Hendardi: Komnas HAM Terpancing Genderang yang Ditabuh 51 Pegawai Tak Lulus TWK

Fahmi Firdaus , Okezone · Kamis 10 Juni 2021 12:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 10 337 2422939 hendardi-komnas-ham-terpancing-genderang-yang-ditabuh-51-pegawai-tak-lulus-twk-sk7MGLOPEo.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Pemanggilan yang dilakukan Komnas HAM terhadap pimpinan KPK dan BKN dinilai tidak tepat tetapi dan berkesan mengada-ada. Pasalnya, pemanggilan tersebut seperti hanya terpancing irama genderang yang ditabuh 51 pegawai KPK yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

(Baca juga: Dewas Proses Laporan Dugaan Pelanggaran Etik Pimpinan KPK Lili Pintauli Siregar)

Demikian diutarakan Ketua Setara Institute Hendardi menanggapi pemanggilan pimpinan KPK dan polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK)

“TWK yang diselenggarakan KPK melalui vendor BKN dan beberapa instansi terkait yang profesional adalah semata urusan administrasi negara dan masuk dalam lingkup hukum tata negara,”ujar Hendardi dalam keterangannya, Kamis (10/6/2021).

Pasalnya kata dia, hal ini merupakan perintah Undang-Undang dalam rangka alih tugas pegawai KPK menjadi ASN. Oleh karena itu, jika ada penilaian miring atas hasil TWK ini dapat diselesaikan melalui hukum administrasi negara, bukan wilayah hukum HAM, apalagi pidana.

(Baca juga: McDonald's Disegel Satpol PP, Netizen: Tidak Diproses seperti Habib Rizieq?)

“Pemanggilan Komnas HAM terhadap pimpinan KPK dan BKN ingin mengesankan seolah ada aspek pelanggaran HAM yang terjadi. Semestinya Komnas HAM meneliti dan menjelaskan dahulu ruang lingkup dan materi dimana ada dugaan pelanggaran HAM yang terjadi sebelum memanggil pimpinan KPK dan BKN,” ulasnya.

Aktivis HAM ini menganalogikan, jika ada mekanisme seleksi untuk pegawai Komnas HAM dan kemudian ada sebagian kecil yang tidak lulus apakah mereka bisa otomatis mengadu ke Komnas HAM. “Dan langsung diterima dengan mengkategorisasi sebagai pelanggaran HAM?,” tanya dia.

Dalam setiap pengaduan ke Komnas HAM diperlukan mekanisme penyaringan masalah dan prioritas yang memang benar-benar memiliki aspek pelanggaran HAM, agar Komnas HAM tidak dapat dengan mudah digunakan sebagai alat siapapun dengan interes apapun. Komnas HAM harus tetap dijaga dari mandat utamanya sesuai UU untuk mengutamakan menyelesaikan dan menangani kasus-kasus pelanggaran HAM berat (gross violation of Human Rights).

“Dalam persoalan alih status menjadi ASN dimanapun, sangat wajar jika Pemerintah menetapkan kriteria-kriteria tertentu sesuai amanat UU. Karena untuk menjadi calon pegawai negeripun memerlukan syarat-syarat tertentu termasuk melalui sejumlah test antara lain tentang kebangsaan,”bebernya.

Menurutnya, menjadi ironi ketika di berbagai instansi negara lainnya untuk menjadi calon ASN maupun menapaki jenjang kepangkatan harus melewati berbagai seleksi termasuk TWK, namun ada segelintir pegawai KPK yang tidak lulus (kurang dari 5,4%) yang menuntut diistimewakan.

“Dalam konteks seleksi ASN memang bisa saja pelanggaran terjadi misalnya seseorang tidak diluluskan (dicurangi/diskriminasi) atau karena tidak dipenuhi hak-haknya ketika diberhentikan dari pekerjaannya (pelanggaran HAM). Tapi tentu harus dibuktikan dengan data yang valid,” ujar Hendardi.

Oleh karena itu, sudah waktunya polemik dan manuver politik pihak yang tidak lulus TWK ini dihentikan karena tidak produktif dan tersedia mekanisme hukum PTUN untuk memperjuangkan aspirasi mereka.

“Demikian pula seyogyanya lembaga-lembaga seperti Komnas HAM dan lain sebagainya. tidak mudah terjebak untuk terseret dalam kasus yang kendati cepat populer tapi bukan merupakan bagian mandatnya dan membuang-buang waktu,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini