Bikin Haru, Cerita Mahasiswa Jadi Sarjana Meski Ortu Tak Lulus SD

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 18 Juni 2021 14:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 18 337 2427241 bikin-haru-cerita-mahasiswa-jadi-sarjana-meski-ortu-tak-lulus-sd-n4T7ZDApiX.jpg Cerita haru mahasiswa jadi sarjana (Foto: media sosial)

JAKARTA - Kelulusan mahasiswa meraih gelar sarjana merupakan sebuah kebahagaian. Bukan hanya bagi mahasiswa itu sendiri, namun juga orangtua dan orang-orang yang menyayangi.

Seorang mahasiswa, Widi Astuti membagikan cerita membahagiakannya yang penuh haru. Ia tak kuasa menahan tangis menceritakan kelulusannya menjadi seorang sarjana yang menjadi buah kebahagiaan kedua orangtuanya.

Baca Juga:  Kisah Mahasiswi Cantik Hobi Menulis Berbuah Rupiah

Melalui akun Tiktok @widiastuti, ia bercerita jika ayah dan ibunya hanya mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Itu pun tidak lulus, hanya sampai kelas 3. Namun, pesan sang bapak yang tertanam dalam benaknya, kalau dirinya harus sukses dan jangan menjadi orang bodoh seperti bapaknya.

"Bapaku tidak lulus SD, kalau ditanya terakhir sekolah SD kelas 3 atau 4. Bapakku pernah bilang "jangan menjadi bodoh seperti Bapak, bapak pingin kalian sekolah yang tinggi dan kalian sukses," katanya seperti dilihat Okezone, Jumat (18/6/2021).

Ia mengaku berkali-kali gagal masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui berbagai jalur, baik SNPMTN, SBMPTN hingga jalur prestasi. Namun, sang ayah kerap memberikannya semangat untuk menempuh pendidikan di PTN.

"Saat berusaha masuk perguruan tinggi aku berkali2 gagal. Dan SNMPTN, SBM, utul, jalur prestasi. Saat ujian mandiri gelombang terakhir UNY bapaku bilang "semangat. Bapak dukung kamu kuliah. Bapak orang ga mampu, usahakan masuk PTN ya nduk"," katanya.

"Saat bapaku bilang begitu, aku yg udah hampir putus asa tbtb semangat bgt!" imbuhnya.

Baca Juga:  Dear Mahasiswa, Rektor UNS Paparkan Hal Penting Ini untuk Kuliah Daring

Tak hanya ayahnya, sang ibu katanya juga memiliki peran penting. Ibu yang selalu mengajarkannya cara berhitung dan membaca sejak kecil. Ia pun mengaku lebih dekat dengan ibu dan selalu diingatkan agar tidak neko-neko.

"Ibuk yang selalu nganter aku berangkat dan pulang sekolah naik sepeda onthel. Aku juga ingat, ibuku yang nganterin aku berangkat lomba deklamasi puisi waktu TK hingga aku bisa bawa piala. Ibuku ga bisa naik motor karena trauma pernah jatuh. Kadang dulu pas SD kalau dijemput ibuk naik sepeda suka malu, karena teman2ku dijemput naik motor," tulisnya.

Sampai akhirnya ia berhasil masuk PTN. Saat masuk kuliah, teman-temannya selalu menceritakan bahwa kedua orangtua mereka adalah para lulusan sarjana. Dirinya kadang merasa sedih, ketika ingat bahwa orangtuanya hanya sebentar mengenyam bangku sekolah.

Namun, ia tersadar dan bangga sekali walaupun mereka berdua tidak lulus SD namun selalu mampu memotivasi dan mendukung ketiga anaknya.

"Saat kelulusan bapak dan ibuku tidak tahu kalau namanya akan disebut ketika aku berjabat tangan dengan Bapak Rektor. Saat selesai wisuda, mereka memeluk dan berkata "bapak dan ibu bahagia sekali nduk," tuturnya.

Dia juga memposting, tidak hanya dirinya yang mengenyam bangku kuliah. Namun, saudaranya juga demikian.

"Anak pertama Mas Zoe Adm Negara UNS, Anak kedua Mb Anti PGPAUD UNY, anak ketiga Widi Psikoligi UNY," pungkasnya.

"Setelah aku wisuda dan diterima kerja, aku ijin dengan Bapak dan Ibu utk melanjutkan kuliah S2. Aku tau, bahwa sebenarnya Bapakku terkendala biaya tapi beliau benar2 dengan tegas bilang "tak dukung pokoke," tuturnya.

"Dan alhamdulillahnya lagi. Allah sangat baik...Aku menjadi salah satu penerima beasiswa magister di UNY. Sehat dan bahagia selalu ya Pak Bu. Semoga Allah memberikan umur panjang utk Bapak dan Ibu," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini