Mengenang 100 Tahun Soeharto, Fahri Hamzah: Pak Harto Tokoh Besar Mentransformasi Bangsa

Jonathan Nalom, MNC Media · Selasa 08 Juni 2021 14:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 08 337 2421899 mengenang-100-tahun-soeharto-fahri-hamzah-pak-harto-tokoh-besar-mentransformasi-bangsa-g9us5uW7g9.jpg Mantan Presiden RI kedua, Soeharto.(Foto:Dok Okezone)

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah turut mengenang sosok Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto, dalam rangka memperingati satu abad kelahiran Soeharto.

Berdasarkan cuitan akun Twitter pribadinya, Fahri Hamzah mengaku belum pernah berjumpa langsung. Namun, Fahri menilai Soeharto merupakan sosok dan tokoh yang mentransformasi bangsa.

"Hari ini tepat HUT Pak Harto ke #100TahunPakHarto . Saya tidak pernah jumpa beliau. Tapi saya pernah demonstrasi sampai beliau mundur 21 Mei 1998. Pak Harto adalah tokoh besar yg mentranformasi negara kita menjadi kekuatan yg disegani. Hari ini kita mengheningkan cipta," kata Fahri Hamzah, Selasa (8/6/2021).

Baca Juga: Jika Soeharto Raja Orde Baru, Maka Ali Moertopo adalah Patihnya

Menurutnya, perjalanan bangsa sebesar ini merupakan hasil jerih payah pendiri serta pejuang bangsa yang perlu dihargai,pun hal ini termasuk Soeharto sebagai Presiden Kedua RI. Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat untuk menghargai dan meneruskan jejak tokoh-tokoh tersebut.

"Apapun kesalahan mereka, manusia tidak ada yg sempurna. Tugas kita adalah menghargai dan meneruskan jejak langkah." lanjutnya

Fahri menilai semua kebijakan dan langkah yang diambil selama Soeharto menjabat membekas di masyarakat. Karenanya, mengingat hal tersebut merupakan monumen bagi bangsa.

"Pak Harto memimpin bangsa ini 30-an tahun lebih dengan segala kurang lebih. Terlalu banyak bekas yang beliau tinggalkan maka mengingatnya adalah monumen bagi memori kolektif bangsa." ujarnya

Lebih lanjut,Fahri juga menilai generasi penerus yang memaki kepemimpinan Soeharto merupakan bentuk ketidak adilan. Hal ini lantaran setiap masa kepemimpinan kerap menerima pujian.

"Pada masanya ketika berkuasa, setiap pemimpin menerima pujian. Kadang berlebihan. Maka, tidak adil baginya ketika tiada generasi setelahnya tidak memberikan penghargaan apalagi memaki.Kita harus melawan sikap tidak adil seperti ini kalau mau besar dan maju." pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini