Penyalahgunaan Narkotika Marak, Ini Jenis-Jenis Narkoba yang Marak Beredar di Masyarakat

Tim Okezone, Okezone · Selasa 15 Juni 2021 05:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 14 337 2425049 penyalahgunaan-narkotika-marak-ini-jenis-jenis-narkoba-yang-marak-beredar-di-masyarakat-0sF5oXQowB.jpg Foto: MNC Portal Indonesia.

JAKARTA - Penyalahgunaan narkotika masih marak terjadi di masyarakat luas. Minimnya pemahaman soal bahaya Narkoba menjadi salah satu penyebab dari tingginya angka penyalahgunaan obat-obatan berbahaya tersebut.

Lantas, apa saja jenis-jenis narkotika yang marak beredar saat ini? Berikut daftarnya, seperti yang dihimpun Litbang MPI dari berbagai sumber:

1. Ganja

Jenis narkotika ini sudah pasti familiar di seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Beberapa pesohor tanah air juga banyak yang terjerat kasus penyalahgunaan ganja dalam beberapa tahun belakangan ini.

Menurut UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime), jumlah tanaman ganja di Indonesia yang berhasil ditemukan adalah sebanyak 41.266,74 kg di tahun 2018. Angka tersebut menurun sebanyak 72,79% dari tahun 2017. Dimana, pada tahun tersebut jumlah tanaman ganja yang disita mencapai 151.670,90 kg.

BACA JUGA: Kapolri: Temuan 1,129 Ton Sabu Berasal dari Afrika dan Timur Tengah

Sementara itu, berdasarkan data yang dipubilkasikan oleh BNN, jumlah tanaman ganja yang berhasil disita BNN adalah sebanyak 66,199 ton pada 2018 dan 2,6 ton di tahun 2019.

Lanjutnya jika seseorang mengonsumsi ganja dapat meningkatkan risiko gangguan mental, seperti depresi, cemas dan ketergantungan. Apabila ganja dikonsumsi setiap hari akan memperbesar risiko terjadinya gangguan kecemasan.

2. Ekstasi

Merupakan zat psikodisleptik atau zat pengganggu, ekstasi mampu merubah aktivitas otak hingga menyebabkan perubahan suasana hati si pemakainya. Efek terparahnya, ekstasi dapat menyebabkan cedera dan pendarahan otot, ginjal serta jantung apabila terjadi overdosis. Pada tahun 2019, BNN berhasil menyita 383.521 butir pil ekstasi di Indonesia.

BACA JUGA: Pengungkapan Sabu 1 Ton, Kapolri: Kita Terus Perang Terhadap Narkoba!

Sebelum itu, yakni pada 2017 dan 2018 data UNODC menyebut terdapat 480,53 kg dan 951,94 kg ekstasi yang berhasil disita di Indonesia. Meskipun mengalami pengurangan lebih dari 49%, namun tetap saja ekstasi menjadi jenis narkotika mematikan jika seseorang berani menyentuhnya.

3. Sabu-Sabu

BNN mencatat, terjadi penurunan kepemilikan sabu-sabu di Indonesia. Jika pada 2018 jumlahnya mencapai 1,6 ton, pada 2019 jumlah sabu-sabu yang berhasil disita menurun drastis menjadi hanya 1,05 ton.

Sama seperti efek penggunaan pada jenis narkotika lain, pemakai sabu juga akan mendapat masalah pada jantungnya seperti denyut jantung tidak teratur dan meningkatkan tekanan darah. Jika sudah dosis sabu pada tubuh sudah mencapai ambang batas maksimumnya, maka akan mengakibatkan kejang-kejang, meningkatnya suhu tubuh hingga kematian.

4. Heroin dan Morfin

Melansir data milik UNODC, jumlah heroin dan morfin yang berhasil disita di Indonesia adalah 1,41 kg pada 2018 dan 0,46 kg pada 2017. Sementara itu, BNN melalui BNNP hanya memiliki data penyitaan heroin pada 2019 saja, yakni sebanyak 198,40 gram atau 0,198 kg. meskipun jumlahnya terus menurun, namun heroin dan morfin tetap memiliki dampak negatif bagi kesehatan.

Saat seseorang mengonsumsi heroin, maka orang tersebut akan mengalami rasa nyaman dan santai yang luar biasa. Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, maka akan mengalami overdosis.

Efek heroin jangka pendek yang dirasakan adalah mulut terasa kering dan anggota tubuh sulit digerakkan. Selain itu, si pengguna juga akan mengalami masalah pencernaan, gangguan hormon, gangguan hati dan gangguan saraf.

Untuk morfin, jika dikonsumsi berlebih akan mengakibatkan sakit kepala yang hebat, insomnia dan melemahnya otot. Dalam janga panjang, penggunanya akan mengalami kecanduan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini