Positivity Rate dan Angka Kematian Covid-19 Jadi Acuan Pembelajaran Tatap Muka

Widya Michella, MNC Media · Selasa 08 Juni 2021 05:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 08 337 2421668 positivity-rate-dan-angka-kematian-covid-19-jadi-acuan-pembelajaran-tatap-muka-uUfUIfKS4c.jpg Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Koordinator Relawan Covid 19, Erlina Ciptadi menyebut sekolah aman di buka untuk siswa dengan melihat angka positivity rate dan tingkat kematian di sebuah daerah. Untuk tingkat positivity rate harus dibawah 5% dan tingkat kematian berada di angka 1%.

"Kalau bapak dan ibu mengajar sekolah di Surabaya misalnya, positivity rate sebesar 0,8%, bagi kami aman terkendali karena jumlah kasus sedikit, jumlah kasus yang meninggal setiap hari hampir tidak ada, kapasitas tes dan tracing mereka cukup memadai, Tapi kalau di kota-kota lain bisa jadi belum memenuhi syarat,"kata Erlina dalam Webinar dengan tema "Kelayakan PTM terbatas di tahun ajaran baru 2021" pada Senin,(07/06/2021).

Kemudian ia mencontohkan beberapa sekolah yang hanya perlu satu orang abai protokol hingga sekolah jadi tidak aman. "hanya perlu satu orang abai untuk menulari sekitarnya sehingga sekolah itu bisa jadi cluster penularan kemudian orang yang tertular membawa virus kerumah dan menulari orang di rumah,"kata Erlina.

Misalnya seperti sekolah berasrama di Jakarta dan SMP Pekalongan. Pertama, sekolah berasrama di Jakarta memiliki 1 staf yang bergejala setelah liburan akhir tahun.

Setelah dites positif covid dan menulari beberapa staf pengajar, pengasuh dan beberapa murid lain dengan total 79 kasus. Ketika sekolah ingin mengadakan tes PCR, namun di Puskesmas terdekat hanya bisa tes 8 orang/hari.

"Jakarta seharusnya tidak kesulitan dengan kapasitas tes. Akhirnya mereka Galang dana untuk bisa mentes semua orang, kemudian setelah masa isolasi mereka tes semuanya,"kata Erlina.

Kedua, SMP di pekalongan di mana satu guru telah kehilangan indera penciuman dan tetap mengajar PJJ karena tidak ingin kehilangan tunjangannya. Sehingga menulari puluhan guru dan staf lain dengan total kasus 37 orang.

"Akhirnya sekolahnya ditutup total untuk memudahkan tes dan karantina beberapa staf menolak diisolasi. Karena berimplikasi ke tunjangan, kalau mereka tidak datang absen itu ada faktor tunjangan yang dipotong,"papar Erlina.

Oleh karena itu ia meminta agar sekolah, pemerintah dan orang tua dapat bekerjasama mematuhi Protokol Kesehatan.

"Jadi kunci pembuka sekolah kami setuju dengan Bu Retno dan disbud itu sekolah pemerintah dan sekolah itu harus bekerjasama. Untuk sekolah harus melengkapi daftar periksa, pendidik tervaksinasi lengkap, tatap muka terbatas dual moda, rotasi dan ada protokol dan satgas covid,"jelasnya

Di sisi lain pemerintah, lanjut Erlina juga harus mengawasi tindakan sekolah yang melanggar protokol, memiliki aturan yang jelas jika sekolah perlu menutup kembali bila ada penularan serta kapasitas tesnya tercukupi.

"Tracing harus berjalan dengan baik dan datanya harus di sampaikan secara transparan kepad apublik karena bagi guru, orang tua murid dan murid, kita berhak tau kondisi penanganan pandemi di daerah kita itu seperti apa. Sehingga kita bisa membuat keputusan yang lebih baik mengenai kegiatan apa yang aman dan tidak aman"ucapnya.

Kemudian orang tua dapat mengijinkan anaknya kembali ke sekolah atau tidak mengijinkan tatap muka terlebih dahulu, harus memberikan contoh mengajarkan protokol yang benar dan juga perlu membantu pelaksanaan protokol di sekolah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini