5 Fakta Pembelajaran Tatap Muka, Apa Sudah Aman?

Tim Okezone, Okezone · Selasa 08 Juni 2021 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 337 2421625 5-fakta-pembelajaran-tatap-muka-apa-sudah-aman-sG3O5Fv7WV.jpeg Sekolah tatap muka di masa pandemi. (Foto: Ilustrasi/Dok Okezone)

JAKARTA - Pembelajaran tatap muka (PTM) akan dimulai Juli 2021. Sejumlah panduan dikeluarkan dan aturan ketat diterapkan, meningat saat ini masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

Rencana ini tentu menjadi angin segar bagi para siswa-siswi yang sudah menjalani pembelajaran online sejak awal 2020. Berikut sejumlah fakta terkait PTM, termasuk cara pemerintah menjaga keamanan guru dan siswa.

1. Wanti-Wanti Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan wanti-wanti terkait pelaksaan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. 

Disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Jokowi mengingatkan bahwa PTM harus dilakukan secara terbatas dan ekstra hati-hati. 

Budi menjelaskan, PTM terbatas mewajibkan sekolah hanya membolehkan maksimal 25 persen siswa yang masuk. Kemudian kegiatan PTM tidak boleh dari dua hari dalam sepekan. Lalu pelaksanaan PTM maksimal hanya boleh dua jam.

Baca juga: Jokowi: Sekolah Tatap Muka Hanya 2 Hari Sepekan, Tak Boleh Lebih 2 Jam Sehari

"Hanya boleh maksimal 25 persen dari murid yang hadir. Tidak boleh lebih dari dua hari seminggu, jadi seminggu hanya dua hari. Kemudian setiap hari maksimal hanya dua jam. Opsi untuk menghadirkan anak adalah ditentukan orang tua," tutur Budi.  

2. 79,54 Persen Sekolah Siap

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, mengatakan, ada peningkatan dalam hasil pengawasan terhadap uji coba pembelajaran tatap muka dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Pada tahun ini, KPAI melakukan pengawasan pembelajaran tatap muka terhadap 42 sekolah dan madrasah di 12 kabupaten/kota pada 7 provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Hasilnya, 79,54 persen sekolah yang diawasi siap menggelar pembelajaran tatap muka di masa pandemi 2021. 

Hasil pengawasan di tahun 2021 terkait pembelajaran tatap muka, ada peningkatan dibanding pada 2020. Kata Retno, hasil pengawasan di tahun 2020 itu hanya 16,7 persen sekolah yang siap pembelajaran tatap muka pada masa pandemi berdasarkan daftar periksa yang dimiliki oleh KPAI. Pengawasan pada tahun 2020 dilakukan di 49 sekolah pada 21 kabupaten/kota di 9 provinsi.

Baca juga: Anies Bolehkan Pembelajaran Tatap Muka secara Bertahap

3. Semua Guru Harus Divaksin

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengimbau pemerintah daerah memberikan prioritas guru untuk disuntik vaksin Covid-19. Pasalnya, sekolah tatap muka sebentar lagi akan segera dimulai.

Selain guru, Budi juga mengingatkan pemda untuk memprioritaskan vaksinasi kepada lansia agar menekan keterisian rumah sakit dan menekan angka kematian.

"Mohon bantuan juga ke kepala daerah, prioritaskan guru dan lansia dan terutama guru-guru harus sudah divaksinasi sebelum tatap muka terbatas," kata Budi di Istana Negara, Jakarta, Senin (7/6). 

4. Instrumen yang Harus Disiapkan

Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil, Jasra Putra menilai adanya kebijakan untuk melakukan pembelajaran tatap muka di masa pandemi diperlukan sinergitas antar semua instrumen. 

"Di SKB itukan diperlukan 5 pemetaan, jadi artinya daerah siap,infrastruktur siap, orang tua siap, guru siap dan siswa siap,” ujarnya, Minggu (5/6). 

Adapun menurutnya instrumen tersebut diutamakan kepada siswa-siswa yang akan melakukan pembelajaran tatap muka. Hal ini lantaran pihaknya menilai siswa belum menjadi bagian dari pengurangan penyebaran virus. 

Menurutnya juga tingkat kemauan siswa untuk melakukan pembelajaran tatap muka sangat tinggi. Oleh sebab itu instrumen siswa perlu ditekankan menjadi bagian pengurangan virus.

4. Sudah Amankah?

Meskipun banyak yang mendukung, tetap saja ada kekhawatiran munculnya klaster sekolah saat PTM diterapkan.

Lantas, apakah ketakutan akan munculnya klaster Covid-19 di sekolah besar risikonya? 

Diterangkan Dokter Spesialis Anak Primaya Hospital Bekasi Timur, dr Tuty Mariana, Sp.A, hingga saat ini belum diketahui pasti risiko infeksi Covid-19 pada anak-anak. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun menyatakan bahwa dari jumlah total penderita Covid-19 di seluruh dunia, sebanyak 8,5 persen merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. 

"Angka kematiannya pun lebih sedikit dan biasanya gejala yang muncul pada pasien anak lebih ringan. Namun, tetap ada laporan pasien anak-anak yang kritis," terangnya dalam laporan terbaru yang diterima MNC Portal, Senin (7/6).

Ia melanjutkan, sejumlah penelitian terbatas pernah dilakukan di sejumlah negara terkait kasus Covid-19 pada anak dan didapati risiko anak tertular Covid-19 itu lebih kecil ketimbang orang dewasa. Anak yang diteliti antara lain berumur di bawah 18 tahun, 15 tahun, dan 9 tahun.

Namun, berbeda dengan anak usia di bawah 1 tahun, mereka diketahui memiliki risiko terpapar Covid-19 lebih besar. Menurut dr Tuty, itu karena sistem kekebalan anak di bawah 1 tahun masih sangat lemah.

Hal lain yang disorot dr Tuty adalah peran anak dalam menyebarkan virus, menurutnya, berdasar data WHO, peran anak-anak dalam penularan Covid-19 secara umum belum sepenuhnya dipahami.

Data studi awal pun menunjukkan bahwa tingkat penularan di kalangan remaja lebih tinggi dibandingkan pada usia anak yang lebih muda.

"Yang pasti, kesadaran anak untuk menerapkan prokes di mana pun dia berada, termasuk di lingkungan sekolah, secara umum lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peran anak dalam penularan Covid-19 di sekolah," tambah dr Tuty.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini