untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga.

Sesampainya di Majapahit, Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya. Ia kemudian memimpin serangan balik ke arah Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan. Serangan mendadak itu membuat Ike Mese kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.

Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya menyerang balik pasukan Mongol dan menghancurkan mereka. Usai itu, ia mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 dengan pusat pemerintahan di Mojokerto. Raden Wijaya menjadi raja pertamanya dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309).

Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309. Ia dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping sebagai Harihara, perpaduan Wisnu dan Siwa.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini