Menguak Rivalitas Soeharto 'The Smiling General' dengan Soekarno

Suhudmen, MNC Media · Kamis 10 Juni 2021 12:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 10 337 2422938 menguak-rivalitas-soeharto-the-smiling-general-dengan-soekarno-F1XJSrQeNZ.jpg Soekarno dan Soeharto. (Foto: Istimewa)

Namun pengaruh Soeharto sudah terlanjur kuat. 1966, MPRS menggelar sidang umum untuk meminta pertanggungjawaban Soekarno terhadap situasi negara yang dianggap tidak stabil kala itu. Pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno yang diberi judul "Nawaksara" ternyata tidak memuaskan MPRS sebagai pemberi mandat. Penolakan MPRS sekaligus menjadi pembuka jalan perpindahan tampuk kekuasaan.

Semenjak sidang umum MPRS 1966, kesan terjadinya dualisme kepemimpinan nasional antara Presiden Soekarno dan Soeharto semakin hebat. Dualisme ini sebenarnya tidak lebih dari insub-ordinasi Soeharto terhadap Presiden Soekarno. Apa pun yang diucapkan dan dilakukan presiden, tantangan sengit selalu datang dari militer yang sepenuhnya sudah dikendalikan oleh Jenderal Soeharto.

Awal februari 1967, Presiden Soekarno semakin kehilangan tajinya sementara Soeharto tinggal selangkah lagi menuju singgasana Istana. Melihat tak ada celah untuk menambal kekuatannya sebagai pemimpin besar revolusi, 22 Februari 1967 Soekarno menyerahkan kekuasaannya.

12 Maret 1967 melalui Sidang Istimewa, MPRS menarik mandat dari Spekarno sekaligus mengangkat Soeharto menjadi pejabat sementara presiden. Setahun kemudian tepatnya pada 27 Maret 1968, Soeharto secara resmi dilantik menjadi presiden kedua Republik Indonesia.

Kekuasaan Soeharto perlahan namun pasti dibangun dengan pondasi berbagai elemen. Menempatkan orang kepercayaan dalam sistem pemerintahan, mengekang para pembangkang dan menjauhkan pers dari kebebasan. Menghasilkan rezim dengan dua mata pedang, mendorong pembangunan sekaligus mempertahankan jalan kekuasaan.

Salah satu tonggak sejarah Republik Indonesia yang memiliki presiden sama hingga 30 tahun lamanya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini