Tangisan Soekarno, Putra Sang Fajar

Suhudmen, MNC Media · Kamis 17 Juni 2021 05:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 337 2426394 tangisan-soekarno-putra-sang-fajar-LBubzhV7xJ.jpg Foto: Istimewa

Penahanan sebenarnya bukanlah sesuatu yang terlalu mengejutkan bagi Sukarno. Di masa Hindia Belanda, Sukarno kerap kali mengalaminya. Namun kini masalahnya berbeda, tubuhnya sudah ringkih dan juga mengalami komplikasi penyakit.

“Di Wisma Yaso Bung Karno tidak mendapatkan perawatan yang semestinya bahwa misalnya, ada resep yang dibuatkan oleh dokter itu tidak dipenuhi. Dan kita tau bahwa Bung karno itu sendiri menderita sakit ginjal dan itu tidak di obati gitu. Sehingga ya Bung Karno ya seperti dibunuh secara perlahan-lahan di sana gitu,” ucap sejarawan Asvi Warman Adam lirih.

Hari-hari Sukarno di Wisma Yaso hanya ditemani kesepian, sekedar teman untuk bicara pun sangat mahal untuk didapatinya. Anak-anak Sukarno hanya diizinkan menengok dengan waktu terbatas, pembicaraan dan tingkah laku mereka juga selalu diawasi oleh para penjaga yang diutus oleh penguasa.

Baca juga: Menguak Rivalitas Soeharto 'The Smiling General' dengan Soekarno

Kesepian inilah yang mengikis habis seluruh semangat hidup Putra Sang Fajar. Tubuhnya pun kian renta karena digerogoti oleh berbagai penyakit yang mendera. 16 Juni 1970, kondisi kesehatan Sukarno semakin parah. Meski sempat menolak, akhirnya Bung Karno dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto oleh tim dokter.

Setelah 4 hari dirawat di RSPAD, Bung Hatta datang menjenguk sahabat seperjuangannya. Seketika Bung Karno seperti diberi kekuatan untuk menyaksikan kedatangan sahabatnya.

Menurut Asvi Warman Adam, ”ketika Bung Hatta datang dan bertemu dengan Bung Karno, Bung Karno ketika itu memegang tangan Hatta dan mereka tidak banya berbicara ya, tetapi ketika itu Bung Karno menangis begitu. Terlepas pernah berpisah secara politik yang satu pernah mengkritik yang lain tetapi persahabatan mereka itu tetap abadi sampai akhir hayatnya.”

Baca juga: Foto Bersejarah! Momen Langka Bung Karno dengan Ibunda Tercinta di Teras Rumah

Mendapat perawatan medis di RSPAD tidak menambah baik kondisi Sukarno saat itu. Obat-obatan yang diberikan dokter enggan diminumnya. Sukarno juga kerap menolak ketika akan disuntik oleh dokter. Setelah menderita sakit berkepanjangan, 21 Juni 1970 Sukarno, Putra Sang Fajar menghembuskan nafas terakhirnya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini