Kisah Ki Ageng Pemanahan Minum Air Kelapa Ki Ageng Giring yang Bisa Turunkan Raja Jawa

Doddy Handoko , Okezone · Senin 14 Juni 2021 06:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 14 337 2424630 kisah-ki-ageng-pemanahan-minum-air-kelapa-ki-ageng-giring-yang-bisa-turunkan-raja-jawa-lNmLBAh7AB.jpeg Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pamenahan. (Foto: Istimewa/GKJNehemia)

DALAM Babad Tanah Jawi diceritakan, setelah mengalahkan Adipati Jipang, Arya Pebangsang, tahun 1549, Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah tanah Mataram tahun 1556.

Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah berupa tanah Mataram dan Pati. Ki Pamanahan yang merasa lebih tua mengalah memilih Mataram yang masih berupa hutan lebat, sedangkan Ki Penjawi mandapat daerah Pati yang sudah ramai, berwujud kota. 

Mataram adalah bekas kerajaan kuno yang runtuh tahun 929. Seiring berjalannya waktu, daerah ini semakin sepi sampai akhirnya tertutup hutan lebat. Masyarakat menyebut hutan itu dengan nama alas Mentaok.

Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, Hadiwijaya dilantik menjadi raja baru penerus Kesultanan Demak. Pusat kerajaan dipindah ke Pajang.

Baca juga: Kisah Peperangan Kadipaten Madiun & Mataram Berujung Percintaan

Pada acara pelantikan, Sunan Prapen cucu Sunan Giri meramalkan kelak di daerah Mataram akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih besar dari Pajang.

Ramalan itu membuat Hadiwijaya resah. Sehingga penyerahan Alas Mentaok kepada Ki Pamanahan ditunda-tunda sampai tahun 1556.

Sejak tahun 1556 itu, Ki Pamanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani pindah ke hutan Mentaok yang kemudian dibuka menjadi Desa Mataram. Ki Pamanahan menjadi kepala desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. 

Baca juga: Kebengisan Amangkurat I, Kurung 60 Dayang Istana di Dalam Kamar Sampai Mati

Sesudah membuka Desa Mataram, Ki Pamanahan pergi mengunjungi sahabatnya di Desa Giring. Pada saat itu Ki Ageng Giring baru saja mendapatkan buah kelapa muda bertuah yang jika diminum airnya sampai habis, si peminum akan menurunkan raja-raja Jawa. 

Ki Pamanahan tiba di rumah Ki Ageng Giring dalam keadaan haus. Ia langsung menuju dapur dan menemukan kelapa muda itu. Dalam sekali teguk, Ki Pamanahan menghabiskan airnya.

Ki Giring tiba di rumah sehabis mandi di sungai. Ia kecewa karena tidak jadi meminum air kelapa bertuah tersebut. 

Ki Ageng Giring pasrah pada takdir bahwa Ki Ageng Pamanahan yang dipilih Tuhan untuk menurunkan raja-raja Jawa. Ki Ageng Giring menyampaikan keinginan kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram.

Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ketujuh. 

Ki Ageng Pamanahan memimpin Desa Mataram sampai meninggal tahun 1584. Ia digantikan putranya, Sutawijaya yang kemudian menjadi raja Mataram Islam dengan nama Panembahan Senopati.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini