Kisah Sultan Agung Taklukkan Pati, Adipati Pragola II Tewas Ditusuk Tombak Pusaka

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 16 Juni 2021 06:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 16 337 2425831 kisah-sultan-agung-taklukkan-pati-adipati-pragola-ii-tewas-ditusuk-tombak-pusaka-qv2nF3nZOb.jpeg Sultan Agung. (Foto: Istimewa/Idsejarah)

H. J DE GRAAF dan T.H. Pigeaud di buku ‘Kerajaan Islam Pertama di Jawa’, terjemahan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti menceritakan pemberontakan kadipaten Pati terhadap Kerajaan Mataram era Sultan Agung

Adipati Pragola II, beristrikan Raden Ajeng Tulak atau Ratu Mas Sekar yg merupakan Adik Sultanbl Agung. Maka, Adipati Pragola II adalah adik ipar Sultan Agung.

Pada masa kepemimpinanya, sang adipati meneruskan kebijakan ayahnya, yang menyatakan bahwa Pati dan Mataram sederajat. Ia tidak mau mengikuti Pisowanan Agung yang diwajibkan bagi bawahan Mataram. 

Baca juga: Kisah Pesantren Internasional Sunan Giri yang Ditaklukkan Sultan Agung

Awalnya, Sultan Agung masih membiarkan ketidakhadiran adik iparnya itu. Daerah Pati, termasuk wilayah basis kekuatan bagi Mataram, dan Kadipaten yang paling kuat karena satu-satunya wilayah yang belum terkalahkan.

Akhir dari hubungan Mataram-Pati, adalah dengan meletusnya Perang Pati. Penyerangan Pati ke Jepara karena sebuah konflik.

Namun, oleh Patih Endranata, Pati dilaporkan akan memberontak dari Mataram. Akibatnya, Sultan Agung memutuskan untuk menyerbu Pati dari tiga penjuru, yaitu Timur, Selatan dan Barat.

Baca juga: Ketika Makam Gaib Sultan Agung Muncul di Giriliyo

Ratusan ribu prajurit Mataram dikerahkan untuk menghancurkan Pati. Sebagai Senapatinya, Mataram menunjuk Tumenggung Alap-Alap. 

Pasukan dari arah Timur, yang dipimpin Adipati Martoloyo membawai pasukan Mancanegara, dan bermukim di Pekuwon Juwana bagian timur.

Pasukan Mataram dari arah selatan dipimpin oleh Pangeran Madura yg membawahi prajurit Kedu, Begalan dan Pamijen, pasukan ini mendirikan tenda-tenda perkemahan di kaki Gunung Kendeng sekitar daerah Cengkalsewu sebelah selatan Pati. 

Pasukan dari arah barat dipimpin oleh bupati Sumedang yang membawahi pasukan khusus berkuda, pasukan ini mendirikan barak di sekitar wilayah Matraman Margorejo sebelah barat Pati.

Terakhir keluarga raja yang memimpin pasukan-pasukan Pamejagan mataram. Pengawal pribadi terdiri dari 2.000 prajurit. 

Dalam pertempuran ini, Adipati Pragola II dibantu oleh enam tumenggung. Keenam tumenggung tersebut yaitu, Tumenggung Mangunjaya, Adipati Kenduruan, Tumenggung Ramananggala, Tumenggung Tohpati, Adipati Sawunggaling, Tumenggung Sindurejo, serta seluruh rakyat Pati. 

Pada hari Jumat Wage, tanggal 4 Oktober 1627 M, Adipati Pragola II tewas setelah tertusuk tombak Kyai Baru milik Sultan Agung yang diserahkan pada Lurah Kapedak, Naya Derma. Sang adipati meninggal dan dikebumikan di Sendang Sani. 

Setelah wafatnya Adipati Pragola II, Sultan Agung menemui adiknya, Ratu Mas Sekar, istri dariadipati.

Sultan Agung menanyakan alasan pemberontakan Pati terhadap Mataram. Ratu Mas Sekar menjawab bahwa semua berita yang didengar oleh sang sultan adalah berita yang dipalsukan oleh Patih Endranata. Patih Endranata akhirnya ditangkap dan dieksekusi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini