Ramalan Ronggowarsito : Munculnya Pemimpin yang Bersenjata Dzikir

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 20 Juni 2021 07:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 20 337 2427948 ramalan-ronggowarsito-munculnya-pemimpin-yang-bersenjata-dzikir-pqi8x1uWS5.jpeg foto: istimewa

JAYABAYA dan Ronggowarsito dalam ramalannya menyebut jaman kalabendu. Zaman itu dapat diartikan sebagai zaman penuh kesengsaraan. Fitnah menyebar dimana-mana, keluarga terpecah belah, kehidupan susah, kolusi, korupsi dan nepotisme merajalela, dan para pemimpin kehilangan wibawa.

Zaman kalabendu terjadi karena manusia rakus serakah, manusia hatinya panas karena terbakar oleh nafsu angkara murka. Manusia juga hanya berpikir untuk lekas menjadi kaya, serta saling berlomba hidup dalam kemewahan.

Baca juga: Kisah Mengerikan, Prajurit Mataram Dipenggal karena Gagal Merebut Batavia

Selain itu, banyak bapak lupa anak, anak melawan orang tua, saudara melawan saudara, keluarga saling cidera, dan murid melawan guru. Meski begitu, zaman penuh penderitaan itu akan sirna.

Baca juga: Belanda Pusing Hadapi Wong Samin atau Sikep, Uang Pajak Tanah Ditanam ke Bumi

Budayawan Jawa, KP Norman Hadinegoro pun menjelaskan, makna yang terkandung di dalam ramalan serat Ronggowarsito.

"Mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka" (Atas izin Allah SWT, zaman kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murka pun mereda).

 

"Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya" (Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama).

"Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita" (Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur).

"Luwih adil paraarta, lumuh maring branaarta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna" (Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (pemimpin yang memiliki wahyu), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya sirullah prajuritnya (pasukan Allah) dan senjatanya adalah dzikir, musuh semua bisa dikalahkan).

"Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha" (Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara, dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima).

"Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda" (Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan).

"Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata" (Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini