Ajaran Marhaenisme Warisan Bung Karno

Tim Okezone, Okezone · Minggu 20 Juni 2021 06:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 19 337 2427738 ajaran-marhaenisme-warisan-bung-karno-2jSmMIb7U3.jpg Soekarno (Ist)

NAMA Proklamator dan Presiden pertama Indonesia, Soekarno memang selalu harum hingga kapanpun. Pribadi berani nan elegan itu berdiri paling depan, membela bangsanya yang kala itu masih berada di bawah jajahan negeri Ratu Wilhelmina.

Sebagai seorang pemikir yang ulung, Bung Karno memiliki pemahaman dan ajaran yang kemudian ditularkan kepada anak bangsa lainnya. Salah satu ajaran yang kemudian menjadi ideologi, dan ramai diperbincangkan adalah marhaenisme.

Kala itu, marhaenisme diperkenalkan Soekarno dalam pleidoi miliknya di tahun 1930. Lambat laun, ideologi ini lantas ia gunakan untuk partai besutannya kala itu, PNI (Partai Nasional Indonesia).

Menurut jurnal yang dikeluarkan UNS, marhaenisme adalah hasil pemikiran Soekarno yang kemudian dirumuskannya dan diyakini orang banyak. Marhaenisme merupakan cerminan terbaik dari Pancasila. Prinsip yang ada di dalam ideologi ini adalah sosio demokrasi dan sosio nasionalisme.

Sosio dekmokrasi ada sebagai bentuk munculnya demokrasi barat, yang dianggap Soekarno bersifat liberalis. Padahal, pergerakan rakyat marhaen diakibatkan karena kemelaratan dan keinginan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sementara itu, sosio nasionalisme menggambarkan kaum marhaen yang ingin melepaskan diri dari jerat kemiskinan dan kapitalisme.

Petani Miskin Inspirasi Proklamator

Usut punya usut, istilah marhaenisme ditemukan Soekarno saat berjumpa dengan seorang petani miskin di Bandung bernama Marhaen, atau kang Marhaen di sekitaran tahun 1920an. Berlandaskan pada catatan dari laman Okezone.com, marhaenisme memang dipilih Soekarno untuk menggambarkan perjuangan rakyat kecil yang rata-rata berprofesi sebagai petani, nelayan, buruh dan pedagang.

Baca Juga : Daftar Hal yang Disukai Presiden Soekarno, dari Durian hingga Film Amerika

Soekarno ingin rakyatnya dapat terbebas dari eksploitasi pada masa penjajahan. Menurut Megawati Soekarnoputri, seperti dikutip dari Okezone.com teori marhaenisme dari ayahnya itu adalah teori progresif, revolusioner dan pesatuan.

Sepanjang tahun 1950 hingga 1965, ideologi marhaenisme dipegang oleh beberapa wadah selain PNI, yakni Gerakan Wanita Indonesia dan Persatuan Rakyat Marhaenis Indonesia. Kesemua wadah itu berperan aktif untuk membantu rakyat kecil.

Akan tetapi, marhaenisme memudar seiring dengan mundurnya Soekarno dari jabatan Presiden pada 1967. Meskipun demikian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan dalam kondisi Indonesia saat ini. Penduduk miskin yang tercatat di data BPS per September 2020 adalah 27,55 juta orang.

Baca Juga : Ketika Bung Karno Tiga Kali Minta Nasehat Kiai Wahab untuk Bebaskan Papua Barat

Soekarno telah mewariskan ideologi marhaenisme kepada generasi di bawahnya. Sudah menjadi tugas kita bersama untuk melanjutkan perjuangan Bapak Bangsa itu dalam menumpas kemiskinan. (diolah dari berbagai sumber/Ajeng Wirachmi/Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini