Kisah Buku 'Sarinah' Karya Bung Karno

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 20 Juni 2021 07:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 20 337 2427943 kisah-buku-sarinah-karya-bung-karno-gXAfAHmKvg.jpg Presiden RI pertama, Soekarno (foto: gahetna.nl)

GUNTUR Soekarnoputra, menulis tentang kisah-kisah ringan dan humanis dari Bung Karno yang dituangkan di buku, “Bung Karno : Bapakku, Kawanku, Guruku". Berikut kisahnya.

Ada saja kesibukan Bung Karno selama mengungsi di Yogyakarta. Selain menghadiri sidang kabinet, rapat di daerah, juga memberikan petunjuk dan semangat kepada rakyat daerah dengan mengadakan rapat raksasa. Terutama petunjuk dan semangat berjuang untuk mempertahankan Negara Kesatuan RI.

Baca juga: Ajaran Marhaenisme Warisan Bung Karno

Juga memberikan kursus politik kepada para wanita di Istana Presiden di Yogyakarta hampir setiap bulan sekali.

Di bagian belakang Istana Yogyakarta, terdapat ruangan lebar dan panjang. Di sini Bung Karno selalu menggembleng wanita-wanita Indonesia, memberikan kursus politik kepada para wanita, remaja putri, mahasiswi, dan pelajar putri Indonesia di Yogyakarta.

Baca juga:  Daftar Hal yang Disukai Presiden Soekarno, dari Durian hingga Film Amerika

Selain Bung Karno, beberapa pemimpin lainnya, antara lain Dr. AK Gani, ikut memberikan ceramah dan pidato.

Setiap kali Bung Karno selesai memberi pelajaran, bahannya selalu ditulis dan kemudian dibundel jadi satu. Maka jadilah buku berjudul Sarinah. Sarinah adalah nama wanita pengasuh Bung Karno waktu kecil. Lewat buku itu, nama Sarinah menjadi terkenal di seluruh Tanah Air, bahkan sampai ke luar negeri.

Untuk menjaga kesehatannya, Bung Karno berolahraga di halaman istana. Halaman ini juga digunakan untuk latihan berbaris Polisi Pengawal Pribadi Presiden, dan ia berlari-lari memutari mereka.

Sementara itu Ibu Fatmawati gemar bermain bola keranjang bersama-sama pengawal. Bung Karno juga sempat merancang kolam cantik di halaman dalam Istana Presiden di Yogyakarta.

Selama tinggal di Yogyakarta, Bung Karno dan Ibu Fatmawati kadang-kadang jalan-jalan sore keluar masuk desa dan sawah. Dari Istana Yogyakarta mereka naik mobil. Sesampai di desa atau sawah, mobil diparkir di pinggir jalan dan ditunggu oleh Pak Arif, sopir pribadi BK.

Saat berjalan kaki masuk keluar kampung dan meninjau persawahan, Bung Karno dan Ibu Fatmawati dikawal seorang anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden.

Ketika sedang berjalan kaki dan melihat ada cacing merayap di tengah jalan, Bung Karno memerintahkan pengawalnya untuk memasukkan cacing itu ke sawah.

Ada anggota polisi pengawal merasa jijik memegang cacing, dengan cepat Bung Karno memegang cacing kepanasan itu dan memasukkannya ke sawah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini