Tangisan Soekarno, Putra Sang Fajar

Suhudmen, MNC Media · Kamis 17 Juni 2021 05:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 337 2426394 tangisan-soekarno-putra-sang-fajar-LBubzhV7xJ.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - 51 tahun yang lalu bangsa Indonesia berduka. Pada 21 Juni 1970, Sukarno menghembuskan nafas terakhirnya setelah menderita sakit berkepanjangan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Sukarno, presiden pertama Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan bangsa, ketegasan dan kecerdasannya membuat pria yang akrab disapa Bung Karno ini juga dikagumi oleh masyarakat dunia.

Namun di akhir hayatnya, Putra Sang Fajar harus mengalami pemenjaraan fisik dan psikis yang membuat kesehatannya menurun dengan cepat. Negeri yang dulu turut dia bantu kelahirannya justru jadi negeri yang memenjarakannya.

Beberapa minggu sesudah sidang MPRS 1967, Sukarno tetap tinggal di istana. Meski begitu, lama kelamaan jelas bahwa sebenarnya Bung Karno menjadi tahanan kota.

Pemimpin besar revolusi yang dulunya dipuja dan disanjung, kini seiring dengan perubahan konstelasi sosial politik secara perlahan mulai dipinggirkan dari pusat kekuasaan. Mei 1967, Sukarno tak lagi diizinkan memakai gelar presiden, panglima tertinggi angkatan bersenjata dan mandataris MPRS.

Baca juga: Sisi Lain Soekarno: Hindul-Hindul Markindul Kata Sandi Istri Muda Bung Karno

Menurut Sidarto Danusubroto, Mantan Ajudan Sukarno, “16 Agustus 1967, Sukarno diminta angkat kaki meninggalkan istana presiden. Dengan tenang, Bung Karno hanya membawa bendera pusaka dan pakaian yang ada. Tidak membawa apa-apa lagi.”

Tak lagi jadi presiden, penanganan masalah kesehatan Sukarno jauh dari memadai. Tim dokter kepresidenan yang telah lama merawat dan paham seluk beluk kesehatannya juga dibubarkan. Menjadi tahanan kota turut membuat kondisi kesehatan Sukarno memburuk.

Baca juga: Puan Maharani Hobi Makan di Pinggir Jalan

Kondisi kesehatan yang kian memburuk membuat Sukarno kemudian menulis surat yang isinya meminta agar diizinkan kembali ke Jakarta. Surat tersebut dibawa oleh Rachmawati, putri kedua Sukarno untuk disampaikan kepada Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto pun mengabulkan permintaan Sukarno agar bisa kembali tinggal di Jakarta. Bung Karno pun diizinkan tinggal di Wisma Yaso, rumah yang dulu pernah ditempati Ratna Sari Dewi, istri kelima Sukarno. Namun ternyata hidup Sukarno di Wisma Yaso menambah siksaan baginya. Gerak-geriknya justru semakin dibatasi. Segala fasilitas kepresidenan yang selama ini melekat pun tak lagi bisa dinikmati.

Penahanan sebenarnya bukanlah sesuatu yang terlalu mengejutkan bagi Sukarno. Di masa Hindia Belanda, Sukarno kerap kali mengalaminya. Namun kini masalahnya berbeda, tubuhnya sudah ringkih dan juga mengalami komplikasi penyakit.

“Di Wisma Yaso Bung Karno tidak mendapatkan perawatan yang semestinya bahwa misalnya, ada resep yang dibuatkan oleh dokter itu tidak dipenuhi. Dan kita tau bahwa Bung karno itu sendiri menderita sakit ginjal dan itu tidak di obati gitu. Sehingga ya Bung Karno ya seperti dibunuh secara perlahan-lahan di sana gitu,” ucap sejarawan Asvi Warman Adam lirih.

Hari-hari Sukarno di Wisma Yaso hanya ditemani kesepian, sekedar teman untuk bicara pun sangat mahal untuk didapatinya. Anak-anak Sukarno hanya diizinkan menengok dengan waktu terbatas, pembicaraan dan tingkah laku mereka juga selalu diawasi oleh para penjaga yang diutus oleh penguasa.

Baca juga: Menguak Rivalitas Soeharto 'The Smiling General' dengan Soekarno

Kesepian inilah yang mengikis habis seluruh semangat hidup Putra Sang Fajar. Tubuhnya pun kian renta karena digerogoti oleh berbagai penyakit yang mendera. 16 Juni 1970, kondisi kesehatan Sukarno semakin parah. Meski sempat menolak, akhirnya Bung Karno dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto oleh tim dokter.

Setelah 4 hari dirawat di RSPAD, Bung Hatta datang menjenguk sahabat seperjuangannya. Seketika Bung Karno seperti diberi kekuatan untuk menyaksikan kedatangan sahabatnya.

Menurut Asvi Warman Adam, ”ketika Bung Hatta datang dan bertemu dengan Bung Karno, Bung Karno ketika itu memegang tangan Hatta dan mereka tidak banya berbicara ya, tetapi ketika itu Bung Karno menangis begitu. Terlepas pernah berpisah secara politik yang satu pernah mengkritik yang lain tetapi persahabatan mereka itu tetap abadi sampai akhir hayatnya.”

Baca juga: Foto Bersejarah! Momen Langka Bung Karno dengan Ibunda Tercinta di Teras Rumah

Mendapat perawatan medis di RSPAD tidak menambah baik kondisi Sukarno saat itu. Obat-obatan yang diberikan dokter enggan diminumnya. Sukarno juga kerap menolak ketika akan disuntik oleh dokter. Setelah menderita sakit berkepanjangan, 21 Juni 1970 Sukarno, Putra Sang Fajar menghembuskan nafas terakhirnya.

Hingga akhir hayatnya, Sukarno masih tetap di bawah kendali penguasa. Pasalnya keputusan keluarga untuk memakamkan jenazah sang Proklamator di Batutulis, Bogor tidak dikabulkan. Presiden Soeharto memutuskan tempat peristirahatan terakhir Sukarno di Blitar karena di sanalah ayah dan ibunya dikuburkan.

Diiringi isak tangis keluarga dan jutaan rakyat, pemakaman Sukarno sang pemimpin besar revolusi berlangsung dengan sederhana namun tetap khidmat. Panglima TNI Jenderal M. Panggabean bertindak sebagai inspektur upacara mewakili Presiden Soeharto yang tidak ikut ke Blitar.

Bapak Proklamasi, sang penyambung lidah rakyat Indonesia yang dikenal sebagai sosok berkarisma, berwibawa dan tegas saat menjadi pemimpin pergi untuk selamanya dengan menyandang status tahanan politik.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini