5 Fakta Potensi Gempa Besar dan Tsunami, Tidak Hanya di Jatim

Tim Okezone, Okezone · Kamis 10 Juni 2021 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 09 337 2422655 5-fakta-potensi-gempa-besar-dan-tsunami-tidak-hanya-di-jatim-LeUiViiEqY.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono menegaskan, potensi gempa dengan kekuatan magnitudo besar dan menimbulkan tsunami tidak hanya terjadi di pesisir Jawa Timur.

Berikut sejumlah fakta yang dibeberkan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono terkait gempa bumi :

1. Jalur Tunjaman Sunda, Jatim Tak Sendirian

"Di jalur tunjaman Sunda, Jawa Timur tidak sendirian dan bukan satu-satunya daerah rawan gempa dan tsunami,” tegas Daryono.

Baca juga:  Waduh! Jalur Evakuasi Tsunami di Sejumlah Daerah Rusak Tertutup Sungai

Daryono mengatakan, potensi gempa besar yang bersumber di zona megathrust Sunda, hampir sama untuk semua wilayah baik Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, hingga Sumba, bukan Jatim saja.

2. Jateng, Jabar, dan Yogyakarta yang Paling Sering Dilanda Gempa

Kata Daryono, berdasarkan catatan sejarah bahwa Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat adalah wilayah yang justru paling sering dilanda gempa besar.

Baca juga:  Pesisir Wonogiri Diklaim Aman dari Tsunami, tapi Harus Waspada Gempa

“Catatan sejarah gempa besar Jawa akibat aktivitas subduksi lempeng membuktikan bahwa justru Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat adalah yang paling sering dilanda gempa besar,” kata Daryono.

 

3. BMKG Minta Masyarakat Jangan Panik

 

Daryono meminta masyarakat tidak perlu panik, terhadap model skenario terburuk adanya potensi gempa Magnitudo (M) 8,7 dan menyebabkan tsunami di pantai Jawa Timur hingga Selat Sunda.

“Gaduh tsunami Jatim, sebenarnya masyarakat tidak perlu panik karena model skenario terburuk itu dibuat untuk merancang mitigasi. Kapan terjadinya juga tidak ada yang tahu. Jadi respon mitigasi yang dinanti bukan kepanikan, potensi itu sama untuk semua wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Lombok hingga Sumba, bukan Jatim saja,” tegas Daryono.

4. BMKG Siapkan Skenario Terburuk

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, peta tersebut diterbitkan untuk menjelaskan potensi bahaya dan mitigasi yang dilakukan, agar bisa disimulasikan dari sisi terburuk demi menyelamatkan warga.

"Yang penting ada peta, zona yang akan terkena, yang berpotensi terdampak itu di mana, untuk berjaga-jaga," kata Dwikorita

Ia menambahkan, pada peta yang dibuat BMKG juga dijelaskan genangan tsunami sampai ke daratan berapa lama, dan berapa meter kegiatan. Namun, ia menegaskan hal itu bukan prediksi, melainkan skenario.

"Tapi itu bukan ramalan, bukan prediksi. Itu skenario, itu alat sarana untuk berjaga-jaga dan terburuk, artinya kalau buruk terjadi seperti itu, kemungkinan terbesar lebih ringan dari itu. Kenapa kita bersiapnya yang terburuk, kalau terburuk sudah siap terampil, yang ringan itu menjadi cekatan," ungkap Dwikorita.

5. Pentingnya Tata Ruang Bangunan di Daerah Rawan Gempa Tsunami


Kabid Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, peta mitigasi tsunami, termasuk berkaitan ketinggiannya yang dibuat BMKG diharapkan mampu menjadi pijakan pemerintah dan masyarakat, untuk membangun sejumlah infrastruktur di daerah rawan gempa dan tsunami.

"Kita hanya memfasilitasi sebuah skenario siapa tahu ke depan, akan ada infrastruktur yang dibangun di pantai (yang rawan tsunami), seperti Bandara Yogyakarta, misalnya. Itu dibuat dengan modelling, dibuat tingginya berapa di situ, supaya kita bisa menyiapkan bangunan yang tahan tsunami di atas itu," ucap Daryono.

Daryono juga menambahkan, tata ruang pantai yang berpotensi tinggi adanya tsunami juga tidak boleh dijadikan permukiman penduduk, supaya bila suatu ketika terjadi tsunami, tidak terjadi kerugian materiil yang besar. Jangan sampai pembangunan infrastruktur di daerah rawan bencana ini tak memperhatikan unsur mitigasi bencana yang ada.

"Kemudian kalau bicara tata ruang pantai, kita kan modeling tahu, yang daerah rendamannya tinggi (terdampak tsunami), tidak layak dijadikan permukiman, tidak layak untuk fasilitas umum yang tempat berkumpulnya orang banyak," tutur dia. 

Dirinya pun menegaskan, masyarakat di daerah - daerah yang rawan gempa seperti di pesisir selatan Pulau Jawa, untuk membuat bangunan rumah yang kuat dan kokoh dari terpaan gempa bumi.

"Kalau ingin selamat di daerah rawan gempa ya bangun rumah yang benar - benar strukturnya kuat, ada besi tulangannya bagus, semennya berkualitas, tidak asal batako, pasir kapur, tapi yang nggak mampu survived bangun saja dari kayu dan bambu, itu akan menjadikan keselamatan," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini