Siapa Brawijaya, Nama Raja atau Gelar di Majapahit?

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 12 Juni 2021 06:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 12 337 2423994 siapa-brawijaya-nama-raja-atau-gelar-di-majapahit-q6yMGQ7IQ3.jpg Ilustrasi Raja Majapahit (Foto: Ist)

BRAWIJAYA atau Prabu Brawijaya adalah gelar raja Majapahit. Terdapat nama Brawijaya V yang dianggap raja terakhir.

Gelar ini diragukan karena tidak ada sumber dari masa Majapahit yang menyebutkan adanya gelar Brawijaya. Istilah "Brawijaya" baru muncul dalam karya-karya sastra berbentuk babad dan serat , seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, dan Serat Darmogandul serta sumber cerita rakyat.

Nama Brawijaya masih menjadi misteri. Nama itu tidak pernah dijumpai di naskah Negarakretagama dan Pararaton atau prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna "baginda". Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.

Baca Juga: Tribhuwana Tunggadewi, Ratu Majapahit yang Menaklukkan Nusantara

Berdasarkan Babad Tanah Jawi tidak terlalu jelas tentang Brawijaya, nama gelar atau nama seseorang. Brawijaya V dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha diberitakan wafat pada tahun 1478 M akibat serbuan putranya, Raden Patah. Serat Kandha menyebut Brawijaya V sebagai putra pasangan Damarwulan dan Kencanawungu. Pasangan ini sebenarnya adalah Wikramawardhana dan Kusumawardhani.

Keturunan mereka yang menjadi raja Majapahit adalah Sri Suhita dan Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya, bertahta 1447 M-1451 M. Berdasarkan urutan raja Majapahit setelah Raden Wijaya, Kertawijaya menempati urutan 5. Maka Kertawijaya disebut juga sebagai Brawijaya V.

Berdasarkan prasasti Jiyu 1486 M, yang menjadi raja Majapahit adalah Girindrawardhana dyah Ranawijaya, putra bungsu Rajasawardhana dyah Wijayakumara. Dyah Ranawijaya keturunan keenam Raden Wijaya dan Rajapatni dyah Gayatri. Karenanya dapat dikatakan pula sebagai Brawijaya.

Baca Juga: Kisah Raja Majapahit Dipenggal Kepalanya dalam Perang Saudara

Dalam catatan Tome Pires, pengembara Portugis yang datang ke Jawa Timur pada 1513 M dan berdiam di Malaka, 1512 M-1515 M, ditulis kisah perjalanannya dalam buku Suma Oriental atau Catatan Dunia Timur. Tome Pires menulis, raja Jawa saat itu adalah Batara Vigiaya, dan raja sebelumnya adalah Batara Mataram yang menggantikan ayahnya, Batara Sinagara.

Tokoh ini yang dimaksud Tome Pires sebagai Batara Vigiaya. Ranawijaya yang pernah menjadi Bhre Kertabhumi ,dikenal pula dengan nama disebut Brawijaya V.

Sedang di naskah kronik China yang ditemukan dalam kuil Sam Po Kong di Semarang , mengisahkan akhir Kerajaan Majapahit sampai berdirinya Kerajaan Pajang.

Raja terakhir Majapahit bernama Kung-ta-bu-mi. Salah satu putranya bernama Jin Bun yang dibesarkan oleh Swan Liong, putra Yang-wis-si-sa dari seorang selir China. Pada tahun 1478, Jin Bun menyerang Majapahit dan membawa Kung-ta-bu-mi secara hormat ke Bing-to-lo.

Kung-ta-bu-mi merupakan ejaan China untuk Bhre Kertabhumi. Jin Bun dari Bing-to-lo adalah Panembahan Jimbun alias Raden Patah dari Demak Bintara. Swan Liong identik dengan Arya Damar. Sedangkan Yang-wi-si-sa bisa berarti Hyang Wisesa alias Wikramawardhana , atau bisa pula Hyang Purwawisesa. Keduanya sama-sama pernah menjadi raja di Majapahit.

Pada 1486, Nyoo Lay Wa tewas karena unjuk rasa penduduk pribumi. Maka, Jin Bun pun mengangkat iparnya, yaitu Pa-bu-ta-la, menantu Kung-ta-bu-mi, sebagai bupati baru.

Tokoh Pa-bu-ta-la identik dengan Prabu Nata Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya dalam prasasti Jiyu 1486. Jadi, menurut berita China tersebut, Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya adalah saudara ipar sekaligus bupati bawahan Raden Patah. Dengan kata lain, Bhra Wijaya adalah menantu Bhre Kertabhumi menurut kronik China.

Sedang dalam babad tanah jawi ada sebuah candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “Sirna hilanglah kemakmuran bumi”.

Ada pendapat bahwa candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, atau Brawijaya V, raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini