Kisah Peperangan Kadipaten Madiun & Mataram Berujung Percintaan

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 08 Juni 2021 06:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 08 337 2421682 kisah-peperangan-kadipaten-madiun-mataram-berujung-percintaan-5RzI7grOQx.jpg Ilustrasi (Foto : Youtube-Dongeng Kita)

PANEMBAHAN Madiyun mempunyai dua putra, yang sulung bernama Ajeng Retna Dumilah, seorang wanita yang cantik jelita. Yang muda bernama Raden Lontang. Sesudah menginjak dewasa, Raden Ajeng Retna Dumilah semakin nampak kecantikannya, terkenal sampai ke luar Kadipaten Madiyun.

Kisah tersebut tertuang dalam "Cerita Rakyat Jawa Timur ", terbitan Departemen Kependidikan dan Kebudayaan diceritakan tentang penaklukan Madiun oleh Kerajaan Mataram Islam.

Saat itu, Demak mulai suram dan Pajang timbul. Pajang Goncang. Arya Penangsang memberontak, dan berhasil dibunuh oleh Sutawijaya. Pajang semakin suram, dan wahyu kerajaan sudah ber­geser dari Pajang ke Mataram, Sutawijaya yang bergelar Ngabei Loring Pasar, memerintah Mataram. Semua bupati telah takluk kepada Mataram.

Tetapi pada waktu itu, Kadipaten Madiyun tidak takluk kepada Mataram, karena masih membela kematian Arya Penangsang. Adipati Jipang masih berkerabat dengan Panembahan Madiyun yang telah bergelar Panembahan Rangga Jumena.

Danang Sutawijaya merasa diremehkan oleh Panembahan Rangga Jumena di Madiun. Oleh sebab itu ia mengerahkan bala tentaranya untuk memukul Kadipaten Madiyun.

Ki Juru Martani menyarankan agar Mataram berhati–hati, sebab pada waktu itu Madiyun mempunyai keris yang sakti, yang amat ampuh, yakni keris Tundung Mediyun. Adapun syarat untuk mengatasinya harus menggunakan daya upaya yang amat rumit, dan amat halus supaya tidak terlalu jelas kelihatan.

Oleh karena itu Mataram lalu mengirimkan Nyai Ria Adisara yakni bibi putri Pembayun, dari Ki Ageng Mangir Wanabaya. Nyai Riya Adisara diutus mempersembahkan bunga setaman, sebagai upaya untuk mencuci kaki Panembahan Madiyun.

Hal ini hanya merupakan alat saja, supaya dapat menang melawan Madiyun yang telah mempunyai senjata pusaka andalan yang ampuh, Tundung Mediyun. Mengalah terlebih dulu dengan tujuan akhir untuk mendapatkan kemenangan.

Baca Juga : Humor Gus Dur: Ketika Presiden Tidak Dikenal Staf Menteri Agama

Panembahan Senapati setelah mendengar kata–kata Ki Juru Martani tadi, dapat memahami. Akhirnya Nyai Riya Adisara yang sudah termashur kecantikannya itu dipanggil sang Raja. Nyai Riya Adisara lalu disuruh ke Madiyun. Semua persiapan segera dipersiapkan .

Di samping daya upaya ini, petugas–petugas sandi segera di kerahkan dan disebar­kan. Petugas–petugas sandi pilihan semua telah siap secara tersembunyi, mengepung Kadipaten Madiyun dalam bentuk tapal kuda.

Prajurit-prajurit sandi ini masih ditopang oleh para prajurit lain yang siap–siap di luar kota Kadipaten Madiyun, Nyai Riya Adisara dengan dikawal oleh prajurit yang jumlahnya amat sedikit, menghadap Panembahan Madiyun.

Ketika rombongan dari Mataram sampai di Madiyun, mulanya Panembahan Rangga Jumena agak curiga dan tidak percaya akan utusan Mataram tersebut. Tetapi setelah menyaksikan sang cantik jelita Riya Adisara yang membawa segala macam persembahan dan bunga setaman, lalu timbullah kepercayaan beliau pada utusan Mataram tersebut.

Dengan kata–kata manis dan merdu Raden Ayu Riya Adisara berdatang sembah pada Panembahan Madiyun yang menyatakan bahwa dia utusan dari Mataram. Bokor kencana yang berisi kembang setaman untuk mencuci kaki sang Panembahan dipersembahkannya, dan ia pribadi yang mencuci kaki sang Panembahan.

Setelah upacara selesai Raden Ayu Riya Adisara lalu mohon pamit kembali ke Mataram , dan membawa sisa–sisa air pada bokor kencana, yakni yang berisi kembang setaman bekas untuk mencuci kaki sang Panembahan.

Air tersebut dikatakan Raden Ayu Riya Adisara, akan dipakai untuk mencuci rambut Panembahan Senapati di Mataram. Dengan tanpa curiga dan perasaan apapun Panembahan Madiyun melepaskan kepergian utusan Mataram tersebut. Sang Raden Ayu Riya Adisara yang hanya dikawal oleh beberapa prajurit saja, pulang ke Mataram.

Setelah Riya Adisara meninggalkan Kadipaten Madiyun, prajurit Mataram yang sudah mengepung kota Madiyun, maju dengan serentak dari segala penjuru, memukul Madiun yang pada saat itu sama sekali tidak siap untuk berperang.

Serangan yang sangat tiba–tiba itu menyebabkan Madiun menjadi kacau balau. Prajurit–prajurit terpaksa bertempur tanpa adanya persiapan. Meskipun demikian Madiyun masih memberikan perlawanan dengan gigih. Mataram maju bagaikan air bah yang tak dapat dibendung lagi. Akhirnya pertahanan Madiyun jebol.

Betapa terkejutnya Panembahan Rangga Jumena, mendengar laporan para prajurit bahwa Mataram dengan tiba–tiba menyerang kota. Beliau sangat kecewa dan malu. Batinnya sangat menderita mengapa Madiun dapat kebobolan. Panembahan merasa sangat dikhianati oleh Mataram dan mengapa ia terpikat oleh Adisara, wanita yang cantik jelita.

Pada waktu itu juga Panembahan memanggil putrinya Raden Ayu Retna Dumilah. Pusaka keris Tundung Mediyun segera diserahkan pada putrinya dengan pesan, supaya membasmi dan menumpas siapa saja yang berani menembus Kadipaten Madiyun.

Setelah menyerahkan keris pusaka dan memberikan wejangan-wejangan terakhir, Panembahan Madiyun keluar dari dalam Kadipaten melewati pintu belakang. Rupanya sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, pada saat itu juga Panembahan Rangga Jumena jadi gaib, lenyap tanpa bekas sama sekali.

Terceriteralah Dewi Retna Dumilah yang sudah disertai keris pusaka yang sakti Tundung Mediyun dan pesan ayahnya yang demikian penting, lalu mengumpulkan para wanita di Madiun. Mereka dilantik jadi prajurit–prajurit wanita yang akan menjadi benteng terakhir pertahanan Kadipaten Madiyun.

Prajurit Mataram yang dipimpin oleh Penembahan Senapati pribadi segera maju menyerbu ke dalam kadipaten. Menyaksikan adanya laskar wanita yang dipimpin Raden Ayu Retna Dumilah tersebut sang Panembahan Senapati merasa sangat terhina.

Tetapi Ki Juru Martani lalu mengingatkan apa yang pernah dikatakan di Mataram sudilah sang Panembahan merayu Dyah Ayu Retna Dumilah.

Sang Panembahan Senapati menyetujui usul tersebut, lalu mulailah ia merayu Retna Dumilah. Terkena rayuan itu Retna Dumilah tubuhnya lemas tak berdaya, keris Tundung Mediyun tanpa disadari terlepas dari tangannya. Secepat kilat sang Panembahan merebut keris pusaka tersebut.

Selanjutnya sang Dyah Ayu Retna Dumilah lalu diboyong ke dan menjadi istri Panembahan Senapati. Sejak itu Madiyun menjadi bagian kerajaan Mataram.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini