Belanda Pusing Hadapi Wong Samin atau Sikep, Uang Pajak Tanah Ditanam ke Bumi

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 17 Juni 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 337 2426446 belanda-pusing-hadapi-wong-samin-atau-sikep-uang-pajak-tanah-ditanam-ke-bumi-x6RRxLbPRW.jpg Anggota suku Wong Sikep. (Foto: Doddy Handoko)

MASYARAKAT Samin atau Wong Sikep adalah salah satu suku yang ada di Indonesia. Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi Pati dan Grobogan. 

Kelompok Samin lebih suka disebut Wong Sikep, karena kata samin bagi mereka mengandung makna negatif. 

Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, jujur, menolak membayar pajak. Kadang menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat lainnnya. Samin dikupas Sastroatmodjo, Suryanto (1952). di buku Masjarakat Samin (Blora). Central Java, Indonesia: 

Di Sukolilo, Pati, mereka tinggal di dukuh Bombong, satu dari lima dukuh di Desa Baturejo.

Masyarakat Samin mengisolasi diri, hingga baru pada tahun '70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka.

Baca juga: Kisah Sultan Agung Taklukkan Pati, Adipati Pragola II Tewas Ditusuk Tombak Pusaka

Kelompok Samin ini tersebar sampai Jawa Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Pati,(Jawa Tengah) dan Bojonegoro (Jawa Timur) yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua wilayah.

Sehari-hari wong Sikep di Bombong. Pagi hari mereka pergi ke sawah hingga siang atau bahkan sore hari. Malam hari hidup mereka diisi dengan mencari ikan untuk lauk-pauk. 

Misalnya ketika ditanya, mengapa mereka menyebut diri sebagai wong Sikep? "Wong lanang iku sikep rabi. Sira wong lanang, ya rabi karo wong wedhok. Wong wedhok ya sikep laki. Apa kang bedha?"

Ada sebuah kisah yang membuat Belanda jengkel dan akhirnya mundur melawan orang samin adalah ketika mereka ditagih untuk membayar pajak.

Baca juga: Kisah Pedih Ronggolawe, Tewas di Sungai Dalam Duel dengan Kebo Anabrang

Orang Samin mengambil uang dan mengubur di depan petugas Belanda. "Saya menanam di bumi, mengambil hasil bumi dari tanah, jadi tidak perlu membayar pajak ke Pemerintah tetapi membayar pajak ke tanah,” 

Ketika orang Samin ditanya ”anake piro pak?” (anaknya berapa? mereka akan selalu menjawab ”loro” (dua) meskipun mereka memiliki anak lebih dari itu. Karena konsep yang tertanam dalam pikiran mereka atas pertanyaan tersebut tidak merujuk pada jumlah tetapi jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan.

Jawaban yang berbeda akan kita dapatkan jika kita menggunakan pertanyaan yang berbeda yakni ”anake panjenengan cacahe piro?” (anak anda jumlahnya berapa?) baru mereka akan menjawab jumlah yang sebenarnya. 

Contoh lain ketika orang Samin ditanya tentang ”saking pundi pak?” (darimana pak?)mereka akan selalu menjawab ”saking wingking”(dari belakang) dan jika ditanya ”bade ten pundi pak?” (akan kemana? ) mereka akan selalu menjawab ”bade ten ngajeng”(akan ke depan). 

Bila orang Samin disidangkan di pengadilan, perkara pencurian kayu jati, hakim yang belum berpengalaman akan kerepotan menghadapi orang Samin.

Ketika hakim bertanya, “sopo jenengmu? (siapa namamu?)”, mereka pasti menjawab, “lanang” - (laki-laki)”. Mereka baru akan mengatakan namanya bila ditanya “Sopo pengaranmu? - (sebutanmu)”.

Begitu vonis dijatuhkan, mereka pun akan protes keras bila dinyatakan bersalah mencuri kayu jati, dan dihukum tujuh hari, misalnya. Sebab, menurut mereka, hutan jati milik bersama, dan karenanya kayunya boleh dinikmati siapa pun yang memerlukan. 

Mengambil kayu jati yang dikuasai Perhutani bukan mencuri. Tetapi mereka akan dengan rela tinggal di penjara sepanjang waktu yang dinyatakan vonis, bila disebut bahwa dirinya di penjara itu diundang bergotong royong. 

Seorang bapak menyuruh anaknya pergi ke sawah, katanya, “Tunggui padimu.” Si anak tanpa banyak cakap langsung pergi ke sawah dan duduk di dangau. Puluhan burung pipit yang menyerbu padi yang mulai bernas, dibiarkannya saja. 

Melihat itu, seorang yang lewat lalu menegur, “Mengapa burung yang makan padimu itu tak kauusir?” Dengan tenang, tanpa rasa salah, anak tadi menjawab, “Saya hanya disuruh untuk menunggu padi, bukan mengusir burung.”

Orang-orang Samin di situ tak memercayai pendidikan formal seperti yang dikenal umum. ''Sekolah'' yang dimaksud itu, hamparan sawah yang hampir setiap hari mereka datangi dan menjadi sumber utama penghidupan mereka.

Mereka akan mengatakan,''Apa kang aran sekolah? Iku lak ngajarke budi pekerti lan ketrampilan. Kabeh diajarke ning pondhokane sedulur-sedulur Sikep. Ketrampilan ya diajarke ning sawah-sawah. (Apa yang disebut sekolah? Itu kan mengajarkan budi pekerti dan keterampilan. Semua diajarkan di rumah orang Sikep. Keterampilan ya diajarkan di sawah-sawah). 

Dalam kaitan penerapan nama agama dalam KTP, selama ini masih ada ketidaksepakatan antara wong Sikep dan staf di balai desa. Mereka menginginkan agama yang dicantumkan adalah ''agama Adam'' seperti yang mereka yakini.

Sudah pasti itu jadi persoalan dalam pembuatan KTP yang memang tak mengenal agama tersebut. Yang terjadi selanjutnya adalah pengosongan nama agama.

Orang Samin juga memiliki "kitab suci". "Kitab suci"' itu adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri atas beberapa buku, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, Serat Lampahing Urip, dan merupakan nama-nama kitab yang amat populer dan dimuliakan oleh orang Samin.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini